Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Nasional

Kilas Sejarah Mudik Lebaran Indonesia, Tradisi Pulang Kampung yang Sarat Makna

×

Kilas Sejarah Mudik Lebaran Indonesia, Tradisi Pulang Kampung yang Sarat Makna

Sebarkan artikel ini
pemudik melakukan perjalanan mudik lebaran di jalur transportasi indonesia
ILUSTRASI MUDIK — Pemudik melakukan perjalanan pulang kampung menjelang Idulfitri di jalur transportasi utama Indonesia. Tradisi mudik menjadi momen berkumpul bersama keluarga saat Lebaran. (foto/ilustrasi jamlima.com)

JAMLIMA.COM, JAKARTA — Tradisi mudik menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia menjelang Idulfitri.

Setiap tahun, jutaan perantau pulang ke kampung halaman untuk merayakan Lebaran bersama keluarga.

Para perantau rela menempuh perjalanan jauh meski harus menghadapi kemacetan panjang.

Mereka pulang untuk bertemu orang tua, saudara, dan kerabat setelah lama bekerja di kota.

Arus mudik bahkan menjadi salah satu mobilitas penduduk terbesar di Indonesia setiap tahun.

Selain memadati jalur transportasi, perpindahan masyarakat dari kota ke daerah juga mendorong aktivitas ekonomi di berbagai wilayah tujuan.

Namun, di balik tradisi tersebut, istilah mudik memiliki sejarah panjang dalam bahasa dan budaya Nusantara.


Baca juga: Menhub Dudy Ajak Masyarakat Manfaatkan Program Mudik Gratis Lebaran 2026


Asal Kata Mudik

Istilah mudik berasal dari kata “udik” yang merujuk pada wilayah pedalaman atau desa.

Dalam buku Potret Buram Politik Kekuasaan karya Masduki Duryat, istilah tersebut pernah digunakan dalam bentuk “meudik.”

Seiring perkembangan bahasa, pengucapan kata itu berubah menjadi mudik agar lebih mudah digunakan masyarakat.

Dalam bahasa Minangkabau, mudik juga berarti bergerak menuju hulu sungai atau kembali ke daerah asal.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), mudik berarti pergi ke udik atau menuju daerah pedalaman.

Pada masa lalu, istilah ini menggambarkan perjalanan dari wilayah pesisir menuju daerah hulu melalui jalur sungai.

Sebagian masyarakat juga mengaitkan kata mudik dengan bahasa Jawa “mulih dilik,” yang berarti pulang sebentar.

Populer Saat Urbanisasi

Antropolog Universitas Gadjah Mada, Heddy Shri Ahimsa Putra, menjelaskan bahwa tradisi mudik mulai populer sekitar tahun 1970-an.

Saat itu, urbanisasi meningkat pesat. Banyak masyarakat desa pindah ke kota untuk mencari pekerjaan dan meningkatkan taraf hidup.

Kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, dan Medan menjadi tujuan utama para perantau.

Meski tinggal di kota, para pekerja tetap memiliki ikatan kuat dengan kampung halaman.

Karena itu, ketika libur panjang Idulfitri tiba, mereka pulang untuk berkumpul bersama keluarga.

Kebiasaan tersebut kemudian berkembang menjadi tradisi tahunan yang dikenal sebagai mudik Lebaran.


Baca juga: BMKG Prediksi Hujan Warnai Mudik Lebaran Sulsel, Ini Daftar Wilayahnya!


Sejarah Tradisi Mudik

Tradisi pulang kampung sebenarnya sudah ada sejak masa kerajaan di Nusantara.

Pada era kerajaan Hindu-Buddha, banyak orang merantau untuk berdagang atau bekerja di pusat perdagangan.

Ketika perayaan keagamaan tiba, mereka pulang ke desa untuk bertemu keluarga.

Kebiasaan tersebut berlanjut pada masa kolonial Belanda. Banyak masyarakat desa bekerja di kota sebagai buruh atau pekerja kontrak, lalu pulang kampung saat mendapat libur panjang.

Tradisi tersebut terus bertahan hingga sekarang dan menjadi bagian dari budaya masyarakat Indonesia.

Makna Sosial Mudik

Mudik tidak hanya sekadar perjalanan pulang kampung. Tradisi ini memiliki makna sosial yang kuat bagi masyarakat Indonesia.

Para perantau memanfaatkan momen mudik untuk bertemu keluarga, melepas rindu, dan mempererat silaturahmi.

Selain itu, arus mudik juga mendorong aktivitas ekonomi di daerah. Sektor perdagangan, transportasi, dan kuliner biasanya mengalami peningkatan selama musim mudik.

Banyak keluarga juga memanfaatkan momen Lebaran untuk berziarah ke makam leluhur serta berkumpul bersama keluarga besar.

Karena itu, mudik tidak sekadar mobilitas tahunan. Tradisi ini menjadi simbol kebersamaan dan penghormatan terhadap keluarga serta kampung halaman.


Example 468x60
Example 300250