Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Entertainment

Sempat Vakum, FFI 2025 Tegaskan Kebangkitan Sinema Nasional

×

Sempat Vakum, FFI 2025 Tegaskan Kebangkitan Sinema Nasional

Sebarkan artikel ini
Sempat vakum, FFI 2025 kembali digelar sebagai penanda kebangkitan sinema nasional.
FFI 2025 - Suasana karpet merah Malam Anugerah Piala Citra Festival Film Indonesia 2025 di Teater Jakarta, Jakarta Pusat. Setelah sempat vakum, FFI kembali digelar dan menegaskan kebangkitan sinema nasional. (foto/thread jamlima.com)

JAMLIMA.COM, JAKARTAFestival Film Indonesia (FFI) 2025 mencapai puncaknya lewat Malam Anugerah Piala Citra yang berlangsung Kamis, 20 November 2025. Panitia menggelar acara tersebut di Teater Jakarta, Jakarta Pusat, sebagai ajang penghargaan tertinggi bagi insan perfilman nasional.

Pada penyelenggaraan tahun ini, FFI 2025 mengusung tema “Puspawarna Sinema Indonesia”. Melalui tema itu, penyelenggara menonjolkan keberagaman ekspresi, perspektif, dan latar budaya dalam karya film Tanah Air. Keragaman tersebut tampak pada film-film nominasi yang hadir dengan berbagai genre, pendekatan artistik, serta latar produksi dari banyak daerah di Indonesia.

Secara berurutan, panitia membuka rangkaian FFI 2025 dengan peluncuran festival pada 1 Juli 2025. Setelah itu, panitia membuka pendaftaran karya dan kritik film pada 1–31 Agustus 2025. Usai masa pendaftaran, ratusan film langsung memasuki tahap seleksi dan penjurian awal.

Selanjutnya, panitia mengumumkan nominasi Piala Citra pada 19 Oktober 2025 sebagai bagian dari tahapan akhir penilaian. Pada akhirnya, seluruh rangkaian kegiatan mencapai puncak pada Malam Anugerah Piala Citra.

Di luar malam puncak, FFI 2025 juga menghadirkan berbagai kegiatan pendukung. Panitia menggelar red carpet dan walk-of-fame, menyelenggarakan talkshow serta program komunitas film di sejumlah daerah, serta memutar film-film nominasi agar publik lebih dekat dengan karya terbaik insan perfilman nasional.

Pada malam puncak, Piala Citra menjadi simbol apresiasi bagi sutradara, aktor, aktris, penulis skenario, dan pekerja teknis film. FFI 2025 mempertandingkan sejumlah kategori utama, mulai dari Film Cerita Panjang Terbaik, Sutradara Terbaik, Pemeran Utama Pria dan Perempuan Terbaik, hingga kategori teknis seperti sinematografi, penyuntingan gambar, penata suara, musik, dan efek visual.

Selain kategori utama, panitia FFI 2025 juga memberikan Penghargaan Seumur Hidup kepada tokoh-tokoh yang berperan besar dalam perjalanan dan perkembangan sinema Indonesia.

Masa Vakum Festival Film Indonesia

Sebagai catatan sejarah, FFI pernah mengalami masa vakum selama 12 tahun, yakni sejak 1993 hingga 2003. Pada periode tersebut, industri film nasional mengalami kelesuan sehingga produksi film menurun dan minat pasar melemah.

Namun, para pemangku kepentingan kembali menghidupkan FFI pada tahun 2004. Sejak kebangkitan itu, FFI terus berkembang dan kembali menegaskan perannya sebagai barometer kualitas serta ruang apresiasi tertinggi bagi karya film Indonesia.

Dalam tradisinya, FFI menempatkan Piala Citra sebagai simbol penghargaan tertinggi. Nama “Citra” berasal dari judul sajak karya Usmar Ismail pada tahun 1943 dan merepresentasikan pencapaian prestasi tertinggi di bidang perfilman nasional.

Selain Piala Citra, FFI juga pernah menghadirkan Piala Vidia. Panitia memberikan penghargaan tersebut khusus untuk kategori film televisi sejak 1986 hingga 2014, sebelum memisahkannya dari ajang utama Festival Film Indonesia.

Sistem Penjurian Berlapis

Untuk menjaga mutu penilaian, FFI 2025 menerapkan sistem penjurian berlapis dengan melibatkan ratusan juri lintas profesi, termasuk anggota Akademi Citra. Panitia menjalankan penilaian dalam dua tahap, dimulai dari seleksi awal berbasis keahlian teknis hingga penilaian akhir untuk menentukan pemenang.

Selain itu, akuntan publik mengawasi seluruh proses penjurian sehingga panitia dapat menjaga objektivitas dan transparansi.

Daftar Pemenang Piala Citra FFI 2025

🏆 Kategori Utama

  • Film Cerita Panjang Terbaik: Pangku
  • Sutradara Terbaik: Yandy Laurens (Sore: Istri dari Masa Depan)
  • Pemeran Utama Pria Terbaik: Ringgo Agus Rahman (Panggil Aku Ayah)
  • Pemeran Utama Perempuan Terbaik: Sheila Dara Aisha (Sore: Istri dari Masa Depan)
  • Pemeran Pendukung Pria Terbaik: Omara Esteghlal (Pengepungan di Bukit Duri)
  • Pemeran Pendukung Perempuan Terbaik: Christine Hakim (Pangku)

✍️ Penulisan & Teknik

  • Skenario Asli Terbaik: Reza Rahadian & Felix K. Nesi (Pangku)
  • Skenario Adaptasi Terbaik: Widya Arifianti & Sabrina Rochelle Kalangie (Home Sweet Loan)
  • Sinematografi Terbaik: Ical Tanjung (Pengepungan di Bukit Duri)
  • Penyuntingan Gambar Terbaik: Hendra Adhi Susanto (Sore: Istri dari Masa Depan)
  • Penata Artistik Terbaik: Eros Eflin (Pangku)
  • Penata Musik Terbaik: Aghi Narottama (Pengepungan di Bukit Duri)
  • Penata Suara Terbaik: Ridho Fachri & Indrasetno Vyatrantra (Home Sweet Loan)
  • Pencipta Lagu Tema Terbaik: Gerald Situmorang, Iga Massardi & Asteriska
  • Penata Busana Terbaik: Victoria Esti Wahyuni (The Shadow Strays)
  • Penata Rias Terbaik: Novie Ariyanti (Pengepungan di Bukit Duri)
  • Efek Visual Terbaik: Tim VFX Pengepungan di Bukit Duri

🎬 Kategori Film & Lainnya

  • Film Animasi Panjang Terbaik: Jumbo
  • Film Animasi Pendek Terbaik: So I Pray
  • Film Dokumenter Panjang Terbaik: Tambang Emas Ra Ritek
  • Film Dokumenter Pendek Terbaik: Sie
  • Film Cerita Pendek Terbaik: Sammi, Who Can Detach His Body Parts

🏅 Penghargaan Khusus

  • Penghargaan Seumur Hidup: El Manik, Franki Raden, Hendrick Gozali
  • Film Pilihan Penonton: Rangga & Cinta
  • Aktor Pilihan Penonton: El Putra Sarira
  • Aktris Pilihan Penonton: Leya Princy

Film Pengepungan di Bukit Duri tampil sebagai salah satu pemenang besar dengan lima Piala Citra, terutama di kategori teknis. Sementara Pangku serta Sore: Istri dari Masa Depan sama-sama mencuri perhatian melalui kemenangan di kategori utama dan penulisan.

Malam Anugerah Piala Citra FFI 2025 menegaskan peran Festival Film Indonesia sebagai barometer mutu dan ruang apresiasi tertinggi bagi karya sinema nasional, sekaligus mencerminkan kebangkitan dan profesionalisme industri film Indonesia yang semakin matang dan beragam.

 

Example 468x60
Example 300250
Example 728x250