Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Teknologi

Terhitung 10 Desember 2025, Australia Negara Pertama Melarang Anak Bawah 16 Tahun Akses Medsos

×

Terhitung 10 Desember 2025, Australia Negara Pertama Melarang Anak Bawah 16 Tahun Akses Medsos

Sebarkan artikel ini
(foto/prespektif)

JAMLIMA.COM – Terhitung 10 Desember 2025, Australia secara resmi melarang anak-anak di bawah 16 tahun mengakses media sosial.

Walaupun di balik kebijakan kontroversial ini, masalah mendasar terabaikan yakni mayoritas siswa Australia tak pernah mendapatkan pendidikan melek media yang memadai.

Kebijakan larangan media sosial Australia mencerminkan pendekatan teknokratis terhadap masalah yang kompleks.

Implementasi kebijakan bersejarah ini menuai kontroversial di Australia.

UU Amandemen Keselamatan Online (Usia Minimum Media Sosial) 2024 mulai berlaku.

Larangan penggunaan platform seperti Facebook, Instagram, TikTok, YouTube, X (Twitter), Snapchat, dan Reddit berlaku bagi pengguna di bawah 16 tahun.

Jika melanggar berpotensi kena denda hingga 49,5 juta dolar Australia atau sekitar Rp512 miliar.

Australia menjadi negara pertama di dunia yang menerapkan restriksi usia media sosial secara komprehensif.

Haidt, profesor dari New York University, berargumentasi bahwa peralihan dari “masa kecil berbasis bermain” ke “masa kecil berbasis ponsel” antara 2010-2015 menyebabkan lonjakan masalah kesehatan mental remaja.

Di dalam bukunya ia menunjukkan peningkatan drastis sebesar 134% kasus kecemasan dan 106% depresi pada remaja AS antara Tahun 2010 hingga 2018.

Data tersebut mendukung Australia kekhawatiran ini, angka rawat inap kesehatan mental remaja meningkat signifikan antara Tahun 2010 hingga 2020, saat sebelum pandemi COVID-19.

Perdana Menteri Anthony Albanese menyebut media sosial “momok” dan mendapat dukungan dari semua pemerintah negara bagian dan teritori.

Sementara itu, Profesor Candice Odgers dari University of California, Irvine, dalam ulasannya di jurnal Nature, mengkritik buku Haidt tersebut.

Odgers berargumen, bahwa sebagian besar bukti empiris tentang media sosial dan kesehatan mental tidak menemukan efek yang besar atau konsisten secara negatif.

Ia menyarankan korelasi antara peningkatan penggunaan media sosial dan masalah kesehatan mental mungkin mencerminkan sebab-akibat.

“Saran berulang buku ini bahwa teknologi digital sedang me-rewiring otak anak-anak kita dan menyebabkan epidemi penyakit mental tidak didukung oleh ilmu pengetahuan,” tulis Odgers.

“Lebih buruk lagi, proposal berani bahwa media sosial yang harus disalahkan mungkin mengalihkan kita dari merespons secara efektif penyebab sebenarnya dari krisis kesehatan mental saat ini pada anak muda.” ujarnya.

David Wallace-Wells dari The New York Times juga mencatat bahwa tren kesehatan mental remaja bervariasi antar-negara.

Meski Ia mengakui pengaruh Haidt dalam membentuk narasi tentang media sosial dan kesehatan mental, ia menekankan tren kesehatan mental remaja dan perlu ditafsirkan secara hati-hati.

Wallace-Wells secara khusus mempersoalkan interpretasi Haidt tentang peningkatan kunjungan ruang gawat darurat untuk menyakiti diri sendiri.

Hal tersebut karena perubahan pedoman skrining kesehatan mental pada Tahun 2011 dan pencatatan intensionalitas cedera pada Tahun 2015, juga dapat menjelaskan peningkatan tersebut. (*)

Example 468x60
Example 300250