Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
NasionalSehat

Virus Nipah Mematikan 75 Persen, Kemenkes Siagakan Indonesia Lewat Edaran Kewaspadaan

×

Virus Nipah Mematikan 75 Persen, Kemenkes Siagakan Indonesia Lewat Edaran Kewaspadaan

Sebarkan artikel ini
kelelawar buah dengan partikel virus nipah sebagai sumber penularan penyakit zoonotik
NIPAH — kelelawar buah sebagai reservoir alami Virus Nipah dengan visual partikel virus di sekitarnya, menggambarkan potensi penularan penyakit zoonotik yang perlu diwaspadai. (foto/ilustrasi)

JAMLIMA.COM, SEHAT — Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia bergerak cepat merespons munculnya kembali kasus Virus Nipah di India.

Pemerintah menerbitkan Surat Edaran Nomor HK.02.02/C/445/2026 sebagai langkah kewaspadaan nasional agar potensi penularan tidak masuk dan berkembang di dalam negeri.

Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit Kemenkes, Murti Utami, memastikan hingga kini belum terdapat laporan kasus konfirmasi pada manusia di Indonesia.

Namun ia menilai kewaspadaan tetap perlu ditingkatkan karena Indonesia berada dekat secara geografis.

Selain itu Indonesia memiliki mobilitas tinggi dengan negara-negara yang pernah mengalami kejadian luar biasa.

Kemenkes juga mencatat temuan ilmiah di dalam negeri. Sejumlah penelitian menunjukkan bukti serologis dan deteksi virus pada kelelawar buah (Pteropus sp.) sebagai reservoir alami.

Temuan ini menandakan potensi sumber penularan sudah ada di lingkungan satwa liar, sehingga pencegahan tidak bisa menunggu munculnya kasus pertama.

Virus Nipah termasuk penyakit zoonotik emerging dengan tingkat kematian tinggi, berkisar 40 hingga 75 persen.

Virus ini menular dari hewan ke manusia melalui kontak langsung dengan kelelawar buah.

Termasuk hewan perantara seperti babi, maupun makanan dan minuman yang terkontaminasi.

Angka fatalitas tersebut menempatkan Nipah sebagai salah satu penyakit infeksi yang berisiko serius jika tidak ditangani cepat.


Baca juga: Penyakit Tak Ditanggung BPJS Kesehatan per Januari 2026


Langkah Preventif Kasus

Situasi regional memperkuat alasan kewaspadaan. Hingga 26 Januari 2026, India melaporkan dua kasus konfirmasi di Distrik North 24 Parganas, Negara Bagian West Bengal.

Seluruh pasien merupakan tenaga kesehatan. Otoritas setempat mengarantina lebih dari 120 kontak erat dan masih melakukan investigasi epidemiologis.

Belajar dari pengalaman wabah sebelumnya, respons dini menjadi kunci. Karena itu, Kemenkes menginstruksikan seluruh dinas kesehatan provinsi dan kabupaten/kota, unit kekarantinaan kesehatan, rumah sakit dan puskesmas.

Termasuk laboratorium kesehatan masyarakat untuk memperketat surveilans dan  meningkatkan deteksi dini.

Dan juga mempercepat pelaporan dan menyiapkan tata laksana pasien.

Langkah preventif dinilai lebih efektif dibanding menunggu lonjakan kasus.

Penguatan edukasi publik, pengawasan lalu lintas kesehatan, serta kesiapan fasilitas layanan kesehatan dapat memutus rantai penularan sejak awal.

Masyarakat juga diminta berperan aktif dengan menjaga kebersihan makanan, menghindari konsumsi produk yang berpotensi terkontaminasi hewan liar.

Kemudian segera memeriksakan diri bila mengalami demam, sakit kepala, gangguan pernapasan, atau penurunan kesadaran setelah riwayat kontak risiko.

Dengan belum ditemukannya kasus di Indonesia, momentum ini memberi ruang bagi pemerintah untuk memperkuat sistem pencegahan.

Kewaspadaan dini menjadi strategi paling rasional agar ancaman virus berdaya fatal tinggi seperti Nipah tidak berkembang menjadi krisis kesehatan baru.


Kilas Virus Nipah

Virus Nipah pertama kali muncul pada 1998 dan terus dilaporkan di Bangladesh, India, Malaysia, Filipina, serta Singapura.

India bahkan mencatat wabah musiman yang berkaitan dengan kelembapan dan kebiasaan konsumsi getah kurma mentah.

Pola ini menunjukkan penularan tidak terjadi secara acak. Lingkungan dan perilaku manusia ikut memperbesar risiko penyebaran.

Sejumlah ahli medis menilai infeksi sering bermula dari buah atau minuman yang terkontaminasi air liur maupun urin kelelawar.

Dewan Penelitian Medis India menyatakan virus terutama menyebar lewat kontak fisik, tetapi juga berpotensi melalui udara.

Jalur ganda ini membuat penularan lebih cepat. Karena itu, masyarakat perlu memperketat kebersihan pangan, membatasi paparan satwa liar, dan segera memeriksakan diri saat muncul gejala.


Baca juga:

 

Example 468x60
Example 300250