Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
LokalNasional

Tekan Defisit Rp51 Triliun Daerah, Gubernur NTT Perkuat Ekonomi Produktif

×

Tekan Defisit Rp51 Triliun Daerah, Gubernur NTT Perkuat Ekonomi Produktif

Sebarkan artikel ini
gubernur ntt emanuel melkiades laka lena mendorong ekonomi produktif di tts
EKONOMI PRODUKTIF — Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena mendorong ekonomi produktif di SMKN 2 Soe, TTS, Senin (30/3/2026). Langkah ini untuk menekan defisit Rp51 triliun dan menguatkan produk lokal. (foto/ist)

JAMLIMA.COM, TTS — Gubernur Nusa Tenggara Timur, Emanuel Melkiades Laka Lena, mendorong perubahan pola ekonomi dari konsumtif menjadi produktif untuk menekan defisit perdagangan sekitar Rp51 triliun per tahun.

Dorongan ini disampaikan saat kunjungan kerja di SMKN 2 Soe, Senin (30/3/2026).

Melki menegaskan ketergantungan terhadap pasokan luar daerah harus dihentikan.

Ia juga mengoperasikan Dapur Flobamorata dan NTT Mart berbasis One School One Product (OSOP) sebagai langkah konkret.

“Defisit Rp 51 triliun ini menunjukkan kita terlalu banyak membeli dari luar, tapi belum cukup menjual keluar. Ini harus kita ubah,” kata Melki.


Baca juga: Bupati Soppeng Paparkan Capaian Strategi Pemerintahan 2025 


Tekan Defisit Daerah

Melki mengingatkan risiko ketergantungan ekonomi di tengah ketidakpastian global saat ini.

Ia menyoroti potensi dampak konflik internasional dan El Nino terhadap produksi pangan serta harga.

Selain itu, ia menyebut konsumsi pinang mencapai Rp1 triliun per tahun dari luar daerah dan air mineral juga didominasi pasokan luar.

“Kondisi ke depan tidak mudah. Harga bisa naik, ekonomi tertekan. Kita harus siapkan diri dari sekarang,” ujarnya.

Selanjutnya, Pemprov NTT memangkas belanja daerah sebesar 10 persen sebagai langkah awal.

Namun, Melki menilai penghematan tidak cukup tanpa perubahan perilaku ekonomi masyarakat.

Ia memperkirakan perputaran uang keluar dari TTS mencapai Rp2,5 hingga Rp3 triliun per tahun.

“Kalau Rp300 sampai Rp500 miliar saja bisa diproduksi di sini, itu sudah cukup menggerakkan ekonomi masyarakat,” katanya.


Baca juga: Target 5,4% Ekonomi 2026: Antara Ruang Akselerasi dan Tekanan Global


Tingkatkan Produksi Lokal

Ia kemudian mendorong ASN menjadi motor konsumsi produk lokal.

Dengan sekitar 11 ribu ASN membelanjakan Rp100 ribu per bulan, perputaran uang dapat mencapai Rp1,1 miliar setiap bulan.

“ASN harus jadi contoh. Mereka punya pendapatan tetap, jadi bisa bantu menghidupkan ekonomi lokal,” ujarnya.

Melki juga membeli langsung produk siswa dan UMKM. Mulai dari kue rambut manis, keripik pisang, stik kelor, sambal luat, abon ikan, jagung goreng hingga kain tenun.

Ia menegaskan langkah ini sebagai intervensi pasar awal.

“Ini bukan soal seremoni. Produksi harus jalan, produk harus dibeli, dan uang harus berputar di daerah sendiri,” kata Melki.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT, Ambrosius Kodo, menyebut program OSOP menghubungkan pendidikan dengan pasar nyata.

“Kita ingin sekolah menjadi teaching factory. Siswa tidak hanya belajar teori, tapi langsung produksi, kelola usaha, sampai pemasaran,” ujarnya.

Bupati TTS, Eduard Markus Lioe, menilai pendekatan ini memperkuat peran generasi muda dan meningkatkan nilai tambah produk lokal.

“Produk lokal seperti tenun, hasil pertanian, dan olahan pangan punya potensi besar untuk bersaing di pasar lebih luas,” ujarnya.

SMKN 2 Soe memiliki tujuh jurusan dengan dukungan 78 tenaga pendidik serta kependidikan.

Sekolah ini juga menampung 960 peserta didik yang terlibat dalam pengembangan produk berbasis OSOP.


Example 468x60
Example 300250