Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Entertainment

Jejak Irna Kamayanti, Sang Pendidik Mengabdi Tanpa Gaji di Pedalaman Lutra

×

Jejak Irna Kamayanti, Sang Pendidik Mengabdi Tanpa Gaji di Pedalaman Lutra

Sebarkan artikel ini
PENGHARGAAN - Irna Kamayanti, Sang Pendidik Mengabdi Tanpa Gaji di Pedalaman Lutra saat mendapat penghargaan dari Kemenag. (foto/ist)

JAMLIMA.COM, LUWU UTARA — Pengabdian seorang guru layak mendapat apresiasi, terutama ketika ia mengabdi di wilayah terpencil dan terisolir. Banyak guru dari berbagai latar belakang pendidikan memilih tetap bertahan demi mencerdaskan anak bangsa.

Pengabdian di wilayah terpencil bukan hanya soal mengajar, tetapi juga menghadirkan perubahan nyata bagi anak didik. Kehadiran guru memastikan hak pendidikan tetap merata, meski harus menembus keterbatasan geografis dan infrastruktur.

Salah satu sosok tersebut adalah Irna Kamayanti, guru mengaji sekaligus pembina TPA di Kecamatan Seko, Kabupaten Luwu Utara. Ia telah mengabdikan diri selama kurang lebih 18 tahun di wilayah pegunungan yang sulit dijangkau.

Dedikasi Guru Mengaji di Wilayah Terpencil

Selama bertahun-tahun, Irna berperan membangun kehidupan religius anak-anak di Seko, yang sebagian besar merupakan muallaf. Atas dedikasinya, ia menerima apresiasi tingkat nasional dari Kementerian Agama RI.

Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Menteri Agama pada puncak peringatan Hari Guru Nasional. Apresiasi itu diberikan karena Irna dinilai konsisten mengabdi di jalur pembinaan keagamaan lintas latar belakang masyarakat.

Irna merupakan ibu rumah tangga yang menetap di Desa Padang Balua, Seko. Ia lahir di Palopo pada 16 Desember 1987 dan mulai mengajar mengaji di Seko sejak menikah pada 2007. Kehidupannya sederhana bersama suami dan empat anak.

Selain mengajar mengaji, Irna membantu suami yang berprofesi sebagai petani. Ia juga aktif membina TPA, majelis taklim, serta kelompok qasidah rebana di wilayah tersebut.

Kepala Kantor Kemenag Luwu Utara, Rusydi Hasyim, menyebut Irna sebagai pilar pembinaan keagamaan di Kecamatan Seko. Menurutnya, ketulusan dan keikhlasan Irna memberi dampak besar bagi anak-anak.

Rusydi mengungkapkan Irna harus menempuh perjalanan sekitar satu jam dari Desa Eno untuk mengajar anak-anak muslim muallaf di Seko. Meski demikian, ia tetap menjalani tugas itu dengan penuh kesabaran.

Irna menuturkan tujuan utamanya mengajar adalah mendoakan kedua orang tuanya. Ia berharap seluruh amal pengabdiannya menjadi amal jariyah bagi mereka.

Saat ini, Irna mengajar di satu-satunya masjid di wilayah tersebut. Kondisi masjid masih jauh dari layak dan membutuhkan perbaikan agar kegiatan ibadah dan pengajian dapat berlangsung dengan nyaman.

Ia berharap ada perhatian pemerintah untuk memperbaiki masjid tersebut. Menurutnya, masjid itu menjadi pusat ibadah dan pendidikan agama bagi masyarakat Seko. (*)

Example 468x60
Example 300250
gadis dan lelaki muda mengenakan busana merah merayakan tahun baru imlek dengan latar lampion dan dekorasi tionghoa
Entertainment

JAMLIMA.COM, NASIONAL — Bagi banyak warga Tionghoa, Tahun Baru Imlek bukan sekadar pergantian kalender. Sebaliknya, mereka memaknainya sebagai ruang bersama untuk saling mengirim doa, menebar berkah,…