Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Internasional

Di Balik Operasi Militer AS yang Berujung Penangkapan Nicolas Maduro

×

Di Balik Operasi Militer AS yang Berujung Penangkapan Nicolas Maduro

Sebarkan artikel ini
MADURO - Presiden Venezuela Nicolas Maduro mendapat pengawalan sangat ketat, dia ditangkap melalui Operasi Absolute Resolve, Amerika Serikat. (foto/thread video)

JAMLIMA.COM, INTERNASIONAL — Amerika Serikat melancarkan operasi militer rahasia berskala besar untuk menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro. Operasi ini diberi sandi Operasi Absolute Resolve.

Aksi militer tersebut berlangsung Sabtu (3/1/2026) dini hari di Caracas dan berakhir dengan penangkapan Maduro bersama istrinya, Cilia Flores.

Presiden AS Donald Trump memerintahkan langsung operasi tersebut. Militer Amerika Serikat kemudian menjalankan misi dengan dukungan penuh intelijen CIA. Trump menyetujui operasi ini pada Jumat malam waktu setempat.

Keputusan itu diambil sesaat sebelum tengah malam di Caracas dan tanpa persetujuan lebih dulu dari Kongres AS.

Pada tahap awal, militer AS mengerahkan lebih dari 150 pesawat. Armada tersebut terdiri atas jet tempur, pesawat pembom, dan pesawat pengintai. Tidak lama kemudian, ledakan terdengar di sejumlah titik Caracas sekitar pukul 02.00 waktu setempat Sabtu (3/1/2026).

Pada saat yang sama, aliran listrik padam dan membuat sebagian besar wilayah ibu kota Venezuela gelap.

Selanjutnya, pasukan elit Amerika Serikat memasuki Caracas. Pasukan ini bergerak melalui jalur udara, darat, dan laut.

Unit Delta Force turut terlibat dalam penyerbuan tersebut. Pasukan langsung menyerbu rumah aman Maduro yang dilaporkan memiliki pintu baja serta sistem pertahanan berlapis.

Aparat AS menangkap Maduro sebelum ia mencapai ruang aman di dalam kompleks tersebut.

Penangkapan berlangsung cepat dan terkoordinasi. Operasi militer ini berjalan sekitar dua jam dua puluh menit.

Dalam pelaksanaannya, beberapa personel AS mengalami luka. Namun, tidak ada laporan korban jiwa dari pihak militer Amerika Serikat.

Setelah operasi berakhir, Presiden Trump menilai penangkapan Maduro sebagai keberhasilan strategis.

Pemerintah AS menyebut langkah ini memperkuat keamanan nasional Amerika Serikat.

Washington juga menyatakan tindakan tersebut sebagai bagian dari proses penegakan hukum terhadap Maduro.

Ketegangan AS–Venezuela

Sebelum penangkapannya, Maduro secara terbuka mengecam Amerika Serikat. Ia menuding Washington menjalankan kebijakan imperialis dan berupaya menguasai cadangan minyak Venezuela.

Pernyataan tersebut mencerminkan meningkatnya ketegangan antara kedua negara menjelang operasi militer.

Usai ditangkap, Maduro dan istrinya diterbangkan keluar wilayah Venezuela. Helikopter militer membawa keduanya pada Sabtu pagi (3/1/2026).

Setibanya di Amerika Serikat, otoritas menempatkan keduanya sebagai tahanan Departemen Kehakiman AS. Pemerintah AS membawa Maduro ke New York untuk menghadapi tuntutan pidana terkait dugaan perdagangan narkoba dan terorisme narkoba.

Sebelumnya, Washington juga sempat menawarkan hadiah besar untuk informasi yang mengarah pada penangkapan Maduro.

Operasi militer Amerika Serikat langsung memicu reaksi internasional. Presiden Brasil Lula da Silva menilai penangkapan paksa pemimpin negara lain berpotensi menjadi preseden berbahaya.

Perserikatan Bangsa-Bangsa juga menyampaikan keprihatinan. Sekretaris Jenderal Antonio Guterres menekankan pentingnya penghormatan terhadap hukum internasional dan Piagam PBB.

Kolombia mengajukan permintaan rapat darurat Dewan Keamanan PBB dengan dukungan Rusia dan China.

Sementara itu, di dalam negeri AS, Pemimpin Mayoritas Senat Chuck Schumer mengecam langkah Presiden Trump.

Ia menilai keputusan tersebut diambil tanpa persetujuan Kongres dan berisiko memperluas konflik regional.

Baca juga: ⇒ Ketegangan Global Tekan Ekonomi, Indonesia Waspadai Fluktuasi Energi dan Nilai Tukar

Example 468x60
Example 300250