JAMLIMA.COM, INTERNASIONAL — Konflik Iran dan Amerika Serikat memasuki fase baru setelah serangan militer pecah pada Sabtu (28/2) pagi waktu setempat.
Eskalasi ini turut menyeret penggunaan teknologi kecerdasan buatan (AI) dalam sistem pertahanan Amerika Serikat.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan operasi militer berjalan sukses dan mengklaim pihaknya menghancurkan kekuatan laut Iran.
“Kami telah menghancurkan dan menenggelamkan 9 Kapal Angkatan Laut Iran, beberapa di antaranya relatif besar dan penting,” tulis Trump di akun Truth Social.
ESKALASI MILITER KAWASAN
Serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran dilaporkan menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, serta sejumlah pejabat tinggi lainnya.
Iran langsung merespons melalui Garda Revolusi Iran (IRGC).
“Kapal induk AS Abraham Lincoln dihantam oleh empat rudal balistik,” kata Garda Revolusi dalam pernyataan yang dimuat media lokal, Senin (2/3/2026).
Pentagon membantah klaim tersebut dan menegaskan rudal tidak mengenai sasaran serta kapal tetap aman.
Trump juga menyampaikan kepada Fox News bahwa 48 pemimpin Iran telah tewas “dalam satu tembakan”. Ia menyebut situasi “berkembang dengan sangat positif”.
Di tengah eskalasi militer, laporan penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam sistem pertahanan AS memicu sorotan global. Nama Anthropic ikut disebut karena sebelumnya menandatangani kontrak senilai US$200 juta pada 2025 dengan Departemen Pertahanan AS (DoD/Pentagon).
“Kami menentang penggunaan tool AI untuk menciptakan senjata otomatis dan memata-matai warga,” tegas Anthropic dalam pernyataan pekan lalu.
Perusahaan berbasis San Francisco itu menyatakan ingin membantu sistem pertahanan AS, tetapi tidak untuk menciptakan senjata otonom.
Militer modern memanfaatkan AI untuk menganalisis citra satelit, mengolah data intelijen, dan meningkatkan akurasi sistem persenjataan.
Teknologi tersebut mempercepat pengambilan keputusan dan meningkatkan presisi operasi.
Isu ini juga berkaitan dengan pembahasan global mengenai regulasi senjata otonom dalam forum internasional.
Konflik Iran–AS menunjukkan perang modern tidak lagi hanya mengandalkan rudal dan drone.
Algoritma kini menjadi bagian dari strategi tempur di tengah klaim kemenangan dan bantahan serangan dari kedua pihak.

























