Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Sehat

Menilik Sejarah AIDS, Apakah Penyebarannya Separah Covid-19?

×

Menilik Sejarah AIDS, Apakah Penyebarannya Separah Covid-19?

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi penyakit AIDS dan COVID-19. (foto/scr)

JAMLIMA.COM — Hari ini, 1 Desember 2025, diperingati sebagai Hari AIDS Sedunia (World AIDS Day).

Untuk Tahun ini 2025, peringatan mengusung tema yang berfokus pada ketahanan dan perubahan, yakni : “Overcoming Disruption, Transforming the AIDS Response”.

Tema tersebut diusung oleh UNAIDS, menegaskan bahwa meskipun menghadapi berbagai tantangan, seperti pemotongan dana global dan isu-isu lain, upaya mengakhiri epidemi AIDS harus terus berjalan dan bertransformasi agar lebih efektif, adil, dan inklusif.

Berikut Perjalanan AIDS berdasarkan tahun kejadian.

TAHUN 1959 — 1970-AN

Sebelum Diketahui (Sebelum 1980), para ilmuwan menemukan bahwa HIV berasal dari virus SIV (Simian Immunodeficiency Virus) pada simpanse di Afrika Tengah.

Diduga terjadi penularan dari simpanse ke manusia sekitar 1900–1930 Virus ini menyebar ke manusia setelah kontak dengan darah simpanse yang terinfeksi saat berburu.

Virus ini kemudian menyebar di Afrika lewat urbanisasi, mobilitas penduduk, dan sistem kesehatan yang belum steril saat itu, namun belum dikenali sebagai penyakit baru.

Kasus Pertama yang Terdokumentasi di Kongo tahun 1959. Setelah sampel darah seorang pria yang meninggal kemudian diketahui mengandung HIV-1.

TAHUN 1960 — 1970-an

Di tahun ini mulai banyak kasus yang mirip AIDS muncul di Afrika, Haiti, dan AS, tetapi tidak teridentifikasi karena belum ada teknologi untuk mendeteksi HIV.

Tahun 1981 — 1982

Tahun ini penting karena ada laporan pengelompokan atau peningkatan insidensi dua kondisi, sarkoma Kaposi (sejenis kanker) dan pneumonia Pneumocystis carinii (sekarang dikenal sebagai Pneumocystis jiroveci ) (PCP) di New York dan California.

Kondisi ini biasanya memengaruhi lansia atau mereka yang memiliki sistem kekebalan tubuh lemah. Dalam kasus ini, beberapa pria muda yang sehat mengalami kondisi ini. Awalnya, kondisi ini dianggap sebagai penyakit yang berkaitan dengan gaya hidup gay karena para pria tersebut adalah gay.

Spekulasi lebih lanjut mengenai hubungan dengan cytomegalovirus atau penggunaan obat rekreasional yang disebut amil nitrat (“poppers”) juga diajukan.

Kasus-kasus pada pengguna narkoba suntik menunjukkan bahwa masalah ini tidak hanya dialami oleh kaum gay.

Tahun 1982, penyakit ini diberi beberapa nama seperti limfadenopati (karena menyebabkan pembengkakan kelenjar getah bening), sindrom kompromi gay, dan dalam istilah populer disebut “wabah gay”. Namun, banyak pasiennya adalah penderita hemofilia.

Pada bulan Juli tahun ini, penyakit ini diberi nama internasional ‘acquired immune deficiency syndrome’ (AIDS) atau dalam bahasa Prancis dan Spanyol, SIDA.

Faktor-faktor lain seperti penularan terkait transfusi darah atau kehamilan juga dicatat. Kelompok dukungan untuk pasien AIDS seperti Terrence Higgins Trust pun dibentuk.

Tahun 1983–1984

Pada tahun 1983, terdapat laporan HIV pada perempuan yang menunjukkan penularan seksual. Isu AIDS diangkat oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Virus terkait serupa dilaporkan di Prancis dan disebut LAV (virus terkait limfadenopati).

Di AS, virus yang berkaitan dengan AIDS diisolasi dan diberi nama HTLV-3 (Human T-cell lymphotropic virus 3).

Sementara saat itu kondisi di Afrika semakin memburuk.

Tahun 1984, Robert Gallo dari Amerika Serikat mengonfirmasi temuan tersebut dan virus tersebut diberi nama HIV (Human Immunodeficiency Virus).

Tahun 1985 — 1987

LAV dan HTLV-3 terbukti sebagai virus yang sama pada tahun 1985. Pada tahun yang sama, tes antibodi dikembangkan untuk menunjukkan apakah seseorang terinfeksi virus tersebut.

Kesadaran masyarakat terus meningkat dan kasus pertama penularan ASI dilaporkan.

Pada tahun 1986, kampanye kesadaran AIDS pertama yang diselenggarakan pemerintah Inggris dimulai dan diberi nama “Jangan Bantu AIDS”. Virus yang menyerang disebut virus imunodefisiensi manusia (HIV).

Tahun 1986 juga menandai pengembangan obat anti-HIV pertama yang disebut azidotimidin (AZT) atau zidovudin. Obat ini disetujui pada tahun 1987. Putri Diana menepis kekhawatiran akan AIDS dengan mengunjungi dan berjabat tangan dengan seorang pasien AIDS.

Tahun 1988 — 1989

Tahun 1988 diperingati sebagai Hari AIDS Sedunia pertama pada tanggal 1 Desember, dan pada tahun 1989, efektivitas zidovudin dalam uji klinis terbukti. Dideoksinosin (ddI) adalah obat kedua yang dikembangkan.

Tahun 1990 — 1999

Pada tahun 1991, obat ketiga yang memperlambat perkembangan AIDS, dideoxycytidine (ddC), dikembangkan.

Tahun 1993 menyaksikan resistensi pertama terhadap Zidovudine oleh HIV.

Pada tahun 1994 tercatat bahwa Zidovudine dapat mengurangi risiko penularan virus dari ibu HIV positif ke bayi.

Pada tahun 1995, total kasus AIDS di dunia dilaporkan mencapai 1 juta kasus, dengan perkiraan total 18 juta orang dewasa HIV+ dan 1,5 juta anak-anak HIV+. AIDS menjadi penyebab utama kematian pada kelompok usia 25-44 tahun di Amerika Serikat. Pada tahun 1995, sebuah obat baru yang disebut saquinivir, suatu penghambat enzim protease, disetujui. Perkiraan jumlah kematian global akibat AIDS adalah 9 juta.

Pada tahun 1996, Nevirapine disetujui untuk pengobatan HIV. Pada tahun 1997, diperkirakan 40 juta orang di seluruh dunia akan positif HIV pada tahun 2000. Pada tahun 1998, efek samping terapi kombinasi mulai muncul. AIDS dinyatakan sebagai penyebab kematian terbesar ke-4 di dunia pada tahun 1999.

Tahun 2000 — 2020

Pada tahun 2000, diperkirakan terdapat 34,3 juta kasus HIV di seluruh dunia, dengan jumlah terbesar di Afrika Selatan. Kemudian Uji coba vaksin HIV dimulai di Oxford.

Di tahun ini PBB membentuk UNGASS untuk menanggulangi AIDS.

Pada tahun 2001, dibentuk Global Fund (dana global melawan AIDS, TB, dan malaria).

Pada tahun 2003, di Swaziland dan Botswana di Afrika Selatan, hampir 40% orang dewasa yang menerima vaksin HIV+AIDS gagal. Enfuviride, obat baru yang disebut inhibitor fusi, telah disetujui di Amerika Serikat.

Pada tahun 2005, perusahaan dan produsen obat sepakat untuk menyediakan obat anti-virus generik.

Pada tahun 2010-an, penelitian menunjukkan bahwa, jika HIV ditekan hingga tidak terdeteksi, maka risiko penularan = 0. kemudian adanya kampanye global: U= Undetectable = Untransmittable.

Adanya Terapi PrEP (Pre-Exposure Prophylaxis) dan ditemukannya obat pencegah HIV bagi orang berisiko tinggi.

Di tahun ini stigma dan diskriminasi AIDS mulai berkurang, walau masih terjadi di banyak negara.

Tahum 2020 — 2025

Masa ini adalah era teknologi dimana Upaya mengakhiri AIDS, misalnya tes cepat HIV hasilnya dapat diketahui dalam 1 menit.

AIDS VS COVID-19

Efek bahaya antara AIDS dan COVID-19 sifatnya relatif, tergantung pada kondisi kesehatan individu. AIDS adalah penyakit kronis yang melemahkan sistem kekebalan tubuh, sementara COVID-19 adalah infeksi pernapasan akut. Individu dengan AIDS yang tidak terkontrol sangat rentan terhadap komplikasi serius dari COVID-19, tetapi siapa pun dapat terkena penyakit parah jika memiliki kondisi lain atau imunitas lemah.

TINGKAT BAHAYA AIDS

Sistem kekebalan tubuh melemah: AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome) disebabkan oleh HIV (Human Immunodeficiency Virus) yang menyerang dan merusak sistem kekebalan tubuh.

Kerentanan terhadap infeksi: Seiring waktu, HIV dapat menyebabkan sistem kekebalan tubuh menjadi sangat lemah, membuat penderitanya sangat rentan terhadap berbagai infeksi oportunistik dan jenis kanker tertentu.

Risiko lebih tinggi pada penyakit parah: Kondisi ini meningkatkan risiko komplikasi yang lebih serius jika terinfeksi penyakit lain, termasuk COVID-19.

TINGKAT BAHAYA COVID-19

Infeksi pernapasan akut: COVID-19 adalah penyakit pernapasan yang menular dengan cepat melalui droplet (percikan) dari saluran pernapasan.

Gejala beragam: Gejalanya dapat bervariasi dari tidak bergejala, ringan (seperti batuk, demam, nyeri otot), hingga parah yang menyebabkan komplikasi serius.

Potensi komplikasi serius: COVID-19 dapat menyebabkan komplikasi serius seperti pneumonia, acute respiratory distress syndrome (ARDS), dan bahkan kematian. (*)

Example 468x60
Example 300250