JAMLIMA.COM, NASIONAL — Hidden hunger mengancam anak Indonesia meski angka stunting nasional menunjukkan tren penurunan.
Data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 mencatat perbaikan status gizi anak, namun tantangan kekurangan zat gizi mikro masih berlangsung dan kerap luput dari perhatian.
Hidden hunger atau lapar tersembunyi merujuk pada kondisi kekurangan zat gizi mikro penting, seperti zat besi, yodium, vitamin A, zinc, dan vitamin D, meskipun asupan energi harian anak terlihat cukup.
Kondisi ini banyak terjadi di negara berkembang, termasuk Indonesia.
Anak sering tampak sehat secara fisik, sehingga keluarga dan lingkungan sekitar tidak menyadari adanya masalah gizi.
Dalam jangka panjang, kekurangan mikronutrien dapat memengaruhi daya tahan tubuh, perkembangan otak, serta kemampuan belajar anak.
Risiko tersebut meningkat pada masa tumbuh kembang dan dapat berdampak hingga usia dewasa.
Karena tidak selalu menimbulkan gejala yang mencolok, hidden hunger kerap berjalan bersamaan dengan penurunan stunting dan memerlukan perhatian khusus dalam kebijakan serta edukasi gizi masyarakat.
Pakar Gizi Klinik, dr. Monique Carolina Widjaja, menilai masih banyak orang tua yang keliru memahami kecukupan gizi anak.
Ia menegaskan bahwa rasa kenyang tidak selalu mencerminkan kualitas asupan makanan.
“Banyak orang tua merasa anaknya sudah cukup makan karena kenyang. Padahal, kualitas asupan gizinya tidak diperhatikan,” ujar Monique.
Ia menjelaskan, pola konsumsi anak di Indonesia masih didominasi karbohidrat.
Sementara itu, asupan protein hewani serta mineral esensial seperti zat besi, zinc, dan vitamin D sering kali belum mencukupi.
Efek Jangka Panjang
Ketimpangan asupan gizi tersebut berpotensi memicu kekurangan mikronutrien dalam jangka panjang.
Kondisi ini dapat meningkatkan risiko gangguan daya tahan tubuh, hambatan perkembangan kognitif.
Selain itu terjadi penurunan konsentrasi belajar, meskipun pertumbuhan fisik anak tampak normal.
Saat ini, Indonesia menghadapi tantangan beban ganda malnutrisi. Di satu sisi, upaya penurunan stunting terus berjalan.
Di sisi lain, kasus obesitas anak dan defisiensi mikronutrien juga memerlukan perhatian secara bersamaan.
Sebagai langkah praktis, orang tua dapat menerapkan menu harian sederhana namun seimbang.
Menu tersebut dapat berupa nasi dengan lauk telur atau ikan, dilengkapi sayur dan buah.
Sumber protein hewani seperti ayam, ikan, daging, dan susu membantu memenuhi kebutuhan gizi anak.
Zat besi dan zinc dapat diperoleh dari hati ayam, ikan, serta kacang-kacangan, sementara vitamin D dapat didukung melalui konsumsi ikan dan paparan sinar matahari pagi yang cukup.
Pola makan yang beragam membantu mencegah hidden hunger tanpa bergantung pada makanan mahal.
Pendekatan ini diharapkan memperkuat upaya perbaikan gizi anak secara menyeluruh dan berkelanjutan.
Baca juga: ⇒ Superflu Jadi Perhatian di 2026, Ini Perbedaannya dengan COVID-19

























