JAMLIMA.COM — Banyak orang memilih minum kopi hitam tanpa campuran untuk mendapatkan energi maksimal, meski rasanya pahit.
Namun, pada sebagian orang, kopi hitam justru memicu GERD dan meningkatkan risiko peradangan lambung.
Penderita asam lambung sebaiknya memilih kopi dengan tingkat keasaman rendah, seperti kopi Arabika atau kopi dark roast. Selain itu, mereka dapat mengonsumsi cold brew, kopi decaf, atau kopi luwak karena jenis ini mengandung asam lebih rendah.
Untuk menjaga kesehatan lambung, batasi penggunaan gula. Jika menambahkan susu, gunakan susu rendah lemak dan tetap kendalikan jumlah konsumsi kopi harian.
Jenis Kopi yang Lebih Aman untuk Lambung
Berikut beberapa jenis kopi yang relatif lebih aman dikonsumsi:
- Kopi Arabika memiliki tingkat keasaman lebih rendah dibandingkan Robusta.
- Kopi dark roast menurunkan kadar asam melalui proses pemanggangan lebih lama.
- Kopi cold brew menghasilkan asam lebih sedikit karena proses seduhan air dingin.
- Kopi decaf mengurangi potensi iritasi lambung karena kadar kafeinnya lebih rendah.
- Kopi luwak melalui fermentasi alami yang membuatnya kurang asam.
- Kopi chicory berasal dari akar chicory dan hampir tidak mengandung kafein.
Meski begitu, kopi decaf maupun kopi rendah kafein tetap merangsang produksi asam lambung. Karena itu, minum kopi saat perut kosong dapat meningkatkan kadar asam di lambung.
Orang dengan kondisi lambung sehat umumnya dapat mengonsumsi hingga 200 miligram kafein per hari, setara dua hingga tiga cangkir kopi, tanpa merasakan efek tertentu.
Pemanggangan dan Batas Aman Konsumsi
Proses pemanggangan kopi turut menentukan kadar kafein. Light roast atau “kopi sarapan” biasanya mengandung kafein lebih tinggi dibandingkan dark roast.
Meski pengidap asam lambung masih dapat mengonsumsi kopi hitam, mereka tetap perlu membatasi asupan kafein harian. Konsumsi berlebihan dapat memicu inkontinensia urine, peningkatan tekanan darah, risiko asam urat, gangguan menstruasi, hingga insomnia.
Jika kafein masuk ke tubuh secara berlebihan dalam jangka panjang, kondisi ini dapat meningkatkan hormon kortisol dan memicu kerusakan tulang serta gangguan kardiovaskular.

























