Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Entertainment

Fenomena Ondel-Ondel, Dari Nilai Sakral Hingga Jadi Alat Ngamen

×

Fenomena Ondel-Ondel, Dari Nilai Sakral Hingga Jadi Alat Ngamen

Sebarkan artikel ini
fenomena ondel-ondel mengamen masih kerap terlihat di jalanan perkotaan
ILUSTRASI — Fenomena ondel-ondel mengamen masih kerap terlihat di jalanan perkotaan. (foto/ist)

JAMLIMA.COM, BUDAYA — Kerasnya kehidupan metropolitan membuat sebagian warga memanfaatkan ondel-ondel sebagai sarana mengamen di jalanan kawasan Jabodetabek.

Fenomena ini membuat simbol budaya tersebut sering tampil sebagai alat mencari nafkah sehingga makna budayanya dianggap mulai memudar.

Sarana mengamen masih terjadi akibat tekanan ekonomi serta keterbatasan ruang pertunjukan budaya.

ASAL-USUL DAN SEJARAH

Ondel-ondel merupakan bagian dari tradisi masyarakat Betawi yang dipercaya sebagai simbol penjaga kampung dari roh jahat dan malapetaka.

Tradisi ini telah dikenal sejak masa kerajaan di Nusantara, jauh sebelum Jakarta berkembang menjadi kota metropolitan.

Sejumlah catatan perjalanan asing menyebut keberadaan pertunjukan boneka raksasa di wilayah Sunda Kelapa sebelum tahun 1600 M, yang diyakini sebagai bentuk awal tradisi ondel-ondel.

Tulisan pelancong asing pada akhir abad ke-19 juga menggambarkan arak-arakan boneka raksasa di Batavia, memperkuat keberadaan tradisi ini dalam kehidupan masyarakat Betawi tempo dulu.

Menurut cerita turun-temurun masyarakat Betawi, ondel-ondel dikenal sebagai pelindung kampung dari gangguan gaib.

Kini, ondel-ondel dikenal luas sebagai simbol budaya Betawi sekaligus ikon Kota Jakarta, bahkan mulai dikenal di tingkat internasional sebagai bagian dari warisan budaya Indonesia.

BENTUK DAN CIRI FISIK

Ondel-ondel berbentuk boneka raksasa setinggi sekitar 2,5–3 meter yang dibuat dari anyaman bambu dan dihias pakaian adat Betawi.

Boneka ini biasanya tampil berpasangan, dengan wajah merah sebagai simbol laki-laki dan wajah putih sebagai simbol perempuan.

Warna merah umum dimaknai sebagai lambang keberanian dan kekuatan, sedangkan putih melambangkan kelembutan dan ketenangan.

Ondel-ondel digerakkan oleh penari di dalamnya. Dengan lebar sekitar 80 cm dan berat sekitar 20–25 kilogram, boneka tetap dapat dibawa saat diarak.

Bagian kepala dihiasi ijuk atau kembang kelapa yang dalam tradisi lokal sering dimaknai sebagai simbol kekuatan dan manfaat kehidupan.

Beberapa bentuk ondel-ondel dibuat dengan ekspresi menakutkan untuk melambangkan upaya mengusir gangguan roh jahat.


FUNGSI RITUAL DAN MAKNA

Pada masa lalu, ondel-ondel digunakan dalam ritual tolak bala untuk menangkal gangguan roh jahat, wabah penyakit, maupun energi negatif yang dipercaya mengancam kampung.

Boneka diarak keliling wilayah sebagai simbol pembersihan kampung dari gangguan gaib.

Dalam cerita masyarakat Betawi, pasangan ondel-ondel kadang dikenal dengan nama tertentu yang dimaknai sebagai simbol keseimbangan kehidupan. Penamaan ini hidup dalam tradisi lisan masyarakat.

Ritual serta sesajen juga kerap dilakukan sebelum pertunjukan sebagai bagian dari tradisi pengusiran roh jahat.

Ondel-ondel tidak sekadar hiburan, tetapi juga simbol harapan keselamatan bagi masyarakat.

Pertunjukan ondel-ondel biasanya diarak berkeliling kampung atau kota diiringi musik tradisional Betawi seperti tanjidor, gambang kromong, rebana, dan kendang pencak.

Penari di dalam boneka menggerakkan tubuh ondel-ondel sehingga tampak hidup dan dapat berinteraksi dengan penonton.

PERGESERAN FUNGSI

Seiring perkembangan zaman, fungsi ritual ondel-ondel bergeser menjadi pertunjukan hiburan budaya dalam pesta rakyat, pernikahan, festival budaya, hingga perayaan ulang tahun Jakarta.

Ondel-ondel kini juga tampil dalam seni pertunjukan modern, seni rupa, hingga menjadi ikon wisata dan suvenir khas Jakarta.

Sebagian pertunjukan mulai menggunakan bahan fiber agar lebih ringan dan tahan lama, meski pelestarian bentuk tradisional tetap dilakukan.

Di Jakarta, ondel-ondel masih sering ditemukan dalam berbagai kegiatan hiburan dan budaya.

PELESTARIAN DAN ATURAN

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tengah menyiapkan aturan untuk menata penggunaan ondel-ondel agar tidak lagi digunakan sebagai sarana mengamen di jalanan.

Langkah ini bertujuan menjaga marwah budaya Betawi serta memastikan ondel-ondel tampil sebagai pertunjukan budaya yang layak.

Ondel-ondel telah ditetapkan sebagai ikon budaya Betawi melalui aturan daerah sebelumnya, dan pemerintah menargetkan penguatan regulasi pelestarian berlaku sebelum perayaan ulang tahun Jakarta pada Juni 2025.

Pemerintah juga berencana memberikan pelatihan serta menyediakan lokasi pertunjukan resmi bagi sanggar budaya agar pelaku seni tetap dapat berkarya tanpa harus turun ke jalan.

Penertiban dilakukan bertahap setelah aturan diberlakukan, disertai pembinaan bagi pelaku seni.

Komunitas budaya Betawi turut mendorong agar ondel-ondel kembali tampil sebagai simbol kebanggaan budaya, bukan sekadar alat mencari uang di jalan.

Example 468x60
Example 300250
gadis dan lelaki muda mengenakan busana merah merayakan tahun baru imlek dengan latar lampion dan dekorasi tionghoa
Entertainment

JAMLIMA.COM, NASIONAL — Bagi banyak warga Tionghoa, Tahun Baru Imlek bukan sekadar pergantian kalender. Sebaliknya, mereka memaknainya sebagai ruang bersama untuk saling mengirim doa, menebar berkah,…