Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Entertainment

Pemprov Bengkulu Dorong Hilirisasi Kopi Robusta dan Perhutanan Sosial

×

Pemprov Bengkulu Dorong Hilirisasi Kopi Robusta dan Perhutanan Sosial

Sebarkan artikel ini
gubernur bengkulu helmi hasan memaparkan program kopi robusta bengkulu dan perhutanan sosial untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat
KOPI ROBUSTA BENGKULU — Gubernur Bengkulu Helmi Hasan memaparkan program penguatan kopi robusta dan perhutanan sosial di Bengkulu, Jumat (3/4/2026). Program ini mendorong hilirisasi dan kesejahteraan masyarakat. (foto/ist)

JAMLIMA.COM, BENGKULU — Pada awal 2026, Pemerintah Provinsi Bengkulu memperkuat transformasi ekonomi masyarakat berbasis sumber daya alam.

Program ini dijalankan melalui pengembangan kopi robusta dan hasil hutan bukan kayu (HHBK) di Bengkulu.

Gubernur Bengkulu, Helmi Hasan, menegaskan potensi sektor kopi dan perhutanan sosial harus menjadi motor penggerak kesejahteraan masyarakat.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, Provinsi Bengkulu merupakan produsen kopi terbesar ke-5 di Indonesia.

Produksi mencapai 55 ribu ton atau 7,23 persen dari total produksi nasional pada 2023.

“Program ini adalah langkah nyata untuk meningkatkan nilai tambah komoditas unggulan Bengkulu, terutama kopi robusta, sekaligus memperkuat ekonomi masyarakat di kawasan hutan melalui tata kelola usaha yang lebih baik,” ujar Helmi Hasan.

Hilirisasi Kopi dan Penguatan Kelembagaan

Pemprov Bengkulu meluncurkan Program Kopi Merah Putih sebagai strategi percepatan hilirisasi kopi. Program ini juga memperkuat ekonomi desa berbasis komoditas unggulan.

Selain itu, pemerintah menjalankan strategi transformasi ekonomi komunitas perhutanan sosial. Strategi ini berfokus pada pengembangan model bisnis berbasis masyarakat.

Sementara itu, Provinsi Bengkulu menjadi salah satu dari tujuh provinsi yang menjadi lokus program tersebut.

Program ini mendapat dukungan anggaran sebesar USD 1.453.904 atau sekitar Rp23,55 miliar.

Dana tersebut digunakan untuk memperkuat kelembagaan Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS).

Selain itu, dana ini meningkatkan kapasitas usaha, memperluas akses pasar, dan mendorong pengolahan hasil produksi agar memiliki nilai tambah.


Baca juga: Tenun Kajang, Bira, Kopi Kahayya Raih Sertifikat Indikasi Geografis


Fokus Pengembangan di Daerah

Program ini difokuskan di Kabupaten Bengkulu Utara dan Kabupaten Rejang Lebong.

Di Bengkulu Utara, sejumlah KUPS menjadi sasaran, antara lain Mahkota Bukit Resam, Pesona Bukit Resam, Sumur Alam, Kopi Sako Lemo Nakai, serta Durian Tembaga.

Selain sektor perkebunan, program ini juga menyasar pengembangan ekowisata dan ekonomi kreatif berbasis hutan.

Contohnya meliputi KUPS Wisata Curug 9, Aroba Lemo Nakai, Dawen Lemo Nakai untuk produk ecoprint, serta Besambu Lemo Nakai untuk kerajinan HHBK.

Sementara itu, di Kabupaten Rejang Lebong, pemerintah memfokuskan penguatan pada rantai nilai kopi. Sejumlah KUPS bergerak pada produksi green bean kopi.

Target Kesejahteraan dan Ekonomi Hijau

Helmi Hasan optimistis program ini akan memperkuat posisi Bengkulu sebagai sentra kopi robusta unggulan nasional.

“Bengkulu harus menjadi daerah yang mampu mengelola potensi alamnya untuk kesejahteraan rakyat. Kopi kita harus naik kelas, masyarakat kita harus lebih sejahtera, dan hutan kita tetap lestari,” tegasnya.

Program ini dijalankan melalui sinergi pemerintah daerah, kelompok usaha masyarakat, dan lembaga pendamping.

Selain itu, dukungan pembiayaan terus diperkuat untuk memastikan keberlanjutan program.

Penguatan kopi robusta Bengkulu dan perhutanan sosial ini menjadi langkah strategis untuk meningkatkan nilai tambah komoditas.
Selain itu dapat mendorong kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.


Example 468x60
Example 300250