JAMLIMA.COM, PADANG — Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik (Kominfotik) Padang, Rudy Rinaldy, berangkat menunaikan ibadah haji dengan membawa kenangan mendalam tentang sang ibu yang wafat di Makkah saat menjalankan ibadah suci.
Selain itu, kisah tersebut menjadi pengingat kuat bahwa ibadah haji memerlukan kesiapan fisik dan batin.
Sementara itu, suasana khidmat dan penuh haru menyelimuti acara syukuran serta doa bersama pelepasan Rudy Rinaldy bersama istri menuju Tanah Suci.
Dalam kesempatan itu, kegiatan ini digelar sebagai bentuk dukungan moral dari keluarga besar Diskominfotik.
Di awal acara, lantunan ayat suci Al-Qur’an mengawali rangkaian kegiatan.
Selanjutnya, pemutaran video panorama Makkah Al-Mukarramah turut menyentuh hati para hadirin.
Makna Perjalanan Haji
Pada kesempatan tersebut, H. Muchlis Bahar, Lc, hadir sebagai pemberi tausiyah.
Ia menegaskan bahwa haji bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan spiritual yang memerlukan kesiapan batin.
Lebih lanjut, ia mengingatkan pentingnya meluruskan niat sejak awal, menjaga akhlak, serta mengendalikan tutur kata dan perbuatan selama menjalankan ibadah.
“Kesabaran adalah kunci utama dan harus diiringi dengan taubat yang sungguh-sungguh,” ujarnya.
Tak hanya itu, ia juga menjelaskan rangkaian ibadah yang akan dijalani.
Mulai dari salat berjamaah di Masjid Nabawi dan Masjidil Haram hingga puncak ibadah di Arafah, Muzdalifah, dan Mina.
Menurutnya, aspek istitha’ah atau kemampuan menjadi pondasi utama dalam menjalankan ibadah haji.
Kemampuan tersebut meliputi kesiapan fisik, finansial, dan keamanan selama berada di Tanah Suci.
Di sisi lain, Kabid Statistik Eko Faisal mewakili internal dinas menyampaikan rasa syukur dan harapan atas keberangkatan pimpinan mereka.
“Kami mendoakan agar Bapak Kepala Dinas beserta istri memperoleh haji yang mabrur dan seluruh proses ibadah berjalan lancar,” katanya.
Senada dengan itu, Komisioner Komisi Informasi Sumbar, Idham Fadil, juga menyampaikan doa serupa.
Ia berharap rombongan diberikan kesehatan hingga kembali ke tanah air.
Dalam sambutannya, Rudy Rinaldy mengenang pengalaman pribadi saat memberangkatkan sang ibunda berhaji.
Ia menyampaikan bahwa ibunya wafat di Makkah beberapa hari sebelum jadwal kepulangan.
Pengalaman tersebut kemudian menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya kesiapan fisik dalam menghadapi perjalanan jauh dan cuaca ekstrem di Tanah Suci.
“Mohon doa restu dan dimaafkan segala khilaf kami,” ucapnya kepada seluruh hadirin.
Menjelang akhir acara, penyerahan cendera mata dilakukan sebagai bentuk penghormatan dari staf kepada pimpinan.
Akhirnya, kegiatan ditutup dengan doa bersama yang mengiringi keberangkatan menuju Tanah Suci.
Doa tersebut menjadi harapan tulus agar perjalanan ibadah ini membawa pulang pengalaman keimanan yang memberi manfaat bagi banyak orang.

























