Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Entertainment

Satu Desa, Banyak Wahana: Air Panas, Jeram, sampai Durian Sepuasnya di Desa Pincara

×

Satu Desa, Banyak Wahana: Air Panas, Jeram, sampai Durian Sepuasnya di Desa Pincara

Sebarkan artikel ini
WISATA — Desa Pincara di Kabupaten Luwu Utara mengemas potensi alam menjadi paket wisata lengkap, mulai air panas alami, arung jeram, river tubing, agrowisata durian, hingga kuliner lokal. Pengunjung datang sekali dan ingin mencoba semuanya. (foto/ist)

JAMLIMA.COM, LUWU UTARA — Provinsi Sulawesi Selatan tak pernah kehabisan alasan untuk dipuji. Dari garis pantai hingga pegunungan, pilihan wisatanya padat dan berkarakter. Salah satu yang mulai dilirik wisatawan adalah Desa Pincara, desa wisata di utara Masamba, ibu kota Kabupaten Luwu Utara.

Desa ini tak sekadar menawarkan pemandangan. Pincara aktif mengemas alamnya menjadi paket wisata lengkap: air panas alami, arung jeram, river tubing, agrowisata durian, hingga kuliner lokal. Datang sekali, rasanya ingin mencoba semuanya.

Air Panas Alami, Sensasi Rebus Telur

Daya tarik utama Pincara adalah permandian air panas yang langsung mengalir dari pegunungan. Airnya melewati sungai lalu ditampung di beberapa kolam. Di titik terdekat dengan sumber, uap panas mengepul tebal—suhunya bahkan cukup untuk merebus telur.

Pengelola menjual telur mentah bagi pengunjung. Rendam beberapa menit, angkat, dan telur setengah matang siap disantap. Sederhana, tapi justru itu sensasinya.

Begitu masuk kolam utama, suhu air lebih bersahabat—hangat dan menenangkan. Banyak pengunjung datang untuk relaksasi. Warga setempat juga meyakini air panas ini dulu dipakai sebagai terapi pengobatan tradisional.

Adrenalin Arung Jeram dan River Tubing

Pincara juga tidak membiarkan sungainya mengalir sia-sia. Jeram-jeram alami dimanfaatkan untuk arung jeram, sementara jalur sungai yang lebih tenang dipakai untuk river tubing.

River tubing menempuh jarak sekitar dua kilometer menyusuri Sungai Pincara. Pengunjung cukup duduk di ban karet dengan pelampung, lalu mengikuti arus hingga garis akhir. Harganya ramah kantong: Rp30.000 per orang, sudah termasuk pendamping dari start sampai finish.

Murah, aman, dan seru—kombinasi yang sulit ditolak.


Baca juga: Wisata Sulsel Bergeliat Saat Nataru 2025, Destinasi Ini Paling Ramai


Tangkap ikan, durian, sampai Aula Pelatihan

Aktivitas unik lainnya: menangkap ikan di kolam tradisional memakai alat bambu. Sederhana tapi terasa lokal dan autentik—anak-anak biasanya paling antusias.

Soal buah, Luwu Utara dikenal sebagai lumbung durian. Di Pincara, hampir 50% warga memiliki kebun durian. Kebun-kebun itu kini disulap jadi agrowisata lengkap dengan pondok makan. Datang saat musimnya, aromanya langsung “menyambut” dari jauh.

Desa ini juga menyiapkan aula dan gazebo untuk pelatihan outdoor atau gathering. Fasilitasnya lengkap: LCD, sound system, papan tulis, konsumsi hingga penginapan. Jadi bukan cuma wisata santai, tapi cocok juga untuk kegiatan komunitas atau sekolah.

Kuliner khas yang wajib dicoba

Datang ke Pincara tanpa mencicipi kapurung rasanya kurang lengkap. Di sini, kapurung disajikan unik: sayur dan lauk dipisah, bahkan sering dimakan tanpa sendok. Lebih tradisional, lebih berasa.

Untuk oleh-oleh, pilihannya jelas: durian, langsat, atau cendera mata UMKM seperti gantungan kunci khas desa.

Akses Mudah, Perjalanan Cepat

Meski jaraknya sekitar 500 kilometer dari Makassar, aksesnya makin praktis. Bus darat tersedia dengan waktu tempuh 8–10 jam. Jika ingin cepat, bisa naik pesawat ke Masamba, lalu lanjut perjalanan darat sekitar 20 menit saja ke Desa Pincara.


Singkatnya, Pincara bukan cuma tempat berendam air panas. Desa ini aktif mengubah potensi alam jadi pengalaman wisata yang lengkap: santai dapat, adrenalin dapat, makan enak pun dapat.
Kalau sedang menyusun daftar liburan di Sulsel, Pincara layak masuk urutan atas.


Baca juga:

Example 468x60
Example 300250
gadis dan lelaki muda mengenakan busana merah merayakan tahun baru imlek dengan latar lampion dan dekorasi tionghoa
Entertainment

JAMLIMA.COM, NASIONAL — Bagi banyak warga Tionghoa, Tahun Baru Imlek bukan sekadar pergantian kalender. Sebaliknya, mereka memaknainya sebagai ruang bersama untuk saling mengirim doa, menebar berkah,…