JAMLIMA.COM, BANTAENG — Petani kentang di Bantaeng masih bergantung pada pasokan benih dari luar daerah. Kondisi ini berdampak langsung pada biaya produksi dan ketersediaan benih saat musim tanam, terutama ketika distribusi tersendat.
Ketergantungan tersebut membuat sebagian petani harus menyesuaikan waktu tanam, bahkan menanggung harga benih yang lebih tinggi.
Situasi ini menjadi perhatian pemerintah daerah karena berpengaruh pada stabilitas produksi kentang lokal.
Pemerintah Kabupaten Bantaeng mulai merespons kondisi tersebut. Bupati Bantaeng, Uji Nurdin, meninjau langsung pengembangan kultur jaringan sebagai upaya menghadirkan benih kentang lokal yang lebih mandiri dan berkelanjutan.
Selama ini, pasokan benih dari luar daerah dinilai belum mampu memenuhi kebutuhan secara konsisten.
Selain faktor distribusi, kualitas benih yang tidak seragam juga menjadi tantangan di lapangan.
Baca juga: Petani Binaan PT Vale Panen Jagung Pakan di Tondowolio, Aktifkan Lahan Tidur
Solusi Benih Lokal
Melalui teknologi kultur jaringan, pemerintah daerah menargetkan penyediaan benih unggul dapat dilakukan secara lokal dengan kualitas yang lebih terkontrol.
Metode ini dinilai mampu mempercepat produksi bibit dalam jumlah besar sekaligus menjaga keseragaman tanaman.
Program tersebut juga diarahkan untuk memperkuat kemandirian petani dan menekan biaya produksi dalam jangka panjang.
Dengan dukungan teknologi, benih kentang lokal diharapkan mampu memenuhi kebutuhan petani secara berkelanjutan.
Pemerintah daerah menyatakan pengembangan ini akan terus diperkuat agar distribusi benih lebih merata dan sektor pertanian kentang di Bantaeng dapat tumbuh lebih stabil.

























