Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Lokal

Stunting Jakarta Selatan 14,5%, Wali Kota Ingatkan Ancaman Serius bagi Masa Depan Anak

×

Stunting Jakarta Selatan 14,5%, Wali Kota Ingatkan Ancaman Serius bagi Masa Depan Anak

Sebarkan artikel ini
Ibu dan anak mengikuti penimbangan di posyandu untuk pencegahan stunting di Indonesia
STUNTING - Seorang ibu mendampingi anaknya saat penimbangan di posyandu sebagai bagian dari upaya pencegahan stunting yang masih menjadi ancaman bagi masa depan anak. (foto/ist/jamlima.com)

JAMLIMA.COM, JAKSEL — Ancaman stunting masih membayangi masa depan anak-anak. Wali Kota Administrasi Jakarta Selatan, M Anwar, mengingatkan bahwa kondisi ini tidak boleh dianggap sepele karena berdampak langsung pada kualitas generasi mendatang.

Peringatan itu disampaikan saat pembukaan Musrenbang Tematik Stunting di Jakarta Selatan, Rabu (8/4/2026).

Menurut Anwar, pencegahan stunting bukan sekadar program kesehatan, tetapi investasi jangka panjang untuk menciptakan generasi yang sehat dan produktif.

“Fokus kami adalah memastikan anak-anak tumbuh optimal, karena mereka adalah masa depan bangsa,” ujarnya.

Data menunjukkan prevalensi stunting di Jakarta Selatan berada di angka 14,5 persen, terendah di DKI Jakarta. Namun, angka tersebut dinilai belum aman.

“Jangan sampai kita lengah. Target nasional lima persen harus dikejar bersama,” tegasnya.


Baca juga: Hidden Hunger Ancam Anak Indonesia Meski Stunting Turun


Pemerintah terus mendorong intervensi langsung, mulai dari sanitasi berbasis masyarakat, pemberian makanan bergizi, hingga perbaikan kualitas lingkungan dan air bersih.

Anwar juga menekankan bahwa penanganan stunting tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah.

“Peran keluarga, lingkungan, hingga kebiasaan sehari-hari sangat menentukan,” katanya.

Sementara itu, Plt Kepala Subanpekko Jakarta Selatan, Hera Lidiawati, mengungkapkan dari 64.213 balita yang ditimbang pada 2025, sebanyak 794 balita mengalami stunting.

Faktor utama penyebabnya adalah asupan gizi tidak seimbang (62 persen) dan riwayat infeksi (32 persen).

Selain itu, terdapat faktor lain seperti gizi ibu hamil, imunisasi yang tidak lengkap, kebiasaan merokok dalam keluarga, hingga sanitasi yang buruk.

Pemkot Jakarta Selatan kini memperkuat kolaborasi lintas sektor untuk menekan angka stunting tersebut secara bertahap.

“Dengan kerja bersama, kami optimistis angka stunting bisa terus turun,” tutup Hera.


Example 468x60
Example 300250
aktivitas koperasi desa
Lokal

JAMLIMA.COM, NASIONAL — Dana desa Rp34,57 triliun pada 2026 menjadi penggerak utama pengembangan Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih, termasuk di Kabupaten Mimika, Papua Tengah. Menteri…