Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Nasional

Harga Plastik Naik, UMKM Terpaksa Naikkan Harga Produk, Omzet Turun 50%

×

Harga Plastik Naik, UMKM Terpaksa Naikkan Harga Produk, Omzet Turun 50%

Sebarkan artikel ini
aktivitas produksi kemasan plastik untuk umkm makanan dan minuman
HARGA PLASTIK — Aktivitas produksi kemasan plastik untuk kebutuhan UMKM makanan dan minuman di Indonesia, 2026. Kenaikan harga bahan baku berdampak pada biaya produksi usaha. (foto/ist/jamlima.com)

JAMLIMA.COM, NASIONAL — Kenaikan harga plastik mulai berdampak langsung ke konsumen. Pelaku UMKM kini terpaksa menaikkan harga produk setelah biaya kemasan melonjak, sementara omzet usaha justru dilaporkan turun hingga 50 persen.

Kenaikan harga plastik turut dipicu gangguan pasokan bahan baku impor di tengah konflik geopolitik, yang mendorong biaya kemasan terutama pada sektor makanan dan minuman.

Kenaikan harga plastik ini tidak hanya menekan pelaku usaha, tetapi juga berpotensi memicu kenaikan harga makanan dan minuman di tingkat konsumen.

Kenaikan harga plastik terjadi karena pasokan bahan baku nafta terganggu di jalur distribusi utama seperti Selat Hormuz. Kondisi ini meningkatkan biaya kemasan dan menekan pelaku UMKM, bahkan memicu penurunan omzet secara signifikan. Pemerintah menyiapkan alternatif pasokan dan mendorong penggunaan bahan baku lokal sebagai solusi.

Kenaikan biaya kemasan mulai terasa di lapangan, terutama pada pelaku usaha kecil yang bergantung pada plastik sekali pakai. Banyak pelaku usaha kini mencari alternatif kemasan yang lebih murah untuk menjaga kelangsungan bisnis.

Baca juga: Tekan Defisit Rp51 Triliun Daerah, Gubernur NTT Perkuat Ekonomi Produktif


Bahan Baku Plastik

Menteri UMKM Maman Abdurrahman menyebut ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan baku plastik masih mencapai 55 persen. Sekitar 70 persen distribusi melewati Selat Hormuz yang terdampak konflik geopolitik.

“Nafta sebagai bahan baku utama plastik sebagian besar berasal dari Timur Tengah. Gangguan distribusi ini mendorong kenaikan harga secara signifikan,” ujarnya di Jakarta, Kamis (9/4/2026).

Tekanan harga plastik semakin terasa di sektor makanan dan minuman yang sangat bergantung pada kemasan plastik untuk operasional harian.

Data Gabungan Produsen Makanan Minuman Indonesia tahun 2026 menunjukkan kelangkaan nafta menurunkan kapasitas produksi plastik. Sejumlah lini produksi berhenti dan harga eceran ikut melonjak.

Pemerintah menyiapkan alternatif pasokan bahan baku dari Afrika, India, dan Amerika untuk menjaga distribusi tetap stabil dan menekan lonjakan harga di dalam negeri.

Langkah lanjutan mengarah pada diversifikasi sumber bahan baku untuk mengurangi ketergantungan pada wilayah berisiko tinggi dan memperkuat ketahanan industri nasional.

Transformasi bahan baku juga mulai diarahkan ke alternatif lokal seperti bambu, rumput laut, dan singkong yang berpotensi menjadi bioplastik.

“Ini bukan hanya solusi krisis pasokan, tetapi juga peluang membangun industri hijau berbasis potensi lokal,” kata Maman.

Biaya produksi yang masih tinggi menjadi tantangan dalam pengembangan bahan alternatif tersebut. Pemerintah berharap peningkatan permintaan dapat menekan biaya produksi dan memperluas penggunaan di pasar domestik.

Diversifikasi bahan baku dan penguatan industri lokal diharapkan mampu menjaga stabilitas harga sekaligus melindungi pelaku UMKM dari tekanan global.


Example 468x60
Example 300250