Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Internasional

Di Tengah Ancaman Perang Iran–Amerika, Nyawa Sipil Jadi Taruhan

×

Di Tengah Ancaman Perang Iran–Amerika, Nyawa Sipil Jadi Taruhan

Sebarkan artikel ini
warga sipil iran terdampak ancaman perang iran amerika
ANCAMAN KEMANUSIAAN - Warga sipil berada di tengah meningkatnya ketegangan Iran–Amerika saat demonstrasi dan ancaman konflik militer membuat keselamatan manusia menjadi taruhan utama. data HRANA mencatat 2.403 korban tewas dalam 17 hari unjuk rasa, yang oleh Iran disebut sebagai pembunuhan sistematis. (foto/ilustrasi)

JAMLIMA.COM, INTERNASIONAL — Demonstrasi di Iran terus meningkat dan memicu ketegangan internasional. Eskalasi ini menempatkan nyawa sipil dalam konflik Iran–Amerika sebagai pihak paling rentan di tengah ancaman kekerasan dan manuver militer.

Trump menyatakan Amerika Serikat tengah mempertimbangkan berbagai opsi, termasuk langkah militer. Ia bahkan mendorong para demonstran Iran untuk terus beraksi dan merebut lembaga-lembaga negara, seraya menyebut bantuan sedang dalam perjalanan.

Menanggapi pernyataan tersebut, pemerintah Iran mengirim surat resmi ke Perserikatan Bangsa-Bangsa. Iran menyatakan Amerika Serikat dan Israel bertanggung jawab langsung atas korban jiwa dalam unjuk rasa.

Menurut pemerintah Iran, banyak kematian pengunjuk rasa terjadi akibat tembakan milisi bersenjata.

Profesor konflik internasional Ibrahim Freihat menilai perubahan sikap Amerika berlangsung sangat cepat.

“Amerika Serikat secara langsung menyerukan kepada para pengunjukrasa untuk merebut lembaga-lembaga pemerintah,” ujarnya.

Baca juga: ⇒ WARNING: Serangan Siber Besar-besaran Mengincar Sistem Perusahaan Global

Kesenjangan Militer AS–Iran

Ketegangan politik turut menyorot perbandingan kekuatan militer Amerika Serikat dan Iran. Data Global Firepower 2025 menunjukkan perbedaan mencolok melalui indikator Power Index.

Amerika Serikat memiliki sekitar 1,33 juta personel aktif, lebih dari dua kali lipat Iran yang berjumlah sekitar 610 ribu personel. Dari sisi anggaran, AS mengalokasikan US$895 miliar, sementara Iran sekitar US$15,45 miliar.

Dominasi AS terlihat pada kekuatan udara dengan 1.790 pesawat tempur dan 1.002 helikopter serang. Iran tercatat memiliki 188 pesawat tempur dan 13 helikopter serang.

Di darat, AS mengoperasikan 4.640 tank dan hampir 392 ribu kendaraan lapis baja. Sedangkan Iran memiliki 1.713 tank dan sekitar 65.825 kendaraan lapis baja.

Namun unggul dalam jumlah 1.517 mobile rocket projectors, dibanding AS yang memiliki 641 unit.

Di laut, keunggulan AS kembali menonjol dengan 440 armada, termasuk 11 kapal induk, 70 kapal selam, dan 81 kapal perusak.

Iran tidak memiliki kapal induk maupun kapal perusak dan lebih mengandalkan kapal patroli serta kapal ringan.

Ancaman Terbuka dan Korban Ribuan Jiwa

Di tengah eskalasi, mantan Penasihat Keamanan Nasional AS Mark Pfeifel menyatakan,

“Amerika Serikat tetap akan melancarkan serangan mendadak terhadap Iran, tetapi bukan serangan berskala besar.”

Ia menambahkan kemungkinan target serangan terbatas pada markas tentara, polisi, dan Garda Revolusi guna menekan risiko korban sipil.

“Amerika Serikat bahkan sedang bersiap menghadapi kekosongan kekuasaan jika rezim Iran tiba-tiba runtuh,” kata Pfeifel.

Sebagai langkah pencegahan, AS mulai menarik sebagian personelnya dari pangkalan-pangkalan penting di Timur Tengah.

Sementara itu, Qatar mengonfirmasi penarikan personel dari Pangkalan Udara Al Udeid.

Ketegangan meningkat setelah Iran menyiarkan ancaman langsung terhadap Trump di televisi pemerintah dengan tulisan,

“Kali ini tidak akan meleset dari sasaran.”

Laporan Agence France-Presse menyebut ini sebagai ancaman paling eksplisit Teheran sejauh ini.

Di dalam negeri, pengunjuk rasa pro-pemerintah terdengar meneriakkan, “Matilah Amerika!” sambil menyatakan dukungan kepada Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.

Sementara itu, data HRANA mencatat 2.403 korban tewas dalam 17 hari unjuk rasa, yang oleh Iran disebut sebagai pembunuhan sistematis oleh milisi yang didanai Amerika Serikat dan Israel.

Situasi ini menunjukkan bahwa nyawa sipil dalam konflik Iran–Amerika terus berada di posisi paling rawan seiring meningkatnya eskalasi politik dan militer.

Baca juga: ⇒ Eskalasi AS–Iran Picu Kekhawatiran Gangguan Pasokan Minyak Global

Example 468x60
Example 300250