Scroll untuk baca artikel
Internasional

AS Sita Kapal Iran di Selat Hormuz, Jalur Minyak Dunia Terguncang

×

AS Sita Kapal Iran di Selat Hormuz, Jalur Minyak Dunia Terguncang

Sebarkan artikel ini
kapal kargo iran disita di selat hormuz dengan pengawasan militer
HORMUZ MEMANAS — Kapal kargo berbendera Iran disita di Selat Hormuz, memicu ketegangan baru jalur energi global. (foto/ilustrasi)

JAMLIMA.COM, INTERNASIONAL — Amerika Serikat menyita kapal kargo berbendera Iran di kawasan Selat Hormuz pada Senin, (20/4/2026), memicu ketegangan baru di jalur energi paling vital dunia. Insiden ini terjadi di tengah konflik yang terus meningkat antara kedua negara.

Peristiwa berlangsung di perairan sekitar Selat Hormuz, jalur strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan pasar global.

Penyitaan dilakukan setelah kapal tersebut diduga mencoba menembus blokade laut yang diberlakukan Amerika Serikat.

Situasi ini langsung berdampak pada lalu lintas pelayaran internasional yang mengalami gangguan signifikan.

Jalur Energi Dunia Terguncang

Pemerintah Amerika Serikat melalui operasi militernya mengambil alih kapal Iran setelah awak kapal tidak mematuhi peringatan selama beberapa jam.

Menurut data pelayaran global, hanya tiga kapal yang melintas dalam 12 jam setelah insiden, jauh dari rata-rata sekitar 130 kapal per hari.

Selat Hormuz sendiri menjadi jalur distribusi sekitar 20 persen minyak dunia, sehingga gangguan kecil sekalipun berdampak besar terhadap pasar energi global.

Dalam enam hari terakhir sejak blokade diberlakukan pada 13 April 2026, setidaknya satu kapal berhasil disita dan puluhan lainnya dicegat oleh militer Amerika Serikat.

Sebagai contoh konkret, sejumlah kapal tanker memilih berhenti atau berbalik arah karena meningkatnya risiko keamanan di kawasan tersebut.

Ketegangan ini juga berdampak langsung pada harga minyak global yang sempat naik sekitar 5 persen akibat gangguan distribusi.

Bagi Indonesia, situasi ini berpotensi memengaruhi stabilitas pasokan energi karena ketergantungan pada jalur impor global.

Jika konflik terus meningkat tanpa solusi diplomatik, dunia menghadapi risiko krisis energi yang lebih luas dalam waktu dekat.