Scroll untuk baca artikel
Internasional

Houthi Kuasai Titik Strategis Bab al-Mandab, Serangan Rudal dan Drone Tekan Arab Saudi

×

Houthi Kuasai Titik Strategis Bab al-Mandab, Serangan Rudal dan Drone Tekan Arab Saudi

Sebarkan artikel ini
Houthi Bab al-Mandab dan serangan ke Arab Saudi
HOUTHI BAB AL-MANDAB — Eskalasi Houthi setelah memperkuat posisi di sekitar Selat Bab al-Mandab dan meningkatkan serangan rudal serta drone ke Arab Saudi. Hingga Kamis, (17/9/2026), jalur strategis Laut Merah itu masih menghadapi tekanan keamanan tinggi. (Foto: Ilustrasi/Jamlima.com)

  • Houthi memperkuat penguasaan wilayah strategis di pesisir Laut Merah dan sekitar Selat Bab al-Mandab.
  • Kelompok itu melancarkan serangan rudal dan drone terhadap sejumlah sasaran di Arab Saudi.
  • Infrastruktur minyak dan jalur ekspor Saudi ikut menghadapi tekanan akibat eskalasi konflik.
  • Bab al-Mandab belum tertutup total karena kapal komersial masih tercatat melintas hingga Rabu, (16/9/2026).

JAMLIMA.COM, SANAA — Eskalasi konflik Houthi dan Arab Saudi memasuki fase baru setelah kelompok bersenjata Yaman itu memperkuat posisinya di sekitar Selat Bab al-Mandab.

Houthi menguasai sejumlah titik strategis di sepanjang pesisir Laut Merah, termasuk kawasan sekitar Mocha dan Pulau Perim atau Mayun yang berada tepat di jalur Bab al-Mandab.

Perkembangan tersebut meningkatkan kemampuan kelompok itu untuk mengancam jalur pelayaran yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden.

Pada saat bersamaan, Houthi meningkatkan serangan menggunakan rudal dan pesawat nirawak atau drone ke wilayah Arab Saudi.

Sejumlah kota, pangkalan militer, hingga infrastruktur energi Saudi menjadi sasaran atau disebut sebagai target dalam rangkaian serangan terbaru.

Cengkeraman Bab al-Mandab

Bab al-Mandab merupakan salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia.

Selat sempit tersebut berada di antara Yaman di Semenanjung Arab dengan Djibouti dan Eritrea di Afrika.

Jalur ini menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan Samudra Hindia.

Kapal dari Asia menuju Eropa melalui Terusan Suez umumnya melewati Bab al-Mandab.

Lebar bagian tersempitnya sekitar 18 mil atau sekitar 29 kilometer.

Jalur tersebut juga menjadi rute penting pengiriman minyak dan komoditas global.

Kemampuan Houthi memperluas penguasaan di wilayah Yaman bagian barat membuat perhatian internasional tertuju pada keamanan selat tersebut.

Houthi sebelumnya merebut Mocha sebelum bergerak ke pulau-pulau Laut Merah dan memperkuat posisi di sekitar Bab al-Mandab.

Namun, kondisi itu belum berarti Bab al-Mandab sepenuhnya ditutup.

Data pelacakan kapal yang dilaporkan Kamis, (17/9/2026), mencatat 21 kapal melintasi Bab al-Mandab pada Rabu, (16/9/2026).

Jumlah tersebut turun dari 24 kapal sehari sebelumnya.

Artinya, jalur perdagangan masih beroperasi meski risiko keamanan meningkat.

Serangan ke Saudi

Tekanan Houthi tidak hanya berlangsung di laut.

Kelompok tersebut juga kembali meluncurkan rudal dan drone ke wilayah Arab Saudi setelah konflik kedua pihak meningkat tajam pada September 2026.

Serangan pada Selasa, (8/9/2026), mengenai sejumlah wilayah Saudi dan memicu kebakaran pada fasilitas energi.

Sedikitnya 73 orang dilaporkan terluka dalam rangkaian serangan tersebut.

Eskalasi kemudian berlanjut.

Houthi mengklaim menyerang pangkalan udara Khamis Mushait serta fasilitas Saudi Aramco di Yanbu menggunakan rudal dan drone.

Klaim mengenai kerusakan pada fasilitas Aramco tidak seluruhnya mendapat konfirmasi independen dari pemerintah Saudi.

Yanbu memiliki posisi sangat penting karena menjadi salah satu pusat ekspor minyak Arab Saudi di pesisir Laut Merah.

Kawasan tersebut semakin strategis setelah jalur energi Saudi menghadapi gangguan akibat konflik regional.

Ancaman Jalur Minyak

Tekanan terhadap sektor energi Saudi meningkat setelah jaringan pipa minyak East-West dihentikan menyusul serangan udara.

Pipa tersebut membawa minyak dari wilayah produksi Saudi di bagian timur menuju fasilitas ekspor di Yanbu di Laut Merah.

Jalur itu memiliki fungsi strategis karena memungkinkan Arab Saudi mengirim minyak menuju Laut Merah tanpa harus melalui Selat Hormuz.

Gangguan pada jalur tersebut kemudian menambah kekhawatiran pasar terhadap pasokan energi global.

Arab Saudi berupaya mengalihkan sebagian pengiriman minyak melalui rute alternatif.

Langkah tersebut ikut meredakan kekhawatiran pasar pada Kamis, (17/9/2026), meski risiko konflik masih tinggi.

Drone Dekati Makkah

Arab Saudi juga melaporkan berhasil mencegat sebuah drone di wilayah selatan Makkah.

Koalisi yang dipimpin Saudi menyatakan drone tersebut berasal dari Houthi.

Houthi membantah menjadikan Makkah sebagai sasaran dan menyebut laporan tersebut tidak benar.

Karena terdapat perbedaan keterangan antara kedua pihak, sasaran akhir drone tersebut belum dapat dipastikan secara independen.

Insiden itu tetap memperlihatkan jangkauan ancaman drone dalam konflik terbaru Houthi dan Arab Saudi.

Pelayaran Belum Tertutup

Di tengah meningkatnya ketegangan, informasi mengenai status Bab al-Mandab perlu dibedakan antara penguasaan wilayah dan penutupan selat.

Houthi kini memiliki posisi yang jauh lebih kuat di sisi Yaman dari Bab al-Mandab.

Mereka juga memiliki kemampuan rudal dan drone yang dapat meningkatkan risiko terhadap kapal yang melewati kawasan tersebut.

Namun, data pelayaran terbaru menunjukkan kapal masih melintasi Bab al-Mandab.

Karena itu, per Kamis, (17/9/2026), belum tepat menyebut Houthi telah menutup total Selat Bab al-Mandab.

Situasi yang lebih akurat adalah Houthi memperketat penguasaan di sekitar jalur strategis tersebut.

Kemudian, meningkatkan tekanan terhadap pelayaran, terutama di tengah konflik yang kembali memanas dengan Arab Saudi.

Konflik Makin Meluas

Konflik terbaru juga membawa dampak besar bagi penduduk Yaman.

Lebih dari 100 ribu orang dilaporkan mengungsi akibat pertempuran baru di wilayah pesisir dan kawasan lain di Yaman.

Akses bantuan kemanusiaan ikut terganggu karena kerusakan infrastruktur dan kondisi keamanan.

Sementara itu, keamanan Bab al-Mandab menjadi perhatian lebih luas karena gangguan serius pada jalur tersebut dapat memengaruhi perdagangan antara Asia dan Eropa.

Risiko semakin besar jika gangguan Bab al-Mandab terjadi bersamaan dengan masalah pelayaran di Selat Hormuz.

Perkembangan tersebut membuat eskalasi Houthi dan Arab Saudi tidak lagi hanya menjadi persoalan konflik Yaman.

Pertempuran kini bersinggungan langsung dengan keamanan jalur perdagangan, ekspor minyak Arab Saudi, serta stabilitas pasokan energi dunia.