- Pentagon mencatat biaya Operation Epic Fury mencapai US$33,4 miliar atau sekitar Rp518 triliun hingga akhir Juni 2026.
- Sebanyak US$22,3 miliar dari biaya tersebut berasal dari amunisi yang digunakan selama perang melawan Iran.
- Penggunaan senjata dalam jumlah besar menyebabkan kekurangan pada persediaan strategis dan membuka masalah kapasitas produksi industri pertahanan AS.
- Data terbaru CBO menunjukkan biaya perang telah meningkat menjadi sekitar US$38 miliar hingga 1 Agustus 2026 dan diperkirakan bertambah US$3 miliar setiap bulan.
WASHINGTON, JAMLIMA.COM — Perang melawan Iran mulai memberikan tekanan besar terhadap keuangan dan persediaan senjata Amerika Serikat.
Laporan pengawas Pentagon mengungkap biaya Operation Epic Fury mencapai sekitar US$33,4 miliar selama periode 28 Februari hingga 30 Juni 2026.
Dengan asumsi kurs sekitar Rp15.500 per dolar AS, nilai itu setara hampir Rp518 triliun.
Namun, angka tersebut bukan seluruhnya merupakan kerugian akibat peralatan yang hancur.
Sebagian besar merupakan biaya amunisi, kehilangan aset militer, serta biaya tambahan untuk menjalankan operasi perang.
Laporan tersebut disampaikan kepada Kongres dan dirilis pada Senin (14/9/2026).
Rp518 Triliun Terpakai
Dari total US$33,4 miliar tersebut, sekitar US$22,3 miliar berasal dari amunisi yang telah digunakan.
Angka itu menjadi komponen terbesar pengeluaran militer AS dalam empat bulan pertama Operation Epic Fury.
Sekitar US$3,7 miliar lainnya berasal dari peralatan militer yang hilang atau mengalami kerusakan.
Sementara itu, sekitar US$7,4 miliar merupakan biaya tambahan operasi militer sehari-hari.
Besarnya penggunaan amunisi kini mulai menimbulkan persoalan baru bagi Pentagon.
Pengawas pertahanan AS menyatakan pengeluaran amunisi dalam Operation Epic Fury telah menyebabkan “strategic inventory shortfalls” atau kekurangan pada persediaan strategis.
Laporan itu juga menemukan hambatan pada kemampuan industri pertahanan untuk memasok kembali amunisi yang sudah digunakan.
Amunisi Mulai Tertekan
Masalah utama tidak hanya terletak pada besarnya uang yang dikeluarkan.
Kecepatan penggunaan rudal dan amunisi presisi dinilai lebih tinggi dibanding kemampuan industri untuk mengganti stok tersebut.
Congressional Budget Office atau CBO bahkan memperkirakan pemulihan sebagian persediaan amunisi AS dapat membutuhkan waktu hingga lima tahun.
Tekanan terbesar terjadi pada sejumlah amunisi penting, termasuk rudal presisi jarak jauh dan pencegat rudal.
Kondisi itu menimbulkan kekhawatiran terhadap kesiapan militer AS jika muncul konflik besar lain sebelum stok senjata kembali pulih.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth sebelumnya meminta hampir US$90 miliar dana darurat kepada Kongres untuk mengisi kembali persediaan amunisi.
“Without these funds, we face critical shortfalls,” kata Hegseth dalam sidang Senat pada Juli 2026.
Tanpa tambahan dana tersebut, menurutnya, AS menghadapi risiko kekurangan serius pada sejumlah persediaan senjata.
Pesawat Ikut Rusak
Perang Iran juga menimbulkan kerugian terhadap sejumlah aset militer Amerika Serikat.
Laporan pengawas Pentagon mencatat empat pesawat F-15 hancur.
Satu pesawat tempur F-35 dan tujuh pesawat tanker KC-135 dilaporkan mengalami kerusakan.
Selain itu, hingga sekitar 30 drone MQ-9 Reaper dilaporkan hancur dalam rangkaian operasi tersebut.
Jumlah biaya sebenarnya berpotensi lebih besar.
Penghitungan US$33,4 miliar belum memasukkan seluruh biaya perbaikan pangkalan militer AS yang terkena serangan balasan Iran.
Serangan tersebut merusak atau menghancurkan ratusan bangunan dan fasilitas di pangkalan AS di Kuwait, Bahrain, Qatar, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Irak, Oman, dan Yordania.
Departemen Luar Negeri AS juga mengeluarkan sedikitnya US$79,2 juta untuk berbagai kebutuhan darurat, termasuk evakuasi personel dan warga.
Kerusakan fasilitas diplomatik AS di sejumlah negara kawasan diperkirakan membutuhkan sekitar US$184 juta untuk diperbaiki.
Biaya Terus Membengkak
Angka Rp518 triliun tersebut kini bukan lagi penghitungan terbaru.
CBO pada Selasa (15/9/2026) memperkirakan biaya perang AS melawan Iran telah mencapai sekitar US$38 miliar hingga 1 Agustus 2026.
Dengan asumsi kurs Rp15.500 per dolar AS, nilainya mendekati Rp589 triliun.
CBO memperkirakan pengeluaran itu dapat terus bertambah sekitar US$3 miliar setiap bulan apabila operasi berlanjut.
Penghitungan CBO juga belum memasukkan seluruh dampak serangan terbaru terhadap kapal komersial di Selat Hormuz maupun serangan terhadap instalasi militer AS di kawasan.
Biaya bunga dari utang yang digunakan untuk membiayai perang juga belum dihitung.
Artinya, beban akhir perang terhadap keuangan Amerika Serikat masih berpotensi jauh lebih tinggi.
Kesiapan Militer Dipertaruhkan
Persoalan persediaan amunisi menjadi isu strategis karena Amerika Serikat tetap harus mempertahankan kemampuan menghadapi konflik lain.
CBO memperingatkan kekurangan amunisi penting dapat membatasi respons Pentagon apabila muncul perang besar baru.
Salah satu skenario yang menjadi perhatian adalah kemungkinan konflik di kawasan Indo-Pasifik yang melibatkan China dan Taiwan.
Tekanan perang juga tidak berhenti pada anggaran pertahanan.
Gangguan terhadap Selat Hormuz dan fasilitas energi di kawasan Teluk telah mendorong kenaikan harga energi.
CBO memperkirakan dampak perang dapat meningkatkan inflasi AS sekitar 0,5 persen pada tiga bulan pertama 2027.
Hingga laporan terbaru, 18 personel militer Amerika Serikat tercatat meninggal dalam perang tersebut.
Dengan biaya yang terus meningkat dan pengisian kembali amunisi membutuhkan waktu bertahun-tahun, dampak perang Iran kini mulai bergeser dari medan tempur menuju persoalan kesiapan militer dan tekanan terhadap keuangan AS.
















