JAMLIMA.COM, NASIONAL — Duka menyelimuti Sulawesi Barat ketika Wakil Gubernur Salim S Mengga wafat pada Sabtu pagi, 31 Januari 2026 pukul 06.40 Wita.
Ia meninggal setelah menjalani perawatan di Rumah Sakit Siloam Makassar.
Pemerintah menyampaikan penyebabnya karena sakit, tanpa rincian medis.
Kepergiannya datang saat ia masih aktif bekerja dan memikul tanggung jawab pemerintahan.
Dari Militer ke Pengabdian Publik
Salim memulai pengabdian dari dunia militer. Lulusan AKABRI 1974 itu masuk kecabangan Kavaleri TNI AD dan meniti karier lapangan dengan disiplin tinggi.
Ia dipercaya memegang sejumlah jabatan strategis hingga mencapai puncaknya sebagai Pangdam di Komando Daerah Militer XV/Pattimura pada 2005–2006.
Ia menutup masa dinas dengan pangkat Mayor Jenderal TNI, membawa pengalaman kepemimpinan, ketegasan, dan manajemen krisis.
Setelah pensiun, ia tidak berhenti. Ia masuk politik dan terpilih sebagai anggota DPR RI dari daerah pemilihan Sulawesi Barat selama dua periode (2009–2016).
Di parlemen, ia mendorong pembangunan infrastruktur dan memperjuangkan kesejahteraan masyarakat daerah.
Gaya kerjanya tetap sama: langsung, praktis, dan fokus hasil.
Pada 20 Februari 2025, Presiden Prabowo Subianto melantik Salim sebagai Wakil Gubernur Sulawesi Barat periode 2025–2030.
Bersama Gubernur Suhardi Duka, ia membangun sinergi lintas sektor, memperkuat ekonomi kerakyatan, dan menata birokrasi lebih disiplin.
Ia lebih sering turun ke lapangan daripada tampil di depan kamera. Rekan kerja mengenalnya sebagai pemimpin tenang yang bekerja dalam sunyi.
Penghormatan dan Jejak Panjang
Pengabdian itu terhenti di tengah langkah. Ia masih menjabat, masih aktif, ketika ajal menjemput.
Fakta sederhana itu terasa berat bagi publik yang masih membutuhkan tenaganya.
Dari Makassar, jenazahnya diterbangkan ke Jakarta, disemayamkan di rumah duka kawasan Cilandak Barat, lalu dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.
Pemakaman di TMP menjadi penghormatan negara atas jasa militernya sekaligus dedikasinya di pemerintahan.
Perjalanan Salim menunjukkan satu garis lurus: dari barak, parlemen, hingga kantor gubernur, ia terus memilih melayani. Jabatan bisa berakhir cepat, tetapi pengabdian meninggalkan jejak panjang. Bagi masyarakat Sulawesi Barat, ia bukan sekadar pejabat—ia pemimpin yang bekerja tulus, lurus, dan konsisten untuk rakyat.
Baca juga:
















