Scroll untuk baca artikel
Internasional

Jejak Perintah Militer Trump: Dari Serangan Yaman hingga Perang Besar AS-Iran

×

Jejak Perintah Militer Trump: Dari Serangan Yaman hingga Perang Besar AS-Iran

Sebarkan artikel ini
Jejak operasi militer Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump hingga Juli 2026.
MILITER AS DAN DONALD TRUMP - Rangkaian operasi militer Amerika Serikat atas perintah Presiden Donald Trump, mulai serangan di Yaman hingga konflik besar AS-Iran pada 2025 hingga Akhir Juli 2026. (foto/ilustrasi)

  • Donald Trump memerintahkan sejumlah operasi militer besar Amerika Serikat sejak 2025, mulai dari Somalia, Yaman, Venezuela hingga Iran.
  • Operation Epic Fury menjadi kampanye militer terbesar AS di era Trump dengan sasaran fasilitas dan infrastruktur strategis Iran.
  • Konflik AS-Iran terus berlanjut hingga Juli 2026 meski sempat memasuki jeda sementara untuk membuka ruang diplomasi.
  • Hingga akhir Juli 2026, Trump menegaskan opsi militer tetap terbuka apabila perundingan dengan Iran tidak mencapai kesepakatan.

JAMLIMA.COM, INTERNASIONAL — Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump kembali menjalankan sejumlah operasi militer besar sejak awal 2025.

Operasi tersebut tidak hanya menyasar kelompok bersenjata seperti ISIS dan Houthi.

Akam tetapi juga berkembang menjadi konflik langsung dengan Iran serta operasi militer di Venezuela.

Hingga 28 Juli 2026, kebijakan militer Trump menunjukkan pola yang semakin agresif.

Tindakan militer mulai dari operasi kontraterorisme, serangan terhadap kelompok proksi Iran.

Kemudian perang terbuka melawan Iran yang menjadi konflik terbesar dalam masa jabatan keduanya.

Berikut rangkuman berdasarkan keterangan resmi Pentagon, Gedung Putih, Reuters, dan Associated Press lainnya.

Serangan terhadap ISIS di Somalia

Operasi militer pertama yang diperintahkan Trump terjadi pada 1 Februari 2025.

Militer Amerika Serikat melancarkan serangan udara terhadap markas ISIS-Somalia di Pegunungan Golis, Puntland.

Menurut Pentagon, operasi tersebut bertujuan menghancurkan jaringan ISIS.

Sebab dinilai tengah merencanakan serangan terhadap kepentingan Amerika Serikat dan negara mitra.

Penilaian awal pemerintah AS menyebut sejumlah anggota ISIS tewas serta tidak ditemukan korban sipil.

Namun demikian, klaim tersebut berasal dari hasil evaluasi militer AS sendiri.

Operation Rough Rider di Yaman

Pada 15 Maret 2025, Trump memerintahkan dimulainya Operation Rough Rider terhadap kelompok Houthi di Yaman.

Operasi ini menargetkan:

  • Pusat komando militer
  • Sistem pertahanan udara
  • Gudang rudal
  • Fasilitas drone
  • infrastruktur militer Houthi

Pemerintah AS menyatakan tujuan operasi adalah melindungi jalur pelayaran internasional di Laut Merah.

Tindakan tersebut setelah meningkatnya serangan Houthi terhadap kapal dagang dan kapal terkait dengan Amerika Serikat dan sekutunya.

Untuk mendukung operasi tersebut, Pentagon juga mengerahkan dua kelompok tempur kapal induk ke kawasan Timur Tengah.

Operation Midnight Hammer terhadap Iran

Eskalasi terbesar berikutnya terjadi pada 21–22 Juni 2025 ketika Trump memerintahkan Operation Midnight Hammer.

Serangan tersebut menghantam tiga fasilitas nuklir utama Iran, yaitu:

  • Fordow
  • Natanz
  • Isfahan

Pentagon menyatakan sasaran operasi adalah melemahkan kemampuan program nuklir Iran.

Meski demikian, sejumlah analis menilai kerusakan fasilitas fisik tidak otomatis berarti seluruh kemampuan nuklir Iran hilang.

Hal ini karena masih terdapat sumber daya manusia, teknologi, dan material nuklir yang tersisa.

Operasi militer di Venezuela

Pada 3 Januari 2026, Trump mengumumkan bahwa pasukan Amerika Serikat berhasil menangkap pemimpin Venezuela Nicolás Maduro melalui operasi militer di Caracas.

Pemerintah AS menyebut operasi tersebut dilakukan untuk mendukung penegakan hukum Amerika Serikat terhadap Maduro.

Namun, operasi ini juga memicu perdebatan internasional mengenai kedaulatan negara dan legalitas penggunaan kekuatan militer di wilayah negara lain.

Operation Epic Fury terhadap Iran

Konflik terbesar dimulai pada 28 Februari 2026 ketika Trump menyetujui dimulainya Operation Epic Fury.

Menurut kronologi resmi militer AS, persetujuan akhir diberikan Trump pada 27 Februari 2026.

Kemudian lebih dari 100 pesawat tempur dan berbagai sistem senjata dikerahkan pada hari berikutnya.

Dalam 24 jam pertama, lebih dari 1.000 target militer Iran diserang. Sasaran meliputi:

  • Markas Garda Revolusi Iran (IRGC)
  • Pusat komando militer
  • Sistem pertahanan udara
  • Pangkalan rudal balistik
  • Fasilitas produksi rudal dan drone
  • Kapal perang;
  • Fasilitas intelijen.

Operasi tersebut kemudian berkembang menjadi kampanye militer terbesar Amerika Serikat di Timur Tengah sejak perang melawan ISIS.

Kematian Ayatollah Ali Khamenei

Dalam gelombang awal Operation Epic Fury, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dilaporkan tewas.

Peristiwa tersebut menjadi titik balik konflik karena Iran kemudian melancarkan serangan balasan terhadap Israel.

Termasuknpangkalan militer Amerika Serikat, dan sejumlah negara Teluk yang menjadi lokasi pasukan AS.

Konflik terus berlanjut hingga Juli 2026

Meski sempat terjadi upaya gencatan senjata pada April 2026, konflik kembali meningkat pada Juli.

Trump kemudian mengirim pemberitahuan resmi kepada Kongres.

Bahwa operasi militer terhadap Iran kembali dilanjutkan mulai 7 Juli 2026.

Hal tersebut sesuai ketentuan War Powers Resolution.

Selama pertengahan Juli, militer AS melaksanakan serangan udara hampir setiap malam terhadap sasaran militer Iran.

Reuters melaporkan hingga 23 Juli 2026, Amerika telah menyelesaikan 12 malam berturut-turut operasi pengeboman terhadap berbagai target militer Iran.

Kongres mulai mempertanyakan strategi perang

Seiring berlanjutnya konflik, dukungan politik terhadap perang mulai menurun.

Pada 23 Juli 2026, DPR Amerika Serikat meloloskan resolusi yang meminta keterlibatan Kongres sebelum operasi militer dilanjutkan.

Walaupun resolusi tersebut lebih bersifat politik dan belum menghentikan operasi militer.

Namun, langkah tersebut menunjukkan meningkatnya kekhawatiran anggota parlemen terhadap arah perang dan strategi pemerintahan Trump.

 

Jeda sementara pada akhir Juli 2026

Menjelang akhir Juli, Trump memerintahkan penghentian sementara serangan udara terhadap Iran.

Keputusan tersebut diambil ketika jalur diplomasi mulai dibuka kembali melalui mediator regional.

Pada 27 Juli 2026, Trump mengatakan Amerika Serikat sedang melakukan pembicaraan yang “sangat mendalam” dengan Iran.

Akan tetapi, Ia menegaskan siap kembali menggunakan kekuatan militer apabila diplomasi gagal.

Trump terhadap Selat Hormuz

Kebijakan Donald Trump terhadap Selat Hormuz meliputi rencana tarif, pembatalan pungutan, dan blokade laut.

  • Rencana Tarif 20%: Sempat mengusulkan bea masuk atau pungutan sebesar 20% bagi seluruh kargo yang melintasi Selat Hormuz sebagai kompensasi pengamanan.
  • Pembatalan Pungutan: Membatalkan rencana pungutan 20% tersebut dan menggantinya dengan dorongan kesepakatan perdagangan serta investasi besar dari negara-negara Teluk.
  • Ganti Rugi: Menyatakan bahwa segala kerusakan kapal atau muatan di kawasan tersebut akan dibebankan dan dibayar melalui dana milik Iran yang dikuasai oleh Amerika Serikat.
Blokade dan Keamanan Laut
  • Blokade Angkatan Laut: AS memberlakukan kembali blokade maritim yang menargetkan pelabuhan serta kapal-kapal yang berdagang dengan Iran.
  • Jalur Komersial: Di tengah blokade terhadap Iran, AS menegaskan Selat Hormuz tetap dibuka bagi jalur pelayaran komersial internasional agar pasokan minyak dunia tetap normal.

Hingga hari ini, selasa (28/7/2026), atensi militer AS di selat Hormuz masih berlangsung.

Sebanyak ratusan kapal komersial internasional masih terjebak akibat blokade militer Amerika.