Namun, ia mengingatkan para lulusan agar tidak hanya mengejar prestasi akademik.
Menurutnya, setiap pencapaian selalu membawa tanggung jawab sosial.
“Alhamdulillah capaian ini merupakan kebanggaan bagi Pemerintah Kabupaten Gowa dan masyarakat. Namun amanah ini juga harus diwujudkan melalui pengabdian nyata kepada masyarakat,” ujarnya.
Husniah mengatakan pendidikan menjadi investasi penting dalam pembangunan daerah.
Karena itu, Pemkab Gowa menempatkan Program Mahasantri sebagai salah satu strategi untuk mencetak generasi Qurani yang unggul, berilmu, dan berakhlak.
Ia menyebut program tersebut tidak hanya membuka ruang bagi generasi muda untuk meraih gelar sarjana.
Lebih dari itu, program ini membentuk generasi yang memahami nilai Al-Qur’an dan mampu menerapkannya dalam kehidupan sosial.
“Program Mahasantri bukan sekadar memberikan kesempatan memperoleh gelar sarjana, tetapi membentuk manusia secara utuh. Mereka tidak hanya menghafal Al-Qur’an, tetapi juga memahami maknanya, mendalami ilmu tafsir, mengembangkan kemampuan berpikir, serta mengamalkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan bermasyarakat,” katanya.
Baca juga: Cara Gowa Menjangkau Anak Zero Dose, dari Data Nama-Alamat hingga Jemput Bola
Mengabdi di Desa dan Kelurahan
Dalam kesempatan itu, Husniah Talenrang meminta para lulusan tidak ragu kembali ke kampung halaman.
Ia berharap para sarjana tafsir tersebut ikut memperkuat kehidupan keagamaan, pendidikan, dan sosial masyarakat di desa dan kelurahan masing-masing.
“Jangan malu kembali mengabdi di kampung halaman. Masyarakat membutuhkan pemikiran, energi, dan kepedulian kalian. Jadilah sarjana yang mampu mendengar, memahami persoalan, dan bekerja bersama masyarakat,” pesannya.
















