Hari Kartini seharusnya menjadi simbol kemajuan perempuan, namun data global justru menunjukkan jutaan perempuan masih menghadapi ancaman serius dalam kesehatan setiap hari.
JAMLIMA.COM, NASIONAL — Hari Kartini diperingati setiap 21 April sebagai simbol perjuangan perempuan untuk kesetaraan. Namun, di balik peringatan tersebut, kondisi kesehatan perempuan di dunia masih menyisakan banyak persoalan serius.
Setiap hari, lebih dari 700 perempuan meninggal akibat komplikasi kehamilan dan persalinan yang sebenarnya dapat dicegah. Angka ini menunjukkan bahwa layanan kesehatan dasar bagi perempuan belum sepenuhnya merata.
Situasi ini tidak hanya terjadi di satu wilayah, tetapi menjadi masalah global yang berkaitan erat dengan kondisi kesehatan anak. Dalam laporan terkait kematian anak dunia, tercatat jutaan anak meninggal setiap tahun akibat masalah kesehatan yang sebenarnya bisa dicegah.
Hal ini juga sejalan dengan laporan Hari Kesehatan Dunia 2026, WHO Ajak Dukung Sains yang menyoroti tantangan kesehatan global yang masih belum merata.
Krisis Kesehatan Perempuan Global
Selain tingginya angka kematian ibu, kehamilan remaja masih menjadi tantangan besar di banyak negara. Kondisi ini meningkatkan risiko kesehatan bagi ibu muda dan bayi yang dilahirkan.
Akses terhadap tenaga kesehatan profesional juga belum merata. Di sejumlah wilayah, perempuan masih kesulitan mendapatkan layanan medis yang layak, terutama saat kehamilan dan persalinan.
Penurunan angka kematian ibu memang terjadi, tetapi lajunya masih lambat. Ini menunjukkan bahwa upaya global belum sepenuhnya efektif dalam menekan risiko tersebut.
Di sisi lain, kelahiran pada usia sangat muda masih terjadi dan membawa dampak serius terhadap kesehatan jangka panjang perempuan.
Masalah lain yang tidak kalah penting adalah kekerasan terhadap perempuan. Secara global, satu dari tiga perempuan pernah mengalami kekerasan fisik atau seksual sepanjang hidupnya.
Karena itu, kesehatan perempuan tidak bisa dilihat secara parsial. Pendekatan yang dibutuhkan harus mencakup aspek fisik dan mental secara menyeluruh.
Jika tidak ditangani serius, berbagai persoalan ini akan terus menghambat upaya mencapai kesetaraan kesehatan perempuan di dunia.

























