JAMLIMA.COM, WAJO — Kabupaten Wajo menjadikan peringatan Hari Pendidikan Nasional atau Hardiknas 2026 sebagai gerakan pendidikan dan budaya berskala besar. Upacara tahun ini mencetak rekor Indonesia karena digelar serentak dengan pakaian adat dan Senam 7 Kebiasaan Anak Indonesia di 1.000 lokasi.
Pusat kegiatan berlangsung di halaman Kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Wajo, Senin (4/5/2026). Upacara dipimpin Wakil Bupati Wajo, dr Baso Rahmanuddin, dan diikuti ribuan peserta dari unsur guru, siswa, serta jajaran pemerintah daerah.
Kegiatan tersebut tidak hanya menjadi agenda seremonial tahunan. Pemerintah Kabupaten Wajo menempatkannya sebagai momentum untuk memperkuat karakter peserta didik melalui budaya lokal, disiplin, kebersihan, dan gotong royong.
Isu penguatan akses dan bantuan pendidikan daerah juga menjadi perhatian dalam kebijakan pendidikan di sejumlah wilayah Sulawesi Selatan.
Sejumlah unsur Forkopimda hadir dalam kegiatan itu. Di antaranya Ketua DPRD Wajo Firmansyah Perkesi, Kajari Wajo, Dandim 1406 Wajo, Kapolres Wajo, Ketua Pengadilan Agama, Ketua Pengadilan Negeri, serta Sekretaris Daerah Wajo Armayani.
Rekor Indonesia dan Pendidikan Karakter
dr Baso Rahmanuddin mengatakan, Hardiknas menjadi ruang refleksi untuk melihat kembali arah peningkatan kualitas pendidikan di Kabupaten Wajo. Menurutnya, semangat Ki Hajar Dewantara tetap relevan dalam membentuk generasi yang cerdas, berkarakter, dan mampu bersaing.
“Peringatan Hardiknas tahun ini disajikan berbeda dan bermakna. Melalui kegiatan serentak di 1.000 lokasi, kita ingin menanamkan rasa cinta terhadap budaya lokal sekaligus membangun karakter anak bangsa sejak dini,” ujarnya.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Wajo, Drs H Alamsyah, menyebut kegiatan itu sejalan dengan tema Hardiknas 2026, yakni “Menguatkan Partisipasi Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua”.
Ia mengatakan penggunaan pakaian adat menjadi cara untuk mengenalkan kembali warisan budaya kepada peserta didik. Sementara Senam 7 Kebiasaan Anak Indonesia diarahkan untuk membangun kebiasaan positif dalam kehidupan sehari-hari.
“Kita tidak hanya memperingati, tapi juga menciptakan gerakan nyata. Melalui pakaian adat, anak-anak diajarkan menghargai warisan leluhur,” katanya.
“Senam 7 Kebiasaan Anak Indonesia juga menanamkan nilai disiplin, kebersihan, gotong royong, dan perilaku positif lainnya,” lanjutnya.
Ketua DPRD Wajo Firmansyah Perkesi menilai peningkatan kualitas pendidikan membutuhkan kerja bersama antara pemerintah daerah, DPRD, tenaga pendidik, orang tua, dan masyarakat.
Ia menegaskan DPRD Wajo akan terus mendorong kebijakan pendidikan melalui fungsi legislasi, penganggaran, dan pengawasan. Fokusnya adalah memastikan akses pendidikan yang lebih merata dan berkualitas bagi masyarakat.
“Pendidikan merupakan fondasi utama pembangunan daerah. Dengan partisipasi semua pihak, kita optimistis kualitas pendidikan di Wajo akan terus meningkat,” ujarnya.
















