Scroll untuk baca artikel
Daerah

Hanya 20 Persen Petani Baca Label, Oplosan Pestisida Jadi Sorotan di Luwu Utara

×

Hanya 20 Persen Petani Baca Label, Oplosan Pestisida Jadi Sorotan di Luwu Utara

Sebarkan artikel ini
mulyadi benteng membawakan materi pelatihan pestisida terbatas di luwu utara
PESTISIDA — Ketua Umum Alishter Mulyadi Benteng membawakan materi pelatihan pestisida terbatas di Lapangan Desa Mappedeceng, Luwu Utara, Rabu (13/5/2026). Alishter mengingatkan petani membaca label, memakai APD, dan menghindari pencampuran pestisida tanpa panduan. (foto/ist)

JAMLIMA.COM, LUWU UTARA — Aliansi Stewardship Herbisida Terbatas atau Alishter menyoroti rendahnya kebiasaan petani membaca label pestisida sebelum melakukan penyemprotan tanaman.

Menurut Ketua Umum Alishter, Mulyadi Benteng, terdapat sekitar 20 persen petani yang membaca label instruksi pada kemasan pestisida.

Pernyataan itu disampaikan Mulyadi saat membawakan materi dalam Pelatihan Pestisida Terbatas di Lapangan Desa Mappedeceng, Kabupaten Luwu Utara, Rabu (13/5/2026).

“Petani hanya 20 persen yang baca label. Jadi, petani itu jarang baca label,” kata Mulyadi.

Kegiatan pelatihan tersebut digelar Alishter bekerja sama dengan Dinas Pertanian Kabupaten Luwu Utara.

Kegiatan ini menyasar penyuluh dan petani agar penggunaan bahan kimia pertanian dilakukan secara aman, efektif, dan sesuai anjuran.

Label Pestisida Jadi Panduan Keselamatan

Mulyadi membawakan materi tentang teori pemeliharaan, kalibrasi sprayer, serta penyemprotan yang aman dan efektif.

Menurutnya, kalibrasi alat penting agar dosis pestisida tepat sasaran. Cara ini juga membantu petani menekan pemborosan biaya saat penyemprotan.

Selain itu, ia menegaskan pestisida memiliki risiko terhadap kesehatan dan lingkungan bila digunakan tanpa mengikuti petunjuk.

Karena itu, label kemasan harus menjadi panduan utama sebelum petani mencampur, mengukur dosis, dan menyemprot tanaman.

Selanjutnya, Mulyadi mengingatkan petani agar menggunakan alat pelindung diri atau APD secara benar.

Masker, sarung tangan, dan perlindungan tubuh tidak boleh diabaikan saat berhadapan dengan bahan kimia pertanian.

Menurutnya, risiko paparan pestisida dapat ditekan bila petani mematuhi dosis, membaca label, menggunakan APD, dan tidak menyemprot secara sembarangan.

Oplosan Pestisida Dinilai Berisiko

Selain kebiasaan tidak membaca label, Alishter juga menyoroti praktik mencampur beberapa jenis pestisida tanpa dasar teknis yang jelas.

Mulyadi menyebut kebiasaan oplosan pestisida masih sering terjadi di tingkat petani.

Sebagian petani menganggap campuran beberapa produk akan membuat pengendalian hama, penyakit, atau gulma menjadi lebih ampuh.

Padahal, pencampuran pestisida tanpa panduan label dapat meningkatkan risiko kesalahan dosis, paparan bahan kimia, residu, pencemaran lingkungan, hingga kegagalan pengendalian organisme pengganggu tanaman.

“Pestisida ini bahan kimia. Jadi, kita imbau PPL agar tidak menyarankan campur-campur pestisida,” tegas Mulyadi.

Keberadaan Herbisida sebagai salah satu jenis pestisida membutuhkan tata cara penggunaan yang spesifik.

Petani perlu mengikuti dosis, waktu aplikasi, sasaran, dan cara penyemprotan sesuai petunjuk pada kemasan.

Pada akhirnya Alishter berharap, penyuluh pertanian ikut memperkuat edukasi di lapangan.

Dengan begitu, petani tidak hanya mengejar hasil panen, tetapi juga menjaga keselamatan diri, konsumen, dan ekosistem pertanian.

Presentase pengguanaan Pestisida

Bagi Petani padi sawah umumnya menggunakan kombinasi:

  • Insektisida = 73,7%
  • Fungisida = 13,2%
  • Herbisida = 7,1%

Untuk mengendalikan hama serta gulma, dengan bahan aktif utama:

  • Piretroid  = 41,38%
  • Neonicotinoid = 34,49%
  • Organofosfat = 13,79%
  • Karbamat = 10,34%

Beberapa produk populer meliputi Filia, Sekor, Amistartop, Regent, dan bahan aktif seperti Deltamethrine, Oxadiazon, dan Pretilaklor.

Sumber: Jurnal Anilisis Pangan Nasional