- UEFA menyiapkan laporan pidana terhadap Gianni Infantino di Swiss.
- Laporan itu berkaitan dengan rencana penjualan sekitar 20 persen kepentingan proyek komersial Piala Dunia.
- FIFA membatalkan proyek FIFA Forward Enterprise pada (3/8) setelah mendapat tekanan dari sejumlah pihak.
- Infantino belum berstatus terdakwa, tetapi posisinya menghadapi tekanan menjelang pemilihan FIFA 2027.
JAMLIMA.COM, AS — UEFA menyiapkan laporan pidana terhadap Presiden FIFA Gianni Infantino di Swiss.
Langkah ini berkaitan dengan rencana penjualan sebagian hak komersial Piala Dunia kepada investor swasta.
Hingga Jumat, (28/8), UEFA belum mengajukan dakwaan pidana secara resmi.
UEFA masih mengumpulkan dokumen dan keterangan saksi untuk memperkuat laporan tersebut.
Pada Kamis, (27/8/2026), UEFA meminta izin pengadilan federal Amerika Serikat untuk memperoleh bukti dari dua entitas FIFA yang berbasis di Florida.
Bukti itu akan digunakan dalam kemungkinan proses hukum di Swiss.
Proyek FIFA Forward Enterprise
Persoalan ini bermula dari proyek FIFA Forward Enterprise atau FFE.
FIFA merancang perusahaan tersebut untuk mengelola hak komersial Piala Dunia.
Yakni Piala Dunia putra, Piala Dunia putri, dan Piala Dunia Antarklub.
Rencana itu menawarkan sekitar 20 persen kepentingan kepada investor swasta.
Nilai investasi yang dibahas mencapai 4,2 miliar dolar AS.
FIFA juga memperkirakan nilai keseluruhan perusahaan mencapai sekitar 20 miliar dolar AS.
Namun, UEFA menilai angka tersebut terlalu rendah dibandingkan potensi nilai hak komersial FIFA.
UEFA juga mempermasalahkan proses penilaian.
Menurut UEFA, FIFA tidak melakukan lelang terbuka dan tidak menggunakan penilai independen.
Selain itu, UEFA menuduh Infantino mengembangkan proyek tersebut secara tertutup bersama sejumlah penasihat dan investor.
Kemudian UEFA menyebut rencana itu tidak lebih dulu dibahas dengan Dewan FIFA, konfederasi regional, dan asosiasi anggota FIFA.
Investor utama yang disebut dalam dokumen tersebut berkaitan dengan Thrive Capital.
Perusahaan itu dipimpin Joshua Kushner melalui kendaraan investasi Thrive Eternal.
UEFA Soroti Tata Kelola FIFA
UEFA menilai proses tersebut berpotensi melanggar aturan tata kelola FIFA.
Organisasi sepak bola Eropa itu juga mengaitkannya dengan dugaan salah kelola keuangan.
Mereka menyandarkan hukum berdasarkan Pasal 158 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Swiss.
Karena itu, UEFA meminta dokumen dari FIFA Americas Inc. dan FWC2026 US Inc.
Kedua entitas itu diduga menyimpan informasi mengenai penyusunan, struktur, nilai, dan persetujuan proyek FFE.
UEFA juga meminta agar dokumen elektronik yang berkaitan dengan proyek tersebut tetap diamankan.
Langkah itu bertujuan mencegah penghapusan atau perubahan bukti selama proses hukum berlangsung.
Selain itu, UEFA menilai FIFA perlu menjalani pemeriksaan independen.
UEFA menegaskan, FIFA tidak dapat menyelidiki dirinya sendiri, lalu berharap komunitas sepak bola menerima kesimpulannya.
Pernyataan itu menunjukkan bahwa persoalan UEFA bukan hanya menyangkut nilai transaksi.
Tapi terkait juga masalah kewenangan presiden, transparansi keputusan, dan mekanisme pengawasan di tubuh FIFA.
FIFA Batalkan Rencana
Rencana FFE mendapat penolakan dari sejumlah anggota FIFA.
Sebanyak 55 asosiasi anggota UEFA bahkan sempat menyepakati ancaman boikot terhadap kompetisi FIFA.
Tekanan itu membuat FIFA membatalkan proyek FFE pada Jumat, (31/7).
Infantino kemudian menyampaikan bahwa proyek tersebut tidak akan dilanjutkan.
Selanjutnya, ia menjelaskan bahwa rencana itu awalnya bertujuan memperkuat pendanaan bagi anggota FIFA dan perkembangan sepak bola dunia.
Namun, ia mengakui proyek tersebut menimbulkan perpecahan.
“Tujuan kami selalu menyatukan dan meningkatkan sepak bola. Karena itu, proposal ini tidak akan dilanjutkan.”, kata Infantino dalam pernyataan resmi FIFA.
FIFA sebelumnya juga memberikan alasan bahwa proyek tersebut masih berupa proposal.
Infantino menyatakan rencana itu membutuhkan dukungan mayoritas dari 211 asosiasi anggota FIFA dan persetujuan Dewan FIFA.
Namun, UEFA tetap menganggap pembatalan proyek tidak otomatis menutup persoalan.
UEFA ingin mengetahui bagaimana rencana tersebut disusun dan mengapa prosesnya berjalan tanpa konsultasi luas.
Ancaman Boikot Ditangguhkan
UEFA kemudian menangguhkan ancaman boikot terhadap kompetisi FIFA.
Keputusan itu muncul setelah FIFA memberikan jaminan tertulis bahwa proyek FFE telah dihentikan secara permanen.
Dengan keputusan tersebut, tim-tim Eropa tetap dapat mengikuti kompetisi FIFA pada musim berikutnya.
Salah satu turnamen yang terdampak adalah Piala Dunia U-20 Putri di Polandia.
Meski menangguhkan boikot, UEFA tetap meminta reformasi tata kelola FIFA.
UEFA juga menyatakan akan menggunakan jalur institusional, politik, dan hukum untuk mendorong perubahan.
Dalam laporan terpisah, menyebutkan UEFA mempertanyakan alasan FIFA mencari investor luar.
UEFA menilai FIFA masih memiliki cadangan dana dalam jumlah besar.
“Uang ini milik asosiasi anggota,” demikian pernyataan UEFA yang dikutip Reuters.
UEFA kemudian mempertanyakan alasan presiden FIFA membutuhkan investor eksternal untuk meningkatkan pendanaan sepak bola.
Masa Depan Infantino Dipertaruhkan
Kasus ini muncul menjelang pemilihan Presiden FIFA pada Maret 2027.
Infantino telah menyatakan keinginan untuk maju kembali dan memburu masa jabatan keempat.
Sebelum kontroversi FFE mencuat, Infantino diperkirakan dapat terpilih tanpa lawan.
Namun, rencana penjualan hak komersial Piala Dunia mengubah peta dukungan di tubuh sepak bola dunia.
UEFA kini membuka peluang untuk mendukung kandidat alternatif.
Kandidat tersebut harus membawa agenda transparansi, reformasi, dan pembatasan kewenangan presiden FIFA.
Di sisi lain, Infantino masih memperoleh dukungan dari sejumlah konfederasi dan federasi nasional.
Federasi Sepak Bola Arab Saudi menyatakan dukungan terhadap kepemimpinannya dan menyerukan persatuan dalam keluarga sepak bola.
Infantino Belum Menjadi Terdakwa
Sampai Jumat, (28/8), Infantino belum berstatus tersangka atau terdakwa.
Tidak ada putusan pengadilan yang menyatakan dirinya bersalah.
UEFA baru meminta akses terhadap bukti di Amerika Serikat.
Setelah proses tersebut selesai, UEFA dan pihak terkait akan menentukan apakah laporan pidana benar-benar diajukan kepada aparat penegak hukum Swiss.
Dengan demikian, UEFA masih menyiapkan laporan pidana terkait kasus tersebut sebelum memasuki tahap persidangan.
Namun demikian, tekanan politik dan hukum terhadap Infantino terus meningkat.
Konflik ini berpotensi memengaruhi pemilihan Presiden FIFA serta arah pengelolaan sepak bola dunia pada tahun-tahun mendatang.
















