- Emil Audero lahir di Mataram, Nusa Tenggara Barat, sebelum tumbuh dan meniti karier sepak bola di Italia.
- Juventus memboyong Emil ke akademi saat masih berusia 11 tahun. Ia kemudian menembus tim utama dan mencatat debut Serie A pada 2017.
- Karier Emil berlanjut bersama Venezia, Sampdoria, Inter Milan, Como, Palermo, dan Cremonese sebelum membuka babak baru di Spanyol.
- Rayo Vallecano resmi meminjam Emil dari Como hingga akhir musim 2026/2027. Kini, kiper Timnas Indonesia itu menunggu kesempatan mencatat debut di La Liga.
JAMLIMA.COM, MADRID – Jalan Emil Audero Mulyadi menuju panggung La Liga terbentang panjang.
Kiper Timnas Indonesia itu tidak datang ke Spanyol sebagai pemain yang baru mengenal kerasnya sepak bola Eropa.
Ia sudah ditempa sejak usia muda di akademi Juventus.
Emil juga pernah berada satu ruang ganti dengan Gianluigi Buffon, mencicipi Serie A, menjadi pilihan utama Sampdoria.
Ia mengangkat trofi bersama Inter Milan, hingga berpindah dari satu klub ke klub lain demi menjaga menit bermain.
Kini, petualangan baru menantinya bersama Rayo Vallecano.
Klub asal Madrid itu resmi mendatangkan Emil dengan status pinjaman dari Como 1907 hingga akhir musim 2026/2027.
Bagi Emil, transfer tersebut membuka pintu menuju salah satu liga paling kompetitif di dunia.
Lahir di Mataram, Tumbuh dalam Kultur Sepak Bola Italia
Emil lahir di Mataram, Nusa Tenggara Barat, pada 18 Januari 1997.
Ayahnya berasal dari Indonesia, sementara ibunya berkewarganegaraan Italia.
Tak lama setelah lahir, Emil pindah bersama keluarganya ke Italia.
Ia kemudian tumbuh di Cumiana, wilayah yang berada tidak jauh dari Turin.
Menariknya, Emil tidak langsung bermain sebagai penjaga gawang.
Pada awal menendang bola bersama Cumiana Calcio, ia sempat beroperasi sebagai pemain lapangan.
Namun, perjalanan membawanya ke bawah mistar.
Kemampuan Emil membaca arah bola, refleks, dan posturnya kemudian menarik perhatian pencari bakat Juventus.
Saat berusia sekitar 11 tahun, pintu akademi Bianconeri terbuka.
Dari sanalah fondasi karier profesional Emil mulai terbentuk.
Tempaan Mental di Juventus
Emil melewati berbagai kelompok umur di akademi Juventus.
Ia naik level secara bertahap hingga masuk dalam lingkungan tim utama.
Di sana, Emil mendapat kesempatan berlatih bersama salah satu penjaga gawang terbaik dalam sejarah sepak bola, Gianluigi Buffon.
Bagi kiper muda, kesempatan itu ibarat sekolah langsung dari seorang legenda.
Emil bukan hanya belajar teknik menjaga gawang.
Ia juga menyerap cara membaca pertandingan, menjaga fokus, mengatur lini belakang, dan tetap siap meski lawan jarang menciptakan peluang.
Kesempatan besar akhirnya datang pada 27 Mei 2017.
Massimiliano Allegri menurunkan Emil dalam laga Serie A melawan Bologna.
Juventus menang 2-1.
Laga tersebut menjadi debut Emil di kasta tertinggi Liga Italia.
Venezia dan Menit Bermain
Setelah menembus tim utama Juventus, Emil membutuhkan sesuatu yang lebih penting bagi seorang kiper muda.
Menit bermain.
Juventus kemudian meminjamkannya ke Venezia pada musim 2017/2018.
Di klub Serie B itu, Emil tidak lagi sekadar menjadi pelapis.
Ia turun reguler dan menjalani satu musim penuh sebagai penjaga gawang utama.
Emil tampil dalam 38 pertandingan liga bersama Venezia.
Musim tersebut menjadi momentum penting.
Ia mulai terbiasa menghadapi tekanan setiap pekan, duel satu lawan satu, bola mati, hingga tuntutan membangun serangan dari lini belakang.
Performa itu membuat namanya semakin diperhitungkan.
Panggung Pembuktian
Setelah Venezia, Sampdoria datang membawa tantangan yang lebih besar.
Di klub asal Genoa tersebut, Emil berkembang dari penjaga gawang muda menjadi salah satu kiper dengan jam terbang tinggi di Serie A.
Ia bertahan selama beberapa musim dan menjadi pilihan utama di bawah mistar.
Di sinilah Emil benar-benar mendapatkan panggung.
Setiap pekan, ia berhadapan dengan striker-striker terbaik Italia.
Ia menghadapi tekanan di kandang sendiri maupun laga tandang.
Menit bermain yang konsisten membuat pengalaman Emil melonjak drastis.
Saat Inter Milan memboyongnya pada 2023, Emil sudah mengantongi lebih dari 160 penampilan di Serie A.
Aroma Scudetto Inter Milan
Inter Milan kemudian menjadi destinasi berikutnya.
Emil bergabung dengan Nerazzurri pada musim 2023/2024 dengan status pinjaman.
Di Giuseppe Meazza, posisi kiper utama memang bukan miliknya.
Namun, berada dalam skuad bertabur bintang tetap memberi pengalaman berbeda.
Emil mendapat kesempatan tampil di sejumlah pertandingan.
Ia juga menjadi bagian dari skuad Inter yang merebut gelar Serie A dan Supercoppa Italiana.
Meski menit bermainnya terbatas, satu musim di Inter menambah koleksi pengalaman di level tertinggi.
Como, Palermo, dan Cremonese
Setelah masa pinjaman bersama Inter berakhir, Emil membuka lembaran baru bersama Como 1907.
Como merekrutnya secara permanen pada musim panas 2024.
Kehadiran Emil dianggap penting karena ia membawa pengalaman panjang dari Serie A.
Namun, persaingan posisi kiper kembali berlangsung ketat.
Demi mendapatkan jam terbang, Emil kemudian menjalani masa pinjaman bersama Palermo.
Perjalanan berikutnya membawanya ke Cremonese.
Bagi seorang penjaga gawang, berpindah klub bukan selalu tanda kemunduran.
Sering kali, keputusan itu menjadi strategi untuk mencari menit bermain, menjaga ritme pertandingan, dan mempertahankan level kompetitif.
Memilih Garuda
Di tengah perjalanan panjang karier klubnya, Emil mengambil keputusan besar.
Ia memilih membela Timnas Indonesia.
Pada 10 Maret 2025, Emil menjalani pengambilan sumpah sebagai Warga Negara Indonesia di Roma.
Tak lama kemudian, namanya masuk dalam skuad Garuda.
Emil akhirnya berdiri di bawah mistar Timnas Indonesia saat menghadapi China pada 5 Juni 2025.
Indonesia menang 1-0.
Bagi Emil, laga tersebut memiliki arti berbeda.
Setelah bertahun-tahun membangun karier di Eropa, ia akhirnya mengenakan lambang Garuda di dada.
Buka Babak Baru
Setelah hampir seluruh karier profesionalnya dihabiskan di Italia, Emil akhirnya menyeberang ke Spanyol.
Rayo Vallecano resmi mendatangkannya dari Como dengan status pinjaman.
Bagi Emil, kepindahan itu membuka peluang tampil di La Liga.
Kompetisi tersebut memiliki karakter berbeda dibanding Serie A.
La Liga terkenal dengan permainan teknis, sirkulasi bola cepat, kemampuan individu tinggi, serta variasi serangan dari berbagai zona.
Bagi seorang penjaga gawang, tantangannya juga berbeda.
Emil dituntut tidak hanya piawai menghalau tembakan.
Ia juga harus nyaman memainkan bola dengan kaki, cepat membaca transisi, dan berani mengambil keputusan saat garis pertahanan bermain tinggi.
Debut Awal La Liga
Emil sudah resmi menjadi pemain Rayo Vallecano.
Namun, status sebagai pemain klub La Liga tidak otomatis berarti ia sudah mencatat penampilan di kompetisi tersebut.
Hingga Sabtu (5/9/2026), Emil masih menunggu kesempatan menjalani debut kompetitif bersama Rayo.
Peluang itu terbuka dalam pertandingan-pertandingan berikutnya.
Jika pelatih memberikan kepercayaan, Emil berpeluang menulis babak baru dalam perjalanan kariernya.
Dari Mataram menuju Turin.
Dari akademi Juventus menuju Serie A.
Dari belajar bersama Buffon menuju ratusan pertandingan di Italia.
Kemudian, dari mengenakan seragam Timnas Indonesia hingga akhirnya tiba di Madrid.
Kini, satu hal masih ditunggu.
Peluit pertama yang menandai debut Emil Audero di La Liga.
















