Scroll untuk baca artikel
Internasional

Trump Klaim AS Penghasil Minyak Terbesar Dunia, Produksi Tembus Rekor 13,8 Juta Barel per Hari

×

Trump Klaim AS Penghasil Minyak Terbesar Dunia, Produksi Tembus Rekor 13,8 Juta Barel per Hari

Sebarkan artikel ini
Donald Trump dengan latar ladang minyak Amerika Serikat setelah produksi minyak AS diproyeksikan mencapai rekor 13,8 juta barel per hari pada 2026.
MINYAK AS — Presiden Amerika Serikat Donald Trump dengan latar industri minyak. Ia menyebut AS sebagai penghasil minyak terbesar dunia, sementara EIA memproyeksikan produksi mencapai rekor 13,8 juta barel per hari pada 2026. (foto/ilustrasi)

  • Donald Trump menyebut Amerika Serikat sebagai penghasil minyak terbesar di dunia.
  • EIA memproyeksikan produksi minyak mentah AS mencapai rekor 13,8 juta barel per hari pada 2026.
  • AS juga memperoleh kepentingan ekonomi dalam konsesi 17 ladang minyak Venezuela dengan sekitar 65 miliar barel cadangan terbukti.
  • Kesepakatan Venezuela memperluas akses energi AS, tetapi cadangan tersebut tidak dihitung sebagai produksi minyak domestik Amerika Serikat.

JAMLIMA.COM, WASHINGTON — Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim negaranya kini menjadi penghasil minyak terbesar di dunia.

Pernyataan itu disampaikan Trump saat berbicara di Dallas, Texas, dan menyinggung perkembangan terbaru sektor energi Amerika Serikat.

Trump juga mengaitkan posisi AS dengan kesepakatan minyak terbaru di Venezuela.

“Sekarang kami adalah yang terbesar di dunia, dan itu belum termasuk Venezuela,” kata Trump, Kamis (10/9/2026).

Klaim Trump mengenai posisi Amerika Serikat sebagai produsen minyak terbesar dunia sejalan dengan data terbaru U.S. Energy Information Administration atau EIA.

Produksi AS Cetak Rekor

EIA memproyeksikan produksi minyak mentah Amerika Serikat mencapai rata-rata 13,8 juta barel per hari sepanjang 2026.

Angka tersebut menjadi rekor baru produksi minyak AS.

Produksi itu juga lebih tinggi dibandingkan rata-rata 2025 yang berada di kisaran 13,7 juta barel per hari.

Pada semester pertama 2026, produksi minyak mentah AS mencapai rata-rata sekitar 13,7 juta barel per hari.

Jumlah tersebut meningkat sekitar 300 ribu barel per hari dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Pertumbuhan produksi terutama berasal dari kawasan Permian Basin di Texas dan New Mexico.

Produksi dari wilayah Teluk Amerika juga ikut menopang kenaikan tersebut.

Permian Jadi Penopang

Permian Basin tetap menjadi pusat produksi minyak terbesar Amerika Serikat.

EIA memperkirakan produksi minyak di kawasan tersebut mencapai rata-rata sekitar 6,8 juta barel per hari pada 2026.

Jumlah itu naik sekitar 3 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Kenaikan produksi dari Permian membantu mempertahankan posisi Amerika Serikat di atas negara produsen minyak besar lainnya.

Dengan tingkat produksi tersebut, AS tetap berada di posisi teratas produsen minyak mentah dunia.

Trump Singgung Venezuela

Trump tidak hanya membicarakan produksi domestik Amerika Serikat.

Ia juga menyinggung kesepakatan energi terbaru dengan Venezuela.

Gedung Putih menyatakan North American Blue Energy Partners atau NABEP memperoleh konsesi atas 17 ladang minyak Venezuela.

Ladang tersebut memiliki sekitar 65 miliar barel cadangan minyak terbukti.

Kesepakatan itu membuka akses ekonomi yang lebih besar bagi Amerika Serikat terhadap sektor energi Venezuela.

Namun, cadangan 65 miliar barel tersebut tidak dapat langsung dihitung sebagai produksi minyak Amerika Serikat.

Minyak itu tetap berada di wilayah Venezuela dan harus melalui proses eksplorasi, produksi serta distribusi.

AS Pegang 35 Persen

Pemerintah Amerika Serikat memperoleh kepentingan ekuitas sebesar 35 persen pada perusahaan induk NABEP.

Kepentingan tersebut berada melalui Office of Strategic Capital di bawah Departemen Pertahanan AS.

Gedung Putih menyatakan struktur tersebut memberi pemerintah AS hak ekonomi dan tata kelola dalam pengembangan proyek.

Amerika Serikat juga mendapat akses terhadap minyak yang nantinya diproduksi NABEP.

Departemen Luar Negeri AS memperoleh hak membeli sekitar 20 persen produksi berdasarkan biaya produksi.

Pemerintah AS juga memiliki hak prioritas untuk membeli sebagian produksi lainnya dengan harga pasar.

Minyak tersebut dapat digunakan untuk memperkuat pasokan energi Amerika Serikat.

Sebagian pasokan juga berpotensi digunakan untuk Strategic Petroleum Reserve.

Investasi US$100 Miliar

NABEP berencana menginvestasikan hingga US$100 miliar untuk mengembangkan ladang dan infrastruktur minyak Venezuela.

Investasi tersebut mencakup pengembangan fasilitas produksi dan jaringan pendukung sektor energi.

Gedung Putih memperkirakan proyek itu berpotensi menghasilkan sekitar US$200 miliar dalam bentuk royalti dan pajak selama 25 tahun pertama.

Amerika Serikat juga mendorong perusahaan energi lain memperluas investasi di Venezuela.

Chevron disebut menyiapkan investasi lebih dari US$7 miliar dalam lima tahun untuk meningkatkan produksi melalui perusahaan patungannya.

AS Perluas Dominasi Energi

Data Energy Information Administration (EIA) menunjukkan kekuatan utama Amerika Serikat tetap berasal dari produksi minyak domestik.

Produksi yang diproyeksikan mencapai 13,8 juta barel per hari membuat AS mempertahankan posisi sebagai produsen minyak terbesar dunia.

Di sisi lain, kesepakatan Venezuela memperluas akses strategis Washington terhadap cadangan energi global.

Namun, produksi minyak domestik AS dan cadangan Venezuela merupakan dua indikator berbeda.

Klaim Trump bahwa Amerika Serikat merupakan penghasil minyak terbesar dunia merujuk pada tingkat produksi minyak AS.

Cadangan minyak Venezuela tidak dapat langsung dihitung sebagai bagian dari produksi Amerika Serikat.