- Presiden Prabowo Subianto meminta inovasi pemadam karhutla berbasis singkong diuji dan dikembangkan dalam skala lebih besar.
- BRIN mengembangkan pati singkong bersama ammonium polyphosphate, air, dan wetting agent sebagai material retardan.
- Teknologi tersebut bukan tepung tapioka biasa yang dapat langsung ditaburkan ke api.
- BRIN dan Polri masih menguji efektivitas, teknik aplikasi, keamanan lingkungan, serta kelayakannya untuk operasi karhutla skala luas.
JAMLIMA.COM, JAKARTA – Singkong yang selama ini identik sebagai bahan pangan kini masuk dalam pengembangan teknologi untuk membantu melawan kebakaran hutan dan lahan atau karhutla.
Namun, teknologi yang populer dengan sebutan “ubi bombing” itu bukan sekadar menaburkan tepung singkong ke kobaran api.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan pendekatan yang lebih kompleks.
Pati singkong direkayasa dan dikombinasikan dengan bahan lain untuk membentuk material retardan api.
Teknologi tersebut berpotensi membantu air menempel lebih lama pada vegetasi, memperlambat rambatan api, serta mengurangi risiko penyalaan kembali.
Meski memiliki dasar ilmiah, BRIN menegaskan teknologi tersebut masih dalam tahap kajian dan uji coba.
Hingga Kamis, (3/9/2026), belum ada keputusan bahwa teknologi berbasis singkong tersebut siap menggantikan water bombing dalam operasi karhutla berskala besar.
Temuan Babinsa Lubuklinggau
Perhatian pemerintah terhadap teknologi ini menguat saat Presiden Prabowo Subianto memimpin rapat penanganan karhutla di Palembang, Sumatra Selatan, Senin, (24/8).
Dalam rapat tersebut, Prabowo meminta jajarannya mencari teknologi yang mampu membantu mempercepat pemadaman karhutla.
Saat itu, pemerintah masih menghadapi sekitar 1.900 hektare lahan terbakar di Sumatra Selatan yang perlu segera dipadamkan.
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo kemudian menyampaikan adanya inovasi bahan pemadam berbahan dasar tepung ubi atau singkong.
Inovasi itu disebut berasal dari temuan anggota Babinsa di Lubuklinggau, Sumatra Selatan.
Bahan tersebut dinilai berpotensi membantu mencegah penyebaran api sekaligus mendukung pemadaman pada tahap awal kebakaran.
Pangdam II/Sriwijaya Mayjen TNI Ujang Darwis melaporkan inovasi itu telah diperlihatkan kepada jajaran terkait dan disampaikan kepada BNPB.
Namun, kapasitas produksinya ketika itu masih terbatas.
Karena itu, Presiden meminta teknologi tersebut diuji dalam skala lebih besar.
“Menarik sekali. Bahan bakunya dari ubi, dari singkong,” kata Prabowo dalam rapat tersebut.
Dari pembahasan itulah istilah “ubi bombing” muncul.
Prabowo menggunakan istilah tersebut sebagai analogi terhadap water bombing yang selama ini menggunakan air dari udara untuk membantu memadamkan karhutla.
Presiden juga meminta kebutuhan anggaran pengembangan dan produksi diajukan kepada pemerintah.
BRIN Turun Menguji
Beberapa hari kemudian, BRIN memberikan penjelasan ilmiah.
Kepala BRIN Arif Satria mengatakan para peneliti telah melakukan kajian teoritis terhadap penggunaan bahan berbasis singkong.
Menurut dia, secara teori konsep tersebut memiliki dasar ilmiah.
Namun, dasar teori belum sama dengan bukti bahwa teknologi itu efektif untuk kebakaran hutan berskala besar.
“Secara teoritik betul,” ujar Arif di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat, (28/8).
Karena itu, BRIN bersama Polri melanjutkan kajian dan uji coba.
Mereka harus memastikan komposisi bahan, efektivitas pemadaman, teknik penyebaran, kebutuhan peralatan, hingga dampak lingkungannya.
Arif juga mengingatkan bahwa material itu tidak mungkin sekadar ditaburkan menggunakan tangan.
Teknologi tersebut membutuhkan sistem aplikasi yang mampu bekerja di lapangan dalam skala luas.
Bukan Tepung Singkong Biasa
Bagian ini menjadi penting karena istilah “tepung singkong pemadam api” dapat menimbulkan salah pengertian.
Pati singkong dalam teknologi yang sedang dikembangkan tidak digunakan sendirian.
Periset Kimia Molekuler BRIN Julinton Sianturi menjelaskan pati singkong dikombinasikan dengan ammonium polyphosphate atau APP, air, dan wetting agent berkonsentrasi rendah.
Formulasi tersebut dikenal sebagai CASSA-P.
Dengan demikian, teknologi ini lebih tepat dipahami sebagai material retardan berbasis pati singkong, bukan tepung singkong konsumsi yang langsung dilemparkan ke api.
Pati singkong memiliki struktur polisakarida yang dapat dimodifikasi.
Sifat tersebut memungkinkan peneliti mengatur kekentalan, kemampuan membentuk lapisan, retensi air, dan daya lekat cairan pada vegetasi.
Bagaimana CASSA-P Melawan Api?
Teknologi ini bekerja melalui beberapa mekanisme sekaligus.
Pertama, air menyerap panas dan membantu menurunkan temperatur material yang terbakar.
Kedua, pati singkong termodifikasi membantu cairan melekat lebih lama pada permukaan vegetasi.
Dengan demikian, air tidak terlalu cepat mengalir atau hilang dari permukaan bahan bakar.
Ketiga, wetting agent membantu cairan menyebar dan menembus material vegetasi lebih baik.
Sementara itu, APP memberikan mekanisme retardasi kimia ketika material menerima panas.
Saat menerima panas, APP dapat menghasilkan spesies asam fosfat dan polifosfat.
Reaksi tersebut mendorong material kaya selulosa dan polisakarida membentuk lebih banyak residu karbon atau char.
Lapisan char kemudian bertindak sebagai penghalang panas dan massa.
Lapisan tersebut juga mengurangi kontak langsung antara material bahan bakar dan oksigen.
Karena itu, CASSA-P tidak bekerja dengan cara “menghilangkan seluruh oksigen” di sekitar kebakaran.
Mekanismenya menggabungkan proses pendinginan, pembasahan, retensi cairan, pembentukan lapisan pelindung, serta perubahan proses dekomposisi termal vegetasi.
Target akhirnya adalah memperlambat rambatan api dan membuat proses pemadaman lebih efektif.
Penggunaan dari Darat hingga Drone
Jika lolos pengujian, material tersebut memiliki beberapa kemungkinan penggunaan.
Pada operasi darat, formulasi dapat dimasukkan ke tangki dan disemprotkan ke vegetasi di sekitar titik api.
Cairan juga dapat digunakan untuk membentuk retardant line atau jalur penghambat api.
Jalur tersebut bertujuan memperlambat perambatan kebakaran menuju area yang belum terbakar.
Selain itu, BRIN melihat peluang penggunaan drone.
Drone dapat diarahkan ke titik api awal, spot fire, sisi kebakaran, maupun vegetasi yang ingin dilindungi.
Kamera termal juga berpotensi membantu menentukan titik panas dan mendeteksi potensi penyalaan kembali.
Namun, aplikasi melalui udara mempunyai tantangan lebih besar.
Viskositas cairan harus sesuai.
Material tidak boleh terlalu encer sehingga mudah terbawa angin.
Sebaliknya, cairan juga tidak boleh terlalu kental hingga menyumbat pompa atau nozzle.
Ukuran droplet, kestabilan campuran, kemampuan penyebaran, dan kompatibilitas dengan peralatan juga harus diuji.
Inilah salah satu alasan teknologi tersebut belum dapat langsung menggantikan water bombing.
Bukan Pengganti Water Bombing
BRIN menempatkan CASSA-P sebagai teknologi pendukung.
Teknologi tersebut diarahkan untuk membantu respons awal, mengendalikan penyebaran api, menangani spot fire, serta melindungi area tertentu.
Artinya, CASSA-P belum dirancang sebagai pengganti seluruh metode pemadaman.
Operasi darat, water bombing, pembuatan sekat, pemadaman gambut, hingga dukungan personel tetap diperlukan sesuai karakter kebakaran.
Karhutla berskala besar juga memiliki karakter berbeda dengan kebakaran kecil.
Api pada vegetasi kering dapat bergerak cepat.
Sementara itu, kebakaran gambut dapat merambat dan membara di bawah permukaan tanah.
Karakter tersebut membuat satu teknologi pemadam belum tentu efektif pada seluruh kondisi.
Tantangan Kebakaran Gambut
Persoalan gambut menjadi ujian penting bagi inovasi berbasis singkong.
Pada kebakaran gambut, bara dapat bertahan di lapisan bawah meskipun api di permukaan sudah terlihat padam.
Secara teori, material yang mampu mempertahankan kelembapan lebih lama berpotensi membantu proses pengendalian.
Namun, formulasi juga harus mampu mencapai sumber panas.
Apabila cairan terlalu kental, kemampuan penetrasinya ke bagian dalam gambut perlu diuji lebih lanjut.
Karena itu, efektivitas CASSA-P terhadap underground fire tidak dapat disimpulkan hanya dari keberhasilan memadamkan api di permukaan.
Risiko Penggunaan Sembarangan
Masyarakat juga tidak disarankan mencoba menaburkan tepung singkong kering ke kobaran api.
Alasannya bukan sekadar karena cara tersebut belum terbukti efektif.
Partikel pati singkong yang sangat halus dan terdispersi di udara dapat menjadi debu mudah terbakar pada kondisi tertentu.
Sebuah penelitian ilmiah menggunakan ruang uji ledakan 20 liter menemukan debu pati singkong dapat mengalami pembakaran eksplosif ketika konsentrasi, sumber penyalaan, dan kondisi dispersinya memenuhi syarat.
Penelitian tersebut mendapatkan tekanan ledakan maksimum pada konsentrasi sekitar 750 gram per meter kubik, dengan indeks ledakan maksimum sekitar 22,3 MPa·m/s.
Temuan tersebut tidak berarti sebungkus tepung singkong di dapur akan otomatis meledak.
Namun, penelitian itu menunjukkan bahwa tepung kering bukan bahan yang aman untuk diterbangkan atau ditaburkan sembarangan di dekat sumber api.
Karena itu, formulasi cair dan proses rekayasa material menjadi bagian penting dalam teknologi yang sedang dikembangkan.
Riset IPB untuk APAR
Potensi singkong sebagai bagian dari material pemadam ternyata pernah diteliti sebelumnya.
Penelitian di IPB University pada 2024 menguji pemanfaatan limbah kulit singkong sebagai bahan komplementer dry chemical powder pada alat pemadam api ringan (APAR).
Penelitian tersebut menguji empat komposisi.
Salah satunya menggunakan kulit singkong murni.
Variasi lain mengombinasikan bubuk kulit singkong dengan dry chemical powder.
Hasil penelitian menunjukkan kombinasi 2 kilogram bubuk kulit singkong dan 1 kilogram dry chemical powder memberikan performa terbaik pada pengujian tersebut.
Api dapat dipadamkan dalam waktu sekitar 15 detik.
Namun, hasil itu tidak boleh ditafsirkan bahwa bubuk singkong murni lebih baik daripada seluruh bahan pemadam konvensional.
Penelitian tersebut justru memperlihatkan pentingnya formulasi dan kombinasi material.
Kajian IPB juga berbeda dari CASSA-P yang sedang dikembangkan BRIN.
Riset IPB memakai bubuk kulit singkong sebagai komplementer dry chemical powder.
Sementara itu, BRIN mengembangkan sistem berbasis pati singkong termodifikasi, APP, air, dan wetting agent.
Lingkungan Belum Bisa Diabaikan
Penggunaan singkong sebagai biomassa terbarukan memberi potensi keuntungan.
Indonesia juga memiliki basis produksi singkong sehingga sebagian bahan bakunya dapat diperoleh dari dalam negeri.
Namun, penggunaan bahan alami tidak otomatis membuat seluruh formulasi aman bagi lingkungan.
BRIN belum menyatakan CASSA-P sebagai bahan yang 100 persen biodegradable atau sepenuhnya tidak beracun.
Pengujian masih harus melihat biodegradabilitas, fitotoksisitas, dampak terhadap organisme tanah dan air, serta pelepasan fosfat dan nitrogen.
Residu yang muncul setelah material terkena kebakaran juga harus diperiksa.
Hal tersebut penting karena bahan pemadam karhutla dapat jatuh dalam jumlah besar ke tanah, vegetasi, badan air, maupun habitat satwa.
Dengan demikian, keberhasilan memadamkan api tidak menjadi satu-satunya parameter.
Teknologi juga harus aman secara ekologis.
Tantangan Produksi Massal
Jika penelitian menunjukkan hasil positif, persoalan berikutnya adalah produksi.
Teknologi untuk karhutla membutuhkan material dalam jumlah besar.
Kebutuhannya berbeda jauh dari penggunaan bahan pemadam untuk kebakaran kecil.
Rantai pasok pati singkong, APP, wetting agent, air, fasilitas pencampuran, penyimpanan, transportasi, hingga sistem penyemprotan harus dihitung.
Selain itu, formulasi perlu stabil selama disimpan.
Cairan tidak boleh mengalami sedimentasi berlebihan atau berubah karakter sebelum digunakan.
Biaya per hektare juga perlu dibandingkan dengan metode pemadaman yang telah digunakan.
Tanpa perhitungan tersebut, teknologi yang efektif di laboratorium belum tentu ekonomis saat digunakan di lapangan.
Statusnya Masih Uji
Kepala BRIN Arif Satria menegaskan kajian teoritis tidak boleh langsung diterjemahkan sebagai keberhasilan pada skala besar.
BRIN bersama Polri masih melakukan penelitian dan uji coba.
“Tim Polri dengan tim BRIN sedang menyiapkan itu, melakukan kajian dan juga melakukan uji coba,” kata Arif.
Pernyataan tersebut menjadi batas penting dalam membaca perkembangan “ubi bombing”.
Teknologi berbasis singkong memiliki dasar kimia yang masuk akal.
Namun, pemerintah masih harus membuktikan efektivitasnya melalui uji terukur.
Pengujian juga harus menjawab kemampuan menghadapi karhutla berskala besar, kebakaran gambut, risiko penyalaan kembali, keamanan lingkungan, biaya produksi, hingga kompatibilitas dengan alat pemadam.
Dengan demikian, “ubi bombing” bukan sekadar tepung singkong yang dilempar dari helikopter.
Di balik istilah sederhana itu terdapat pengembangan material retardan berbasis pati singkong.
Jika seluruh tahap pengujian berhasil, inovasi tersebut berpotensi menjadi teknologi pendukung baru dalam penanganan karhutla Indonesia.
Namun, sampai hasil pengujian lapangan dan validasi ilmiah lengkap tersedia.
Posisi CASSA-P tetap harus ditempatkan sebagai teknologi menjanjikan yang sedang diuji, bukan pengganti water bombing yang sudah siap digunakan secara massal.
















