- Harga diesel atau solar di Amerika Serikat menembus lebih dari US$6 per galon di tengah pasokan global yang semakin ketat.
- Donald Trump meminta Volodymyr Zelensky menghentikan serangan terhadap fasilitas pengolahan diesel Rusia.
- Serangan drone Ukraina terhadap kilang Rusia memangkas produksi bahan bakar Rusia dan ikut menekan perdagangan diesel dunia.
- Namun, gangguan dari Timur Tengah dan terbatasnya pasokan global juga menjadi faktor penting di balik lonjakan harga diesel.
JAMLIMA.COM, WASHINTONG — Presiden Amerika Serikat Donald Trump mulai menekan Ukraina setelah serangan terhadap kilang minyak Rusia dinilai ikut memperburuk kelangkaan diesel di pasar global.
Tekanan itu muncul ketika harga diesel atau solar di Amerika Serikat menembus level tertinggi sepanjang sejarah.
Rata-rata harga diesel nasional AS telah melewati US$6 per galon untuk pertama kalinya.
Lonjakan harga itu mulai terasa pada sektor transportasi, pertanian, logistik hingga distribusi barang kebutuhan sehari-hari.
Trump kemudian meminta Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menghentikan serangan terhadap infrastruktur Rusia yang berkaitan dengan produksi diesel.
Permintaan tersebut disampaikan Trump saat berada di Irlandia, Minggu (13/9/2026).
“Dia harus berhenti menghancurkan bahan bakar diesel di Rusia,” kata Trump mengenai Zelensky.
Menurut Trump, serangan Ukraina telah menciptakan kekurangan diesel yang tidak hanya dirasakan Rusia.
Dampaknya mulai merambat ke pasar energi internasional dan turut menekan harga bahan bakar di Amerika Serikat.
Kilang Rusia Terus Diserang
Dalam beberapa bulan terakhir, Ukraina meningkatkan serangan drone jarak jauh terhadap fasilitas energi Rusia.
Sejumlah kilang minyak menjadi sasaran.
Serangan tersebut menekan kapasitas pengolahan minyak Rusia dan memicu kekurangan bahan bakar di sejumlah wilayah negara itu.
Bagi Ukraina, kilang minyak mempunyai nilai strategis.
Industri minyak menjadi salah satu sumber penerimaan Rusia sekaligus memasok bahan bakar bagi aktivitas ekonomi dan militernya.
Kyiv selama ini menilai serangan terhadap fasilitas energi Rusia merupakan bagian dari upaya meningkatkan biaya ekonomi perang bagi Moskow.
Namun, dampaknya tidak berhenti di Rusia.
Ketika produksi dan ekspor produk minyak Rusia turun, pasokan diesel yang tersedia di pasar internasional ikut mengetat.
Negara lain kemudian mencari pasokan dari sumber alternatif.
Permintaan terhadap produk olahan Amerika Serikat pun meningkat.
Stok Solar AS Ikut Menipis
Data terbaru Energy Information Administration atau EIA menunjukkan tekanan yang semakin nyata terhadap persediaan bahan bakar distilat Amerika Serikat.
Distilat merupakan kelompok bahan bakar yang sebagian besar digunakan sebagai diesel.
EIA memperkirakan stok distilat AS akan turun di bawah 100 juta barel pada September 2026.
Persediaan bahkan diperkirakan tetap berada di bawah batas terendah rata-rata lima tahun hingga akhir 2026 dan sebagian besar 2027.
Pada pekan yang berakhir 4 September 2026, total stok distilat AS tercatat sekitar 106,27 juta barel.
Angka tersebut menunjukkan ruang cadangan pasar Amerika semakin sempit ketika permintaan ekspor tetap tinggi.
EIA menjelaskan tingginya ekspor AS terjadi setelah pasar kehilangan sebagian pasokan distilat dari Timur Tengah, Rusia dan China.
Kondisi itu membuat produsen AS memiliki insentif besar untuk menjual diesel ke pasar internasional karena harga global lebih tinggi.
Harga Diesel Tembus Rekor
Tekanan pasokan akhirnya menghantam konsumen Amerika Serikat.
Harga rata-rata diesel nasional menembus US$6 per galon pada September 2026.
Reuters mencatat harga tersebut melonjak hampir 60 persen sejak konflik Amerika Serikat dan Israel dengan Iran dimulai pada Februari.
Solar mempunyai pengaruh besar terhadap ekonomi AS.
Truk pengangkut barang menggunakan diesel.
Sebagian besar alat berat dan mesin pertanian juga bergantung pada bahan bakar tersebut.
Karena itu, kenaikan solar dapat dengan cepat masuk ke biaya angkutan, makanan, konstruksi hingga barang konsumsi.
Tekanan tersebut menjadi persoalan politik bagi pemerintahan Trump menjelang pemilu paruh waktu Amerika Serikat pada November 2026.
Bukan Hanya Ukraina
Meski Trump menyoroti serangan Ukraina terhadap Rusia, masalah diesel global tidak berasal dari satu faktor.
Gangguan pasokan dari Timur Tengah juga mempunyai pengaruh besar.
Konflik di kawasan Teluk telah mengurangi arus minyak dan produk olahan.
Gangguan terhadap jalur perdagangan dan produksi regional membuat pasokan global semakin sempit.
EIA bahkan secara langsung menyebut kehilangan pasokan dari Timur Tengah, Rusia dan China sebagai faktor yang meningkatkan kebutuhan ekspor distilat Amerika Serikat.
Artinya, serangan Ukraina terhadap kilang Rusia memang memperburuk kondisi pasar.
Namun, menjadikan perang Rusia-Ukraina sebagai satu-satunya penyebab kenaikan solar AS akan menyederhanakan persoalan.
Kremlin sendiri menyambut permintaan Trump kepada Ukraina.
Namun, Moskow berpendapat gejolak pasar energi dunia terutama dipicu konflik di kawasan Teluk Persia.
Trump Dorong Gencatan Serangan Energi
Perkembangan terbaru kemudian bergerak ke arah diplomasi energi.
Pada Senin (14/9/2026), Trump menyatakan Rusia dan Ukraina telah sepakat tidak menyerang infrastruktur energi masing-masing.
Namun, pernyataan itu belum langsung berarti kedua negara memiliki kesepakatan formal yang lengkap.
Zelensky mengatakan Ukraina bersedia mendukung penghentian serangan terhadap infrastruktur energi jika Amerika Serikat dapat memastikan Rusia benar-benar menjalankan kesepakatan secara timbal balik.
Kyiv tetap menuntut jaminan karena Rusia juga berulang kali menyerang sistem energi Ukraina selama perang.
Dengan demikian, isu diesel kini berubah menjadi salah satu titik baru diplomasi perang Rusia-Ukraina.
Serangan yang awalnya digunakan Kyiv untuk menekan ekonomi Rusia mulai menghasilkan konsekuensi yang lebih luas.
Ketika kilang Rusia terganggu, pasokan diesel global berkurang.
Saat pasokan dunia mengetat, Amerika Serikat meningkatkan ekspor.
Stok domestik AS kemudian ikut tertekan.
Pada akhirnya, harga diesel yang lebih mahal kembali dirasakan konsumen Amerika.
Situasi inilah yang membuat Trump kini memiliki kepentingan ekonomi domestik untuk mendorong penghentian serangan terhadap fasilitas energi Rusia.
















