Scroll untuk baca artikel
Enter

Disuruh Beli Mi, Lalu Meninggal: Serda Ahmad Diduga Dianiaya Senior, Keluarga Sempat Diberi Kabar Kecelakaan

×

Disuruh Beli Mi, Lalu Meninggal: Serda Ahmad Diduga Dianiaya Senior, Keluarga Sempat Diberi Kabar Kecelakaan

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Serda Ahmad Muzammil Farisa dan TNI Angkatan Udara
SERDA AHMAD — Ilustrasi Serda Ahmad Muzammil Farisa dengan latar TNI Angkatan Udara. Serda Ahmad meninggal dunia pada Kamis (10/9/2026) setelah diduga mengalami kekerasan di lingkungan TNI AU. Empat prajurit telah ditahan untuk menjalani proses penyidikan. (Foto: Ilustrasi/Jamlima.com)

  • Serda Ahmad Muzammil Farisa meninggal dunia, diduga mengalami kekerasan di Mess Psikologi Galaksi, Kompleks Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Kamis (10/9/2026).
  • Menurut keluarga, peristiwa bermula saat Serda Ahmad diminta membelikan mi untuk senior, namun pesanan yang dibawa disebut tidak sesuai.
  • Keluarga sempat mendapat kabar bahwa Serda Ahmad meninggal akibat kecelakaan, sebelum kemudian menerima informasi mengenai dugaan penganiayaan.
  • Empat prajurit TNI AU telah ditahan di Pusat Polisi Militer Angkatan Udara untuk menjalani penyidikan.

JAMLIMA.COM, JAKARTA —  Serda Ahmad Muzammil Farisa meninggal dunia setelah diduga mengalami kekerasan oleh seniornya di lingkungan TNI Angkatan Udara.

Peristiwa yang berujung kematian itu disebut keluarga bermula dari persoalan pesanan mi.

Serda Ahmad disebut diminta membelikan makanan berupa mi untuk senior.

Namun, mi yang dibawa tidak sesuai dengan pesanan.

Beberapa jam setelah rangkaian kejadian tersebut, Serda Ahmad meninggal dunia di Mess Psikologi Galaksi, Kompleks Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Kamis (10/9/2026).

Di tengah kabar duka tersebut, keluarga mengungkap hal lain yang menjadi perhatian.

Mereka mengaku awalnya diberi tahu bahwa Serda Ahmad meninggal akibat kecelakaan.

Informasi itu kemudian berubah setelah keluarga menerima keterangan lain mengenai dugaan penganiayaan.

Kini, empat prajurit TNI AU telah ditahan di Pusat Polisi Militer Angkatan Udara atau Puspomau untuk menjalani proses penyidikan.

Disuruh Beli Mi

Ayah Serda Ahmad, Toni Eko Prasetyo, mengungkap informasi yang diterima keluarga mengenai awal rangkaian kejadian sebelum putranya meninggal.

Menurut Toni, Serda Ahmad sebelumnya diminta membeli makanan oleh seniornya.

“Dari informasi yang saya dapat anak saya disuruh membeli makanan yang tidak sesuai permintaan senior. Mintanya mi goreng namun diberikan mi kuah,” kata Toni.

Keluarga kemudian mendapat informasi bahwa dugaan kekerasan terhadap Serda Ahmad terjadi dalam dua waktu berbeda.

“Info yang saya dapat ada dua kali waktu penganiayaan, yang pertama pukul 23.00 WIB dan yang kedua setelah itu dini harinya pukul 03.00 WIB,” ujar Toni.

Meski demikian, keterangan tersebut merupakan informasi yang diterima keluarga.

Kronologi hukum secara lengkap tetap menunggu hasil penyidikan Puspomau berdasarkan pemeriksaan saksi dan alat bukti.

Kabar Awal Kecelakaan

Keluarga mengaku tidak langsung mendapat informasi mengenai dugaan kekerasan.

Toni mengatakan dirinya awalnya dihubungi sekitar pukul 04.00 WIB dan diberi kabar bahwa Serda Ahmad meninggal akibat kecelakaan.

“Pukul 04.00 WIB saya dihubungi bahwa anak saya meninggal dunia karena kecelakaan,” ujar Toni.

Namun, keluarga kemudian mendapatkan informasi berbeda dari rekan korban yang mengarah pada dugaan penganiayaan oleh senior.

Perbedaan informasi mengenai penyebab kematian tersebut menjadi salah satu hal yang ingin diketahui keluarga secara terang melalui proses penyidikan.

Luka Dagu dan Dada

Keluarga juga mengungkap adanya luka pada tubuh Serda Ahmad berdasarkan foto yang mereka terima setelah kejadian.

“Luka di wajah bagian dagu dan bagian dada infonya,” kata Toni.

Meski demikian, keberadaan luka tersebut belum dapat digunakan untuk menyimpulkan penyebab kematian.

Hubungan antara luka yang ditemukan, dugaan tindakan kekerasan, dan meninggalnya Serda Ahmad tetap harus ditentukan berdasarkan hasil autopsi serta pemeriksaan penyidik.

Jenazah Serda Ahmad sempat menjalani autopsi di Jakarta sebelum dipulangkan ke rumah duka di Desa Jonggrang, Kecamatan Barat, Kabupaten Magetan, Jawa Timur.

Empat Prajurit Ditahan

Kasus kematian Serda Ahmad kini telah masuk proses penyidikan di lingkungan Puspomau.

Empat prajurit TNI AU yang diduga berkaitan dengan peristiwa tersebut telah ditahan untuk kepentingan penyidikan.

Keempat prajurit itu masing-masing berinisial Serda MTSA, Serda JM, Serda MAD, dan Serda AH.

Kepala Dinas Penerangan TNI AU Marsekal Pertama TNI I Nyoman Suadnyana membenarkan penahanan tersebut.

“Semua pelaku sudah ditahan di Puspomau untuk melaksanakan penyidikan,” kata Nyoman dalam keterangannya yang dikutip Senin (14/9/2026).

Penahanan menjadi perkembangan terbaru dalam penanganan perkara setelah sebelumnya Pomau memeriksa sejumlah personel, meminta keterangan saksi, serta mengumpulkan bukti untuk mengungkap rangkaian kejadian.

Pembinaan Berlebihan Diusut

TNI AU sebelumnya menyebut perkara yang menyebabkan Serda Ahmad meninggal sebagai dugaan “pembinaan berlebihan”.

TNI AU menyatakan berkomitmen mengusut kasus tersebut secara transparan dan mengungkap fakta berdasarkan hasil pemeriksaan serta alat bukti yang diperoleh penyidik.

Institusi itu juga memastikan tidak akan memberikan perlakuan khusus kepada prajurit yang terbukti melakukan pelanggaran.

“Prajurit yang terbukti terlibat akan dimintai pertanggungjawaban dan diproses sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku,” ujar Nyoman.

Dengan demikian, istilah penganiayaan yang disampaikan keluarga dan dugaan pembinaan berlebihan yang disampaikan TNI AU masih menjadi bagian dari perkara yang sedang diuji dalam proses hukum.

Keluarga Minta Keadilan

Keluarga meminta kematian Serda Ahmad diusut secara terbuka hingga seluruh rangkaian peristiwa terungkap.

Toni berharap proses hukum dapat menjawab penyebab pasti kematian putranya sekaligus menentukan pihak yang bertanggung jawab.

Keluarga juga meminta Presiden Prabowo Subianto, Kepala Staf Angkatan Udara, serta jajaran terkait memberikan perhatian terhadap penanganan perkara tersebut.

Bagi keluarga, proses hukum tidak hanya diperlukan untuk memperoleh keadilan bagi Serda Ahmad, tetapi juga untuk mencegah kekerasan serupa kembali terjadi di lingkungan militer.

Hingga perkembangan terbaru, empat prajurit telah ditahan di Puspomau untuk menjalani penyidikan.

Penyebab pasti kematian Serda Ahmad, konstruksi lengkap kejadian, serta pertanggungjawaban pidana masing-masing pihak masih menunggu hasil proses hukum.