Scroll untuk baca artikel
Internasional

Banjir Bandang Nepal-Tibet Tewaskan Sedikitnya 165 Orang, Ratusan Masih Hilang

×

Banjir Bandang Nepal-Tibet Tewaskan Sedikitnya 165 Orang, Ratusan Masih Hilang

Sebarkan artikel ini
Banjir bandang menerjang kawasan Nepal-Tibet
BANJIR NEPAL-TIBET -- Banjir bandang menerjang kawasan perbatasan Nepal-Tibet pada Rabu, (26/8/2026). Banjir tersebut bercampur lumpur dan material longsor menerjang kawasan pegunungan Nepal-Tibet. (foto/ist)

  • Banjir bandang melanda perbatasan Nepal-Tibet pada Rabu, (26/8/2026).
  • Sedikitnya 162 hingga 165 orang meninggal dunia dan ratusan lainnya masih hilang.
  • Bencana dipicu runtuhan gletser, es, batu, dan material longsor yang masuk ke aliran sungai.
  • Tim Nepal bersama bantuan internasional terus melakukan pencarian, evakuasi, dan penyaluran bantuan.

JAMLIMA.COM, JAKARTA  – Banjir bandang besar melanda kawasan perbatasan Nepal dan Tibet mulai Rabu, (26/8/2026).Bencana tersebut menerjang wilayah pegunungan Himalaya.

Kejadian setelah runtuhan es, batu, dan material gletser memicu aliran air bercampur lumpur dalam jumlah besar.

Hingga Kamis, (27/8), sedikitnya 162 hingga 165 orang dilaporkan meninggal dunia.

Sementara itu, ratusan orang lainnya masih hilang, termasuk wisatawan dan peziarah asing.

Mereka berada di sekitar jalur menuju kawasan Kailash Mansarovar, saat bencana.

Data korban masih berubah karena petugas belum dapat menjangkau seluruh wilayah terdampak.

Namun, sejumlah laporan juga memisahkan data korban di Nepal dan Tibet sehingga angka yang muncul berbeda.

Runtuhan Gletser Picu Banjir Mendadak

Banjir menerjang aliran Sungai Bhote Koshi dan sejumlah wilayah di Nepal.

Termasuk Rasuwa, Nuwakot, serta Dhading.

Sedangkan arus deras membawa lumpur, batu, bongkahan es, dan puing bangunan ke kawasan permukiman.

Rumah, kendaraan, jembatan, jalan, pasar, serta sejumlah fasilitas proyek dilaporkan rusak atau hanyut.

Beberapa wilayah juga mengalami gangguan komunikasi sehingga keluarga korban kesulitan memperoleh informasi.

Sejumlah laporan awal menyebutkan adanya gempa sebelum banjir terjadi.

Namun, analisis lanjutan United States Geological Survey (USGS) menyatakan, getaran tersebut kemungkinan berasal dari runtuhan gletser dan longsoran material, bukan gempa tektonik biasa.

USGS menyebut, getaran yang semula dilaporkan sebagai gempa.

“sebenarnya merupakan runtuhan gletser dan aliran material.” ungkap USGS, dalam laporan mengenai penyebab bencana di perbatasan Nepal-Tibet.

Ratusan Warga Asing Masih Hilang

Otoritas Nepal melaporkan, ratusan orang belum ditemukan setelah banjir menyapu kawasan perbatasan.

Sebagian korban hilang merupakan wisatawan dan peziarah yang sedang melakukan perjalanan menuju kawasan Tibet.

Laporan Reuters menyebut lebih dari 400 orang masih hilang di Nepal.

Di antara mereka terdapat warga negara India, Amerika Serikat, Australia, Inggris, dan Kanada.

Sebanyak 142 warga negara India dan 34 warga Australia, termasuk dalam daftar orang yang belum diketahui keberadaannya.

Pemerintah sejumlah negara kemudian berkoordinasi dengan Nepal untuk memastikan kondisi warganya.

Di wilayah Tibet, ratusan orang lain juga dilaporkan hilang.

Karena itu, jumlah keseluruhan korban hilang di Nepal dan Tibet masih terus diverifikasi oleh otoritas setempat.

Tim Penyelamat Dikerahkan

Pemerintah Nepal mengerahkan personel tentara, polisi, serta tim tanggap bencana untuk mencari korban dan mengevakuasi warga yang terjebak.

Helikopter digunakan untuk menjangkau daerah yang terisolasi akibat kerusakan jalan dan jembatan.

Sementara itu, petugas memprioritaskan evakuasi warga yang terluka, lansia, anak-anak, serta wisatawan yang berada di lokasi terdampak.

Selain itu, tim penyelamat juga menyiapkan tempat perawatan sementara dan distribusi bantuan dasar.

Namun, operasi pencarian menghadapi sejumlah kendala.

Karena, material longsor menutup akses darat, sementara cuaca dan ancaman banjir susulan memperlambat pergerakan petugas.

Perubahan aliran sungai juga meningkatkan risiko bagi permukiman di wilayah hilir.

Sementara itu, petugas meminta warga menjauhi bantaran sungai.

Kemudian, segera berpindah ke lokasi yang lebih tinggi apabila menerima peringatan evakuasi.

Bantuan Internasional Mengalir

India, Amerika Serikat, China, Perserikatan Bangsa-Bangsa, Palang Merah, serta sejumlah lembaga kemanusiaan ikut membantu penanganan bencana.

Amerika Serikat menjanjikan bantuan darurat senilai 500.000 dolar AS untuk mendukung operasi penyelamatan dan bantuan kemanusiaan.

India juga berkoordinasi dengan pemerintah Nepal untuk membantu warga negaranya yang terdampak.

Perdana Menteri Nepal Balendra Shah menyerukan ketenangan kepada masyarakat.

Ia menyatakan pemerintah bertanggung jawab terhadap proses penyelamatan, pengobatan, penyediaan makanan, dan tempat perlindungan bagi korban.

“Pemerintah mengambil tanggung jawab penuh untuk penyelamatan, perawatan, makanan, dan tempat tinggal,” ujarnya.

Risiko Banjir Susulan

Para ahli memperingatkan, kemungkinan banjir susulan karena masih terdapat material yang menyumbat aliran sungai di kawasan hulu.

Jika sumbatan tersebut jebol, air dan material longsor dapat kembali bergerak menuju permukiman di wilayah hilir.

Kondisi pegunungan Himalaya juga membuat proses pemantauan lebih sulit.

Perubahan suhu, pencairan es, serta ketidakstabilan lereng dapat meningkatkan risiko runtuhan gletser dan banjir bandang.

Bencana ini menunjukkan pentingnya sistem peringatan dini di kawasan pegunungan.

Masyarakat yang tinggal di sekitar sungai perlu memahami tanda-tanda bahaya, seperti:

  • Suara gemuruh dari hulu
  • Perubahan warna air
  • Kenaikan permukaan sungai secara cepat
  • Munculnya retakan tanah.

Hingga Kamis, 27 Agustus 2026, pencarian korban masih berlangsung.

Sedangkan, Jumlah korban meninggal dan orang hilang diperkirakan dapat bertambah setelah seluruh wilayah terdampak berhasil dijangkau.

Catatan Fakta Lapangan

Peristiwa ini bukan tsunami laut. Istilah “seperti tsunami” muncul karena arus banjir membawa gelombang lumpur, batu, es, dan air dalam volume besar secara tiba-tiba.

Secara ilmiah, bencana tersebut merupakan banjir bandang yang berkaitan dengan runtuhan gletser dan longsoran material.