Scroll untuk baca artikel
Sehat

Lonjakan Ebola di Kongo Tembus 7.258 Kasus, 3.510 Meninggal, Terbesar dalam Sejarah

×

Lonjakan Ebola di Kongo Tembus 7.258 Kasus, 3.510 Meninggal, Terbesar dalam Sejarah

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi penanganan wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo
WABAH EBOLA KONGO — Petugas kesehatan menangani pasien dan pemakaman korban Ebola di Republik Demokratik Kongo. Hingga Minggu (13/9/2026), pemerintah mencatat 7.258 kasus terkonfirmasi dengan 3.510 kematian. Wabah tersebut menjadi yang terbesar dalam sejarah Kongo. (Foto: Ilustrasi/Jamlima.com)

  • Republik Demokratik Kongo mencatat 7.258 kasus terkonfirmasi Ebola hingga Minggu (13/9/2026).
  • Sebanyak 3.510 orang meninggal dengan tingkat kematian sekitar 48,4 persen.
  • Wabah telah menjangkau 62 zona kesehatan di tujuh provinsi dan menjadi yang terbesar dalam sejarah Kongo.
  • Tren nasional mulai menurun, tetapi kasus di Kivu Utara masih meningkat dan menjadi perhatian WHO.

JAMLIMA.COM, KINSHASA — Wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo telah mencapai 7.258 kasus terkonfirmasi dengan 3.510 kematian.

Data tersebut menggambarkan situasi epidemiologi hingga Minggu (13/9/2026) dan diumumkan pemerintah Kongo pada Selasa (15/9/2026).

Selain ribuan kematian, sebanyak 1.726 pasien dinyatakan sembuh. Sekitar 905 pasien lainnya masih menjalani isolasi atau perawatan di rumah sakit.

Tingkat kematian atau case fatality rate tercatat sekitar 48,4 persen. Angka tersebut menunjukkan hampir separuh kasus terkonfirmasi berakhir dengan kematian.

Terbesar dalam Sejarah Kongo

Wabah Ebola saat ini menjadi yang terbesar yang pernah tercatat di Republik Demokratik Kongo.

WHO telah menyatakan status tersebut sejak 1 Agustus 2026. Saat itu, jumlah kasus masih berada di angka 3.605 dengan 1.587 kematian.

Dalam waktu sekitar satu setengah bulan, jumlah kasus kemudian meningkat hingga melampaui 7.200.

Secara global, wabah di Kongo saat ini menjadi epidemi Ebola terbesar kedua setelah wabah Afrika Barat pada 2014–2016.

Virus yang menyebabkan wabah kali ini merupakan Bundibugyo virus, salah satu jenis virus penyebab penyakit Ebola.

WHO menyatakan belum tersedia vaksin berlisensi maupun terapi spesifik untuk jenis Bundibugyo. Sejumlah kandidat vaksin dan pengobatan masih dalam tahap pengembangan dan pengujian.

Menyebar ke Tujuh Provinsi

Data pemerintah menunjukkan wabah telah menjangkau 62 zona kesehatan di tujuh provinsi.

Wilayah terdampak meliputi Ituri, Kivu Utara, Kivu Selatan, Haut-Uele, Bas-Uele, Tshopo, dan Sud-Ubangi.

Sud-Ubangi menjadi provinsi ketujuh yang melaporkan kasus setelah sebelumnya WHO mencatat enam provinsi terdampak pada pembaruan 10 September 2026.

Penularan berkelanjutan terutama masih terjadi di Ituri, Kivu Utara, dan Haut-Uele.

Kasus yang lebih sporadis tercatat di Tshopo dan Bas-Uele.

Ituri sebelumnya menjadi pusat utama wabah dan menyumbang sebagian besar kasus sejak epidemi berkembang sepanjang 2026.

Kivu Utara Masih Meningkat

Meski jumlah kumulatif kasus terus bertambah, perkembangan terbaru menunjukkan pola penularan yang berbeda di setiap wilayah.

Secara nasional, kurva epidemi mulai menunjukkan kecenderungan menurun setelah kasus harian mencapai puncak sekitar pertengahan Agustus.

Kepala Institut Kesehatan Masyarakat Nasional Kongo, Dieudonne Mwamba Kazadi, mengatakan tren secara keseluruhan mulai bergerak turun.

Namun, penurunan belum terjadi secara merata.

Kivu Utara masih mencatat peningkatan kasus.

Sekitar 555 kasus baru dilaporkan di wilayah tersebut dalam 21 hari terakhir.

Kondisi keamanan yang tidak stabil dan tingginya mobilitas penduduk turut menyulitkan pelacakan kontak serta upaya memutus rantai penularan.

WHO Belum Nyatakan Puncak Terlewati

WHO menilai perkembangan wabah masih perlu dipantau secara ketat.

Pejabat WHO Olivier Le Polain menyatakan masih terlalu dini untuk memastikan epidemi secara keseluruhan telah melewati puncaknya.

Sebagian wilayah memang mulai menunjukkan perbaikan.

Sebanyak 10 dari 62 zona kesehatan terdampak dilaporkan tidak mencatat kasus baru selama lebih dari 22 hari.

Situasi di Ituri juga mulai membaik dibandingkan periode sebelumnya.

Namun, peningkatan kasus di Kivu Utara membuat pengendalian wabah belum dapat dinyatakan selesai.

WHO juga memperingatkan bahwa konflik, perpindahan penduduk, keterbatasan akses layanan kesehatan, serta perjalanan melalui jalur perbatasan informal dapat meningkatkan risiko penyebaran virus ke wilayah lain.

Wabah Ebola Bundibugyo di Kongo masih berstatus darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional.

Dengan 7.258 kasus terkonfirmasi dan 3.510 kematian, perkembangan dalam beberapa pekan ke depan.

Hal ini menentukan apakah tren penurunan dapat bertahan atau penularan meningkat di wilayah yang masih aktif.