Scroll untuk baca artikel
Sehat

Duduk Terlalu Lama Tingkatkan Risiko Kematian, Studi Ungkap Ancaman bagi Jantung

×

Duduk Terlalu Lama Tingkatkan Risiko Kematian, Studi Ungkap Ancaman bagi Jantung

Sebarkan artikel ini
terlalu lama meningkatkan risiko kematian dan penyakit kardiovaskular
DUDUK TERLALU LAMA — Ilustrasi seorang pekerja duduk terlalu lama saat bekerja di depan komputer. Sejumlah penelitian menunjukkan kebiasaan duduk terlalu lama berkaitan dengan peningkatan risiko kematian dan penyakit kardiovaskular, terutama bila tidak diimbangi aktivitas fisik yang cukup. (foto/ilustrasi)

  • Terlalu lama duduk berkaitan dengan meningkatnya risiko kematian dan penyakit jantung.
  • Studi terhadap 481.688 orang menemukan risiko kematian 16 persen lebih tinggi pada pekerja yang banyak duduk.
  • Risiko kematian akibat penyakit kardiovaskular pada kelompok tersebut meningkat 34 persen.
  • Aktivitas fisik dan mengurangi waktu duduk dapat membantu menekan risikonya.

JAMLIMA.COM, JAKARTA — Kebiasaan duduk terlalu lama bukan hanya menyebabkan tubuh terasa kaku atau mudah lelah.

Sejumlah penelitian menunjukkan perilaku sedentari juga berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular hingga kematian.

Studi yang dipublikasikan dalam JAMA Network Open meneliti 481.688 orang dengan masa pemantauan rata-rata hampir 13 tahun.

Hasil penelitian menemukan orang yang sebagian besar duduk saat bekerja memiliki risiko kematian dari semua penyebab sekitar 16 persen.

Artinya lebih tinggi dibanding mereka yang sebagian besar tidak duduk saat bekerja.

Risiko kematian akibat penyakit kardiovaskular bahkan tercatat sekitar 34 persen lebih tinggi.

Selama masa penelitian, tercatat 26.257 kematian.

Sebanyak 5.371 di antaranya berkaitan dengan penyakit kardiovaskular.

Namun, peneliti menemukan hasil berbeda pada orang yang bergantian antara duduk dan tidak duduk selama bekerja.

Kelompok tersebut tidak mengalami peningkatan risiko kematian yang berarti dibanding mereka yang lebih sedikit duduk.

Waspada Duduk Delapan Jam atau Lebih

Temuan serupa muncul dalam penelitian yang diterbitkan JAMA Cardiology.

Penelitian itu melibatkan 105.677 orang berusia 35 hingga 70 tahun dari 21 negara.

Peserta dipantau dengan median waktu 11,1 tahun.

Peneliti mencatat 6.233 kematian dan 5.696 kejadian kardiovaskular utama selama periode tersebut.

Orang yang duduk minimal delapan jam sehari memiliki risiko kematian sekitar 20 persen.

Atau lebih tinggi dibanding mereka yang duduk kurang dari empat jam sehari.

Risiko mengalami kejadian kardiovaskular utama juga sekitar 21 persen lebih tinggi.

Penelitian juga melihat hubungan antara lama duduk dan tingkat aktivitas fisik.

Hasilnya, orang yang duduk minimal delapan jam sehari memiliki risiko kematian dan penyakit kardiovaskular sekitar 17 hingga 50 persen lebih tinggi.

Besarnya risiko berbeda sesuai tingkat aktivitas fisik masing-masing peserta.

Semakin aktif seseorang bergerak, semakin rendah peningkatan risiko yang terlihat dalam penelitian tersebut.

Bukan Umur Berkurang 17 Persen

Angka 17 persen perlu dipahami dengan tepat.

Risiko yang meningkat 17 persen bukan berarti seseorang akan meninggal 17 persen lebih cepat.

Atau seseorang akan kehilangan 17 persen masa hidupnya.

Angka itu menunjukkan perbedaan risiko antara kelompok dengan pola duduk dan tingkat aktivitas fisik tertentu.

Penelitian tersebut juga bersifat observasional.

Artinya, hasilnya menunjukkan hubungan, bukan membuktikan bahwa duduk menjadi satu-satunya penyebab kematian.

Faktor lain seperti usia, penyakit penyerta, aktivitas fisik, berat badan, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, dan kondisi metabolik juga dapat memengaruhi risiko.

Risiko Perilaku Sedentari

WHO mendefinisikan perilaku sedentari sebagai aktivitas dengan pengeluaran energi rendah saat duduk, bersandar, atau berbaring dalam kondisi terjaga.

Contohnya antara lain bekerja lama di depan komputer, mengemudi, dan menonton televisi.

WHO menyebut perilaku sedentari yang tinggi berkaitan dengan meningkatnya risiko kematian, penyakit kardiovaskular, kanker, dan diabetes tipe 2.

Karena itu, WHO menganjurkan orang dewasa melakukan aktivitas aerobik intensitas sedang selama 150–300 menit per minggu.

Aktivitas ini bisa dilakukan melalui jalan kaki, bersepeda, pekerjaan rumah, atau aktivitas fisik saat bekerja.

Aktivitas Fisik Menekan Risiko

Temuan penelitian menunjukkan masalah utama bukan sekadar posisi duduk.

Durasi duduk yang panjang dan rendahnya aktivitas fisik menjadi kombinasi yang perlu mendapat perhatian.

Studi JAMA Cardiology menunjukkan peningkatan aktivitas fisik dapat memperlemah hubungan antara duduk terlalu lama dengan risiko kematian dan penyakit kardiovaskular.

Sementara itu, penelitian JAMA Network Open menemukan pekerja yang bergantian duduk dan berdiri.

Yakni, tidak mengalami peningkatan risiko kematian yang sama dengan mereka yang sebagian besar terus duduk.

Temuan tersebut menunjukkan pentingnya mengurangi waktu duduk dan lebih aktif bergerak setiap hari.

Pekerja yang banyak duduk di depan meja dapat mulai dengan langkah sederhana.

Seperti lebih sering berdiri, berjalan, atau melakukan peregangan di sela waktu kerja