Prevalensi stunting di Kabupaten Gowa disebut turun dari sekitar 33 persen pada 2022 menjadi 21,1 persen pada 2023.
Angka itu kembali menurun hingga berada di kisaran 17 persen.
Menurut Andy, capaian tersebut merupakan hasil kerja bersama banyak pihak.
Kolaborasi itu melibatkan pemerintah daerah, tenaga kesehatan, organisasi profesi, kader kesehatan, dan masyarakat.
“Capaian ini merupakan hasil kolaborasi seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah daerah, tenaga kesehatan, organisasi profesi, kader kesehatan, hingga masyarakat,” ungkapnya.
Meski menunjukkan tren positif, Pemkab Gowa menilai pekerjaan belum selesai.
Penguatan layanan kesehatan anak tetap membutuhkan kerja lintas sektor yang konsisten.
Khususnya dalam menjaga keberlanjutan program imunisasi, pencegahan infeksi, perbaikan gizi, dan pemantauan tumbuh kembang anak.
Baca Juga: Prevalensi Stunting Terendah di Sulsel, Gowa Raih Dua Penghargaan
IDAI Sulsel Perkuat Sinergi
Ketua IDAI Cabang Sulawesi Selatan, dr Idham Jaya Ganda, mengatakan IDAI memiliki komitmen untuk membangun kebersamaan dengan pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan.
















