Scroll untuk baca artikel
Lokal

Riau Dekati Ageing Population, BPS Catat Lansia Capai 8,65 Persen

×

Riau Dekati Ageing Population, BPS Catat Lansia Capai 8,65 Persen

Sebarkan artikel ini
Kepala BPS Riau Asep Riyadi memaparkan hasil SUPAS 2025 tentang dinamika kependudukan Riau
KEPENDUDUKAN — Kepala BPS Riau Asep Riyadi memaparkan hasil SUPAS 2025 yang mencatat penduduk Riau mencapai 6,82 juta jiwa dan persentase lansia sebesar 8,65 persen, Selasa (5/5/2026). Riau masih memiliki usia produktif dominan, tetapi mulai mendekati fase ageing population. (foto/ist)

JAMLIMA.COM, PEKANBARU — Provinsi Riau mulai menghadapi tantangan baru dalam struktur kependudukannya. Badan Pusat Statistik atau BPS mencatat persentase penduduk lanjut usia di Riau sudah mencapai 8,65 persen.

Angka itu menempatkan Riau dalam posisi mendekati fase ageing population atau penuaan penduduk. Temuan tersebut menjadi salah satu poin penting dalam Hasil Survei Penduduk Antar Sensus atau SUPAS 2025.

Kepala BPS Riau, Asep Riyadi, mengatakan kondisi demografi Riau terus berubah. Jumlah penduduk provinsi itu kini mencapai 6,82 juta jiwa, naik dari 5,54 juta jiwa pada Sensus Penduduk 2010.

“Provinsi Riau saat ini hampir memasuki fase ageing population dengan persentase lansia sebesar 8,65 persen,” ujar Asep Riyadi, Selasa (5/5/2026).

Meski tanda penuaan penduduk mulai terlihat, Riau masih memiliki kekuatan besar pada kelompok usia produktif. Penduduk usia produktif tercatat mencapai 68,69 persen dari total populasi.

Rasio ketergantungan Riau berada pada angka 45,58 persen pada 2025. Artinya, setiap 100 penduduk usia produktif menanggung sekitar 46 penduduk usia nonproduktif.

“Rasio ketergantungan mencapai 45,58 persen. Meski meningkat, angka ini masih menunjukkan bahwa Riau berada dalam fase bonus demografi,” jelasnya.

Bonus Demografi Masih Terbuka

Asep menjelaskan, pertumbuhan penduduk Riau dalam beberapa tahun terakhir tidak lagi secepat periode sebelumnya. Dalam lima tahun terakhir, rata-rata laju pertumbuhan penduduk tercatat 1,34 persen per tahun.

“Penduduk Provinsi Riau tumbuh melambat dengan rata-rata laju pertumbuhan sebesar 1,34 persen per tahun dalam lima tahun terakhir,” ujarnya.

Dari sisi kelahiran, Angka Kelahiran Total atau Total Fertility Rate Riau tercatat 2,21. Angka ini mendekati replacement level, yakni tingkat kelahiran yang dapat menjaga keseimbangan jumlah penduduk.

Kondisi kesehatan penduduk juga menunjukkan perbaikan. Angka Kematian Bayi atau Infant Mortality Rate terus menurun hingga berada pada angka 13,28.

Perubahan demografi Riau juga terlihat dari mobilitas penduduk. Sebagian besar wilayah di provinsi tersebut menjadi daerah tujuan migrasi.

Kabupaten Kampar mencatat migrasi risen neto tertinggi sebesar 7,33. Sebaliknya, Kota Pekanbaru mencatat migrasi neto negatif terbesar sebesar minus 8,41.

“Sebagian besar kabupaten di Riau menjadi tujuan migrasi, dengan Kampar mencatat angka tertinggi, sementara Pekanbaru mengalami migrasi neto negatif,” ungkap Asep.

Dari komposisi jenis kelamin, penduduk laki-laki di Riau tercatat 3,47 juta jiwa atau 51,04 persen. Sementara itu, penduduk perempuan sebanyak 3,33 juta jiwa atau 48,96 persen.

Rasio jenis kelamin sebesar 104 menunjukkan terdapat 104 laki-laki untuk setiap 100 perempuan.

Secara generasi, penduduk Riau masih didominasi kelompok muda. Generasi Z menjadi kelompok terbesar dengan porsi 26,70 persen, disusul generasi milenial sebesar 24,77 persen.

“Kedua kelompok ini mencakup hampir separuh populasi, menandakan besarnya potensi tenaga kerja produktif di masa depan,” ungkapnya.

Asep menegaskan, hasil SUPAS 2025 dapat menjadi dasar penting bagi pemerintah dalam menyusun kebijakan pembangunan berbasis kependudukan.

“Hasil SUPAS 2025 ini memberikan gambaran komprehensif tentang dinamika demografi Riau yang dapat menjadi dasar dalam perencanaan pembangunan ke depan,” tutupnya.

Penggunaan data Badan Pusat Statistik juga menjadi rujukan penting dalam membaca arah pembangunan daerah secara lebih terukur.