- Reuters melaporkan Iran diduga akan menerima hingga 400 rudal pertahanan udara buatan Tiongkok.
- Donald Trump mengaku terkejut dan menyatakan akan kecewa jika laporan tersebut terbukti benar.
- Tiongkok membantah tuduhan memasok senjata ke Iran dan menegaskan tetap mendorong penyelesaian konflik melalui diplomasi.
JAMLIMA.COM, INTERNSIONAL – Laporan eksklusif Reuters yang terbit Rabu, (29/7/2026), mulai memicu perhatian dunia.
Hal tersebut, setelah mengungkap dugaan bahwa Iran akan segera menerima ratusan rudal pertahanan udara panggul (MANPADS) buatan Tiongkok.
Informasi tersebut langsung memancing reaksi Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengaku terkejut.
Karena sebelumnya telah memperoleh jaminan langsung dari Presiden Xi Jinping bahwa Beijing tidak akan mempersenjatai Teheran.
Meski demikian, hingga kini belum ada konfirmasi resmi dari pemerintah Iran maupun Tiongkok bahwa transaksi tersebut benar-benar telah terlaksana.
Beijing justru membantah laporan tersebut dan menegaskan tetap mendorong penyelesaian konflik melalui jalur diplomatik.
Iran Bersiap Terima Hingga 400 Rudal Buatan Tiongkok
Menurut laporan Reuters yang mengutip tiga sumber yang mengetahui isi kesepakatan, Iran diperkirakan akan menerima 300 hingga 400 unit rudal pertahanan udara panggul (MANPADS) dalam beberapa pekan ke depan.
Sistem yang disebut masuk dalam kontrak tersebut meliputi rudal QW-12 dan FN-16, dengan nilai transaksi diperkirakan mencapai US$60–70 juta.
Laporan itu menyebut pengadaan dilakukan melalui perusahaan berbasis Hong Kong, Zhongqing Baoshang International Investment.
Perusahaan ini yang disebut menjadi perantara antara pemasok di Tiongkok dan pihak Iran.
Rencana pengiriman disebut akan melalui Urumqi, Tiongkok barat, sebelum transit melalui Pakistan menuju Iran.
Namun, Reuters menegaskan jadwal maupun jumlah akhir pengiriman masih dapat berubah.
Selain sistem pertahanan udara, Reuters juga melaporkan Iran masih menjajaki pembelian rudal anti-kapal dari Tiongkok.
Hal ini sebagai bagian dari upaya memperkuat kemampuan militernya pascakonflik dengan Amerika Serikat dan Israel.
Trump: Saya Percaya Xi Jinping
Sebelum laporan Reuters diterbitkan, Jumat, 24 Juli 2026, Donald Trump menyatakan Presiden Xi Jinping telah memberikan jaminan bahwa Tiongkok tidak akan menjual senjata kepada Iran.
Trump mengatakan melalui Truth Social bahwa komitmen tersebut juga berlaku bagi seluruh perusahaan asal Tiongkok.
“President Xi… told me that he would not, under any circumstances, give or sell weapons to the Islamic Republic of Iran,” tulis Donald Trump melalui Truth Social.
Trump juga menyebut Presiden Rusia Vladimir Putin telah memberikan komitmen serupa.
“If they did, it would be very bad for them—certainly not in their best interests,” tulis Trump.
Trump Terkejut Usai Laporan Reuters
Setelah Reuters mempublikasikan laporan dugaan pengiriman rudal tersebut pada 29 Juli 2026, Trump kembali dimintai tanggapan oleh wartawan di Gedung Putih.
Ia mengaku kabar tersebut mengejutkan mengingat hubungan komunikasinya dengan Xi Jinping.
“Well, that would be surprising. He (Xi) told me very strongly he wouldn’t partake, but he knows I’d be quite disappointed,” kata Trump.
Pernyataan tersebut menunjukkan Washington belum mengonfirmasi kebenaran laporan Reuters.
Namun memandang isu tersebut sebagai perkembangan yang sangat serius.
Tiongkok Bantah Tuduhan
Pemerintah Tiongkok langsung membantah laporan Reuters.
Kementerian Luar Negeri Tiongkok menyebut informasi tersebut “sepenuhnya tidak berdasar” dan menegaskan Beijing selama ini berperan mendorong perdamaian serta penghentian konflik di Timur Tengah.
Sementara itu, juru bicara Kementerian Pertahanan Tiongkok Jiang Bin mengatakan dirinya belum mengetahui informasi mengenai dugaan transaksi tersebut.
Pakistan Ikut Membantah
Karena disebut sebagai jalur transit pengiriman, militer Pakistan juga mengeluarkan bantahan resmi.
Otoritas militer Pakistan menegaskan kabar negaranya menjadi jalur distribusi senjata dari Tiongkok menuju Iran merupakan spekulasi yang tidak benar.
Amerika Terus Perketat Tekanan terhadap Iran
Di tengah berkembangnya isu tersebut, pemerintahan Trump juga terus meningkatkan tekanan terhadap Iran.
Pada 15 Juli 2026, Departemen Keuangan Amerika Serikat mengumumkan sanksi baru terhadap jaringan internasional.
Khususnya yang dituduh membantu pengadaan persenjataan Iran.
Sanksi itu melengkapi kebijakan sebelumnya terhadap sejumlah individu maupun perusahaan, termasuk beberapa entitas yang berbasis di Tiongkok dan Hong Kong.
















