- Basarnas memperpanjang operasi pencarian lima jurnalis bersama tiga awak/pemandu Arupadhatu 1 selama tiga hari hingga Kamis (17/9/2026).
- Keputusan diambil setelah operasi hari ketujuh, Senin (14/9/2026), masih belum menemukan speedboat maupun delapan orang yang dicari.
- Polda Banten memastikan tiga life jacket, dua terpal, dan satu galon yang ditemukan hari keenam tidak berkaitan dengan Arupadhatu 1.
- Satu jasad laki-laki yang ditemukan di Pulau Enggano, Bengkulu, masih menjalani pencocokan DNA dengan keluarga yang masih dicari.
JAMLIMA.COM, PANDEGLANG — Pencarian lima jurnalis bersama dua awak speedboat dan seorang pemandu yang hilang di perairan Selat Sunda resmi diperpanjang selama tiga hari.
Keputusan tersebut diambil Tim SAR Gabungan setelah operasi hari ketujuh berakhir tanpa menemukan speedboat Arupadhatu 1 maupun delapan orang yang berada di dalamnya.
Kepala Kantor SAR Banten Al Amrad mengatakan perpanjangan dilakukan berdasarkan evaluasi operasi dan hasil rapat Tim SAR Gabungan pada Senin (14/9/2026).
“Hasil evaluasi operasi SAR yang hari ketujuh yang kita laksanakan masih nihil, dan hasil rapat Tim SAR Gabungan kita akan lanjutkan pencarian selama tiga hari ke depan,” kata Al Amrad.
Dengan keputusan tersebut, operasi pencarian berlanjut hingga Kamis (17/9/2026).
Di tengah perpanjangan operasi, muncul perkembangan lain yang kini diperiksa kepolisian.
Polda Banten masih menunggu hasil tes DNA terhadap jasad seorang laki-laki yang ditemukan di Pulau Enggano, Bengkulu. Hingga hasil pemeriksaan keluar, jasad tersebut belum dapat dikaitkan dengan delapan orang dari Arupadhatu 1.
Tiga Hari Tambahan
Operasi SAR sebelumnya memasuki batas awal tujuh hari pada Senin.
Namun, pencarian hari ketujuh masih belum menghasilkan penemuan korban maupun speedboat.
Tim SAR kemudian memutuskan memberikan tambahan waktu tiga hari.
Al Amrad mengatakan seluruh unsur akan kembali melakukan pencarian terhadap delapan orang yang hilang di sekitar perairan Gunung Anak Krakatau dan Selat Sunda.
Gubernur Banten Andra Soni mengatakan operasi SAR memang dapat diperpanjang berdasarkan pertimbangan tertentu.
“Waktu pencarian tertera tujuh hari, namun dapat diperpanjang atas beberapa sebab, salah satunya atas permintaan keluarga dan juga permintaan dari pemerintah daerah setempat,” ujar Andra.
Pemerintah Provinsi Banten meminta Basarnas, Polda Banten, Lanal Banten, dan seluruh unsur terkait mengoptimalkan pencarian selama masa tambahan tersebut.
Hari Ketujuh Nihil
Sebelum keputusan perpanjangan, operasi hari ketujuh dilakukan dalam cakupan yang lebih luas.
Tim SAR memperluas keseluruhan area pencarian menjadi sekitar 6.649 nautical mile persegi.
Sekitar 4.586 NM² merupakan sektor pencarian laut, sementara sekitar 2.063 NM² digunakan untuk pencarian udara.
Sebanyak 18 kapal dan satu helikopter dilibatkan dalam operasi.
Namun hingga Senin sore, belum ditemukan tanda keberadaan delapan orang maupun Arupadhatu 1.
Pencarian juga dilakukan melalui sejumlah sektor yang menjangkau perairan Banten hingga Lampung.
Tim sebelumnya memperkuat penyisiran di Sektor X, salah satu kawasan yang paling banyak menghasilkan benda terapung selama operasi.
Temuan Dinyatakan Bukan
Polda Banten juga mengumumkan perkembangan penting mengenai barang yang ditemukan pada hari keenam.
Kabidhumas Polda Banten Kombes Pol Maruli Hutapea memastikan tiga life jacket, dua terpal, dan satu galon air yang ditemukan Tim SAR tidak berkaitan dengan Arupadhatu 1.
“Temuan di hari keenam, tiga jaket pelampung, dua buah terpal, satu galon air. Dari hasil pendalaman dan pencocokan dipastikan bahwa objek yang ditemukan ini tidak berkaitan dengan teman-teman dari speed boat Arupadhatu 1,” kata Maruli.
Kesimpulan itu menambah daftar benda terapung yang sebelumnya telah diperiksa dan dieliminasi sebagai petunjuk langsung.
Pada hari-hari sebelumnya, life jacket, pelampung putih, jeriken biru, helm merah, serta beberapa benda lain juga telah diperiksa.
Hasil pemeriksaan menunjukkan barang-barang tersebut bukan perlengkapan Arupadhatu 1.
Jasad Terate Teridentifikasi
Polisi juga memeriksa penemuan sesosok jasad di sekitar muara Sungai Kali Terate, Kramatwatu.
Polda Banten memastikan jasad tersebut bukan salah satu dari delapan orang yang dicari.
Kesimpulan diperoleh melalui pencocokan data primer.
“Dari hasil data primer dipastikan bahwa mayat tersebut bukan dari teman-teman yang hilang kontak dari kapal speed boat Arupadhatu 1,” ujar Maruli.
Dengan demikian, penemuan jasad di Kramatwatu telah dieliminasi dari rangkaian petunjuk pencarian Arupadhatu 1.
Jasad Enggano Diperiksa
Berbeda dengan jasad di Kramatwatu, satu jasad yang ditemukan di Pulau Enggano, Bengkulu, masih menjalani pemeriksaan.
Polda Banten menyatakan jenazah tersebut telah dievakuasi dari Pulau Enggano menggunakan pesawat menuju Polda Bengkulu.
Jenazah menjalani autopsi pada Senin (14/9/2026).
Kepolisian kemudian mengambil langkah pencocokan DNA dengan keluarga delapan orang yang hilang.
“Kita akan melakukan pencocokan. Kami mohon waktu untuk bisa menjelaskan setelah keluar hasil cek DNA dari Polda Bengkulu,” kata Maruli.
Berdasarkan koordinasi awal dengan Polda Bengkulu, jenazah tersebut berjenis kelamin laki-laki.
Tinggi badan diperkirakan sekitar 165 sentimeter dengan usia lebih dari 50 tahun.
Namun, ciri-ciri tersebut belum cukup untuk menentukan identitas.
Status jasad itu tetap belum terverifikasi berkaitan dengan Arupadhatu 1 hingga hasil pemeriksaan DNA selesai.
Delapan Orang Dicari
Arupadhatu 1 membawa delapan orang ketika hilang kontak dalam perjalanan menuju kawasan Gunung Anak Krakatau pada Senin (7/9/).
Lima orang merupakan jurnalis.
Mereka adalah M. Bagus Khoirunnas dari ANTARA, Ari Basuki dari Merdeka, Yudistiro Pranoto dari iNews, Firman Daus dari Anadolu, dan Donal Husni yang merupakan jurnalis lepas.
Tiga orang lainnya adalah Warta selaku nakhoda, Surakman sebagai anak buah kapal, dan Heriyanto sebagai pemandu.
Sejak operasi dimulai, tim telah menggunakan unsur laut, udara, pencarian darat, penyisiran pulau, hingga evaluasi pergerakan arus.
Namun sampai berakhirnya hari ketujuh, belum ada bagian speedboat yang teridentifikasi sebagai Arupadhatu 1.
Pencarian Tetap Dilanjutkan
Perpanjangan tiga hari membuat operasi memasuki fase baru mulai Selasa (15/9).
Basarnas bersama TNI AL, Polri, pemerintah daerah, dan unsur SAR lainnya akan kembali mengevaluasi sektor pencarian berdasarkan hasil penyisiran sebelumnya.
Gubernur Banten meminta seluruh unsur memaksimalkan tambahan waktu pencarian.
“Kita maksimalkan dan kemudian kita berupaya untuk bisa menemukan saudara-saudara kita,” kata Andra Soni.
Hingga Senin malam (14/9), belum ada konfirmasi resmi mengenai penemuan Arupadhatu 1 maupun satu pun dari delapan orang yang dicari.
Satu perkembangan yang masih ditunggu adalah hasil pencocokan DNA terhadap jasad laki-laki yang ditemukan di Pulau Enggano.
















