Scroll untuk baca artikel
Lokal

Konflik Ujung Bori Kembali Pecah setelah Ricuh Konstatering Juli, 5 Warga Dilaporkan Terkena Busur

×

Konflik Ujung Bori Kembali Pecah setelah Ricuh Konstatering Juli, 5 Warga Dilaporkan Terkena Busur

Sebarkan artikel ini
Bentrok dua kelompok di Ujung Bori Makassar menyebabkan satu orang terkena anak panah dan sepeda motor rusak
BENTROK UJUNG BORI — Aparat kepolisian mengamankan lokasi bentrokan dua kelompok di kawasan Ujung Bori, Makassar, Rabu (9/9/2026). Kericuhan menyebabkan adanya warga terkena anak panah dan satu sepeda motor rusak. (foto/ist)

  • Konflik di Jalan Ujung Bori, Makassar, kembali pecah pada Rabu (9/9/2026), setelah kericuhan konstatering lahan pada 21 Juli 2026.
  • Dua kelompok terlibat saling serang menggunakan batu, anak panah busur, petasan hingga bom molotov.
  • Seorang warga menyebut lima orang terkena busur dan satu bayi dilarikan ke rumah sakit karena diduga terdampak gas air mata.
  • Sengketa berkaitan dengan klaim penguasaan lahan antara warga dan PT Aditarina Arispratama yang telah berlangsung selama beberapa tahun.

JAMLIMA.COM, MAKASSAR — Konflik di Jalan Ujung Bori, Kecamatan Manggala, Kota Makassar, kembali pecah setelah kericuhan konstatering lahan pada Juli 2026.

Dua kelompok terlibat bentrokan pada Rabu (9/9/2026) sekitar pukul 11.00 WITA.

Massa saling serang menggunakan batu, anak panah busur, petasan hingga bom molotov.

Jalan Ujung Bori sempat diblokade sehingga kendaraan tidak bisa melintas.

Kapolrestabes Makassar Kombes Arya Perdana mengatakan, kericuhan bermula saat sekelompok orang datang ke lokasi.

Mereka disebut hendak membantu pemasangan papan bicara, tetapi mendapat penolakan dari warga.

“Tadi ada organisasi kemasyarakatan (ormas) yang hendak masuk ke lokasi, kemungkinan untuk membantu pemasangan papan bicara. Namun, situasi saat itu tidak memungkinkan sehingga warga menolak,” kata Arya, Rabu (9/9/2026).

Penolakan tersebut kemudian berkembang menjadi bentrokan.

Arya membenarkan terjadi pelemparan anak panah busur dan batu.

Sebuah kendaraan juga terbakar saat kericuhan berlangsung.

Polisi kemudian turun untuk memisahkan kedua kelompok.

Aparat menembakkan gas air mata ketika massa belum membubarkan diri.

Polisi juga mendapat perlawanan berupa lemparan batu saat melakukan pengamanan.

Setelah kericuhan mereda, polisi melakukan penyisiran di sekitar lokasi.

Petugas menemukan dan mengamankan sejumlah barang, termasuk anak panah busur, petasan dan bom molotov.

Setidaknya satu sepeda motor terlihat hangus terbakar di lokasi bentrokan.

Warga Terkena Busur

Sejumlah warga dilaporkan mengalami luka dalam bentrokan tersebut.

Namun, hingga perkembangan terakhir yang dihimpun, jumlah korban belum diumumkan secara resmi oleh kepolisian.

Seorang warga bernama Jafar menyebut lima warga Kompleks Kodam lama terkena anak panah busur.

“Ada 5 warga kompleks Kodam lama yang kena busur pak,” kata Jafar.

Bentrok tersebut menyebabkan seorang bayi dilarikan ke rumah sakit karena diduga terdampak gas air mata saat polisi membubarkan massa.

Informasi mengenai lima korban terkena busur dan kondisi bayi tersebut masih berdasarkan keterangan warga.

Laporan lain mencatat sedikitnya empat orang terluka dan dua sepeda motor terbakar dalam kericuhan.

Perbedaan data itu menunjukkan jumlah korban dan kerusakan masih perlu menunggu konfirmasi resmi dari aparat.

Bentrok Juli 2026

Bentrokan terbaru bukan kericuhan pertama yang terjadi di kawasan Ujung Bori.

Pada Selasa (21/7/2026), ketegangan juga pecah ketika petugas Badan Pertanahan Nasional (BPN) mendatangi kawasan Perumahan Aditarina

Kawasan tersebut adalah wilayah eks Kompleks Kodam lama.

BPN datang untuk melakukan konstatering terhadap objek lahan.

Petugas yang datang sekitar pukul 09.30 WITA mendapat penolakan dari warga.

Warga kemudian memblokade akses Jalan Borong Raya-Ujung Bori.

Bambu dipasang sebagai penghalang jalan, sementara ban dibakar di sekitar titik blokade.

Sehingga Kendaraan terpaksa mencari jalur alternatif.

Situasi selanjutnya berubah menjadi kericuhan.

Petugas mendapat lemparan batu, petasan hingga anak panah busur ketika mencoba memasuki kawasan tersebut.

Dengan demikian, bentrokan 9 September 2026 terjadi hanya sekitar satu setengah bulan setelah kericuhan konstatering pada 21 Juli 2026.

Sengketa Lahan Bertahun-tahun

Persoalan di Ujung Bori berakar pada perbedaan klaim mengenai penguasaan dan kepemilikan lahan.

Warga mengaku telah bermukim di kawasan eks Kompleks Kodam sejak sekitar awal 1990-an.

Kuasa hukum warga, Sandi Pajri, sebelumnya mengatakan sebagian warga telah tinggal di kawasan tersebut selama sekitar 30 tahun.

Ketua RW setempat, Randi Qadri, juga mengatakan warga mulai menempati kawasan itu sekitar 1993.

Menurut versi warga, sebagian lahan diperoleh melalui transaksi dengan pihak yang saat itu menguasai atau menjaga lokasi.

Warga mulai mempersoalkan klaim PT Aditarina setelah perusahaan tersebut kembali menyatakan hak atas kawasan tersebut beberapa tahun terakhir.

Namun, keterangan tersebut merupakan versi warga dan tidak dapat dijadikan kesimpulan mengenai siapa pemilik sah tanah.

Penjelasan Pihak Aditarina

Pihak PT Aditarina Arispratama mempunyai versi berbeda mengenai status lahan dan pihak yang datang pada Rabu.

Penerima kuasa PT Aditarina, Nasrul Manca, mengatakan orang-orang yang hendak masuk ke kawasan tersebut bertindak sebagai penerima kuasa perusahaan.

Ia menyebut kedatangan mereka bertujuan melakukan sosialisasi sekaligus memasang papan bicara.

“Pada prinsipnya kami menghargai pernyataan Kapolres tentang itu, tapi harus dijelaskan kami penerima kuasa,” kata Nasrul.

Nasrul juga mengklaim PT Aditarina membeli lahan tersebut sejak 1993 dan membantah bahwa status tanah merupakan sengketa.

Klaim tersebut merupakan keterangan pihak perusahaan dan berbeda dengan posisi warga yang mempertahankan penguasaan atas kawasan tersebut.

Perbedaan klaim inilah yang membuat penyelesaian melalui proses hukum menjadi penting.

Sementara itu, polisi masih melakukan pengamanan di sekitar Jalan Ujung Bori setelah bentrokan berhasil dibubarkan.

Arus lalu lintas yang sebelumnya terputus juga kembali dibuka pada Rabu sore.

Aparat tetap berada di lokasi untuk mencegah terjadinya bentrokan susulan.