JAMLIMA.COM, MEDAN — Gubernur Sumatera Utara, Muhammad Bobby Afif Nasution, membidik penguatan kerja sama dengan Belanda untuk sektor pangan dan energi.
Fokus itu dibahas saat Bobby menerima kunjungan Wakil Kepala Misi Kedutaan Besar Kerajaan Belanda di Jakarta, Adriaan Palm, di Kantor Gubernur Sumut, Jalan Diponegoro Nomor 30, Medan, Selasa, (12/5/2026).
Pertemuan tersebut tidak hanya membahas hubungan diplomatik. Pemprov Sumut ingin kerja sama dengan Belanda diarahkan pada sektor yang berdampak langsung terhadap ekonomi daerah.
Bobby menilai ketahanan pangan menjadi agenda penting pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Karena itu, Sumut sebagai salah satu daerah penghasil pangan perlu memperkuat produksi dan pengolahan hasil pertanian.
Sumut Dorong Pengolahan Pangan
Bobby berharap Belanda dapat menjadi mitra dalam memperkuat rantai produksi pangan di Sumut.
Menurutnya, kerja sama tidak cukup berhenti pada peningkatan produksi. Pengolahan hasil pangan juga perlu diperkuat agar memberi nilai tambah bagi daerah dan masyarakat.
Ia menyebut Sumut memiliki potensi besar sebagai daerah penghasil pangan. Potensi itu harus diikuti dengan kemampuan mengolah komoditas agar lebih bernilai secara ekonomi.
Selain pangan, Bobby juga menyoroti peluang kerja sama di sektor energi.
Salah satu yang dibahas adalah pengembangan waste to energy atau pengolahan sampah menjadi energi. Bobby menyebut kerja sama sebelumnya terkait produksi gas dari sampah belum berjalan maksimal.
Karena itu, Pemprov Sumut ingin kerja sama tersebut diperkuat kembali agar bisa memberi manfaat nyata bagi masyarakat.
Belanda Buka Peluang Investasi
Bobby juga berharap investasi dari Belanda ke Sumut terus meningkat.
“Kita terus berupaya mempermudah investasi,” kata Bobby.
Menurutnya, kemudahan investasi penting untuk menciptakan iklim usaha yang lebih kondusif di Sumatera Utara.
Sementara itu, Adriaan Palm menyampaikan bahwa Sumut memiliki posisi penting bagi Belanda, terutama dalam hubungan ekonomi, pendidikan, dan budaya.
Ia menyebut penguatan kerja sama perlu menjaga tiga hal utama, yakni keberlanjutan, kualitas, dan reliabilitas.
Pertemuan itu turut dihadiri Konsul Kehormatan Belanda di Medan, Firsal Ferial Mutyara, bersama sejumlah jajaran.
Kerja sama Sumut dan Belanda tidak hanya memperkuat hubungan bilateral, tetapi juga membuka peluang investasi baru di sektor pangan, energi, dan pengembangan ekonomi daerah.
Pada 2025, Sumatera Utara menunjukkan tren positif di sektor pangan melalui surplus produksi padi, beras, dan cabai merah. Kondisi ini memperkuat posisi Sumut sebagai salah satu lumbung pangan utama yang menopang stabilitas harga.
Pemerintah memproyeksikan produksi padi Sumut pada 2025 mencapai 2,75 juta ton gabah kering giling atau GKG. Capaian ini didukung perluasan tanam padi dan pengembangan hortikultura.
















