JAMLIMA.COM, PALEMBANG — Gubernur Sumatera Selatan, Herman Deru, menghadiri Dharma Santi Nyepi 2026 di Pura Sriwijaya, Kamis (2/4/2026).
Kehadiran ini menegaskan komitmen pemerintah menjaga kerukunan antarumat beragama.
Selanjutnya, Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan terus mendorong kehidupan beragama yang harmonis di tengah masyarakat yang beragam.
Pada momentum tersebut, Dharma Santi Nyepi 2026 mempererat silaturahmi. Kegiatan ini juga memperkuat toleransi antarumat beragama di Sumatera Selatan.
Sumsel Zero Conflict
Pada kesempatan itu, Herman Deru menyampaikan rasa bangga atas kondisi daerah yang tetap kondusif.
Menurutnya, Sumatera Selatan dikenal sebagai wilayah “zero conflict”. Perbedaan menjadi kekuatan dalam menciptakan kedamaian.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa keberagaman merupakan modal utama dalam membangun harmoni di tengah masyarakat.
“Keberagaman menjadi solusi dalam membangun harmoni. Kita patut bangga karena adat dan budaya tetap terjaga,” ujarnya.
Selain itu, ia menekankan bahwa Nyepi tidak hanya bermakna bagi umat Hindu. Perayaan ini juga menjadi refleksi untuk menjaga kedamaian dan mempererat persatuan.
Pengukuhan Pengurus
Di sisi lain, Pengawas Persatuan Adat Bali Sumatera Selatan, I Gusti Bagus Suryanegara, menjelaskan makna Dharma Santi. Ia menyebut kegiatan ini bagian dari rangkaian Nyepi.
Menurutnya, nilai Dharma Santi mencakup keharmonisan manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam.
Sementara itu, Gubernur mengukuhkan pengurus Perkumpulan Adat Bali Sumatera Selatan periode 2025–2028. Gubernur menetapkan I Made Sutama sebagai ketua.
Dengan demikian, kegiatan ini memperkuat toleransi di tengah masyarakat. Upaya ini sekaligus menjaga Sumatera Selatan tetap aman dan kondusif.
Sebagai penutup, acara ini juga dihadiri Kapolda Sumsel Shandi Nugroho, Kajati Sumsel Ketut Sumedana, serta Wali Kota Palembang Ratu Dewa.
















