Scroll untuk baca artikel
Lokal

Cakupan Imunisasi Kalbar Baru 55,9 Persen, 99 Ribu Anak Belum Pernah Divaksin

×

Cakupan Imunisasi Kalbar Baru 55,9 Persen, 99 Ribu Anak Belum Pernah Divaksin

Sebarkan artikel ini
asisten setda kalbar anthonius rawing berbicara tentang imunisasi
IMUNISASI KALBAR — Asisten I Setda Provinsi Kalimantan Barat Y. Anthonius Rawing. Pemprov Kalbar menyoroti rendahnya cakupan imunisasi anak di daerah tersebut. (foto/ist)

JAMLIMA.COM, PONTIANAK — Cakupan imunisasi di Kalimantan Barat masih rendah. Data menunjukkan capaian baru mencapai 55,9 persen, jauh dari target nasional 80 persen.

Kondisi ini membuat ribuan anak rentan terhadap penyakit berbahaya. Bahkan, sekitar 99.000 anak di Kalbar belum pernah mendapatkan imunisasi sama sekali atau masuk kategori zero-dose.

Data tersebut disampaikan dalam pertemuan strategis imunisasi yang digelar Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat di Pontianak, Jumat (17/4/2026).

Cakupan Rendah, Risiko KLB Meningkat

Kepala Dinas Kesehatan Kalbar dr. Erna Yulianti menjelaskan, rendahnya cakupan imunisasi meningkatkan risiko Penyakit yang Dapat Dicegah dengan Imunisasi (PD3I).

Penyakit tersebut meliputi campak, difteri, pertusis, hingga polio. Jika tidak ditangani, kondisi ini dapat memicu Kejadian Luar Biasa (KLB).

Baca juga: Imunisasi Campak Sinjai Baru 59,04%, Sekda Perintahkan Sweeping 1×24 Jam

Asisten I Setda Kalbar Y. Anthonius Rawing menegaskan pemerintah membutuhkan strategi baru. Pendekatan harus melibatkan tenaga kesehatan, tokoh masyarakat, dan sektor lain.

“Kita butuh inovasi lapangan dan strategi lintas sektor untuk mengejar target,” tegasnya.

99 Ribu Anak Zero-Dose Jadi Sorotan

Kementerian Kesehatan mencatat Kalimantan Barat masuk 10 besar provinsi dengan jumlah anak zero-dose tertinggi di Indonesia.

Sebagai respons, Pemprov Kalbar menjalankan program imunisasi kejar di wilayah prioritas melalui imunisasi nasional.

Program ini dilakukan di 670 posyandu pada Kota Pontianak, Singkawang, dan Kabupaten Kubu Raya.

Direktur CDC Indonesia dr. Rebecca Merrill menyebut tantangan utama berasal dari kondisi geografis dan misinformasi di masyarakat.

Ia menekankan pentingnya peran tokoh masyarakat dan tokoh agama dalam meningkatkan kepercayaan terhadap imunisasi.

Rendahnya cakupan imunisasi bukan hanya persoalan kesehatan, tetapi juga ancaman serius bagi generasi mendatang jika tidak segera ditangani secara terintegrasi.