JAMLIMA.COM, SEMARANG — Jumlah koperasi di Jawa Tengah mencapai 19.022 unit dengan total anggota 6,8 juta orang dan aset menembus Rp60,13 triliun berdasarkan data terbaru yang dirilis di Semarang.
Data ini menunjukkan skala besar jumlah koperasi Jawa Tengah yang terus berkembang, baik dari sisi kelembagaan maupun kontribusi ekonomi.
Di balik capaian itu, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menegaskan satu hal: manfaat koperasi harus benar-benar dirasakan masyarakat.
Menurutnya, koperasi tidak cukup hanya menjadi wadah ekonomi. Lebih dari itu, peran anggota koperasi Jateng harus diperkuat agar mampu mendorong pertumbuhan usaha secara nyata.
“Koperasi harus hadir sebagai penggerak utama kesejahteraan masyarakat, terutama untuk mendorong pelaku usaha mikro agar bisa naik kelas,” ujar Luthfi.
Ia menambahkan, pengurus baru memiliki peran penting dalam mengoptimalkan potensi besar, termasuk pengelolaan aset koperasi Jawa Tengah yang telah mencapai puluhan triliun rupiah.
“Pengurus telah terbentuk. Dengan adanya pengurus yang baru ini, rekan-rekan bisa mewarnai, agar koperasi di Jateng jadi cikal bakal kemakmuran masyarakat,” katanya.
Pernyataan tersebut disampaikan saat Pengukuhan Pimpinan Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin) Wilayah Provinsi Jawa Tengah, sekaligus dalam Rapat Kerja Wilayah 2026 di Wisma Perdamaian, Semarang, Selasa (14/4/2026).
Baca juga: Kelola Rp3 Miliar, Koperasi Wanita Maiwa Tembus Empat Dekade
Aset dan Anggota
Berdasarkan data Dinas Koperasi dan UKM, Jawa Tengah memiliki 19.022 koperasi aktif.
Total anggotanya lebih dari 6,8 juta orang.
Dari sisi ekonomi, total aset koperasi mencapai Rp60,13 triliun.
Volume usaha tercatat Rp43,78 triliun.
Sementara imbal hasil kepada anggota mencapai Rp1,16 triliun.
Selain itu, program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) juga terus dikembangkan.
Totalnya mencapai 8.523 unit di Jawa Tengah.
Dari jumlah itu, sebanyak 6.271 unit telah beroperasi.
Sebanyak 1.466 unit sudah memiliki gerai fisik.
Gerai tersebut menjadi pusat aktivitas ekonomi masyarakat.
Luthfi berharap Koperasi Merah Putih bisa bergerak lebih cepat.
Terutama dalam memperkuat ekonomi desa.
Ke depan, koperasi ini diharapkan menjadi pusat distribusi logistik.
Sekaligus lumbung pangan lokal.
“Ini penting karena merupakan penguatan ekonomi di desa,” katanya.
Dalam kesempatan yang sama, Dekopinwil Jawa Tengah juga didorong lebih aktif.
Perannya mencakup transformasi SDM dan digitalisasi.
Selain itu, penguatan usaha, jaringan, serta advokasi koperasi juga menjadi fokus.
“Jadikan koperasi sebagai gerakan bersama membangun kesejahteraan dan keadilan,” ujar Luthfi.
Baca juga: Pemkab Takalar Perkuat Ekonomi Nelayan
Sementara itu, Menteri Koperasi Ferry Juliantono menegaskan pentingnya sinergi pusat dan daerah.
Menurutnya, Dekopinwil Jawa Tengah harus sejalan dengan Kementerian Koperasi.
“Amanah ini menjadi tidak ringan, karena Dekopin adalah satu tarikan napas yang harus sama dengan Kemenkop,” ujarnya.
Ferry menyebut Jawa Tengah termasuk daerah yang menonjol.
Terutama dalam percepatan pembentukan badan hukum KDKMP.
Ia menilai, penguatan koperasi harus masuk tahap yang lebih konkret.
Termasuk mendorong kolaborasi usaha yang berdampak langsung.
Salah satunya dengan memprioritaskan produk UMKM lokal.
Agar masuk ke gerai koperasi desa dan kelurahan.
Selain itu, koperasi juga didorong masuk ke sektor produksi kebutuhan harian.
Termasuk pascaproduksi agar efek ekonominya lebih luas.
“Kita bisa belajar buat sabun, sampo, detergen, sampai sambal sendiri. Itu bisa menghidupkan industri kecil dan mendorong pertumbuhan ekonomi di Jateng,” ujar Ferry.
Ia menambahkan, langkah tersebut bisa menjadi solusi berbagai persoalan ekonomi masyarakat.
Ferry berharap Dekopinwil Jawa Tengah menjadi contoh koperasi modern.
Yang manfaatnya benar-benar dirasakan luas oleh masyarakat.

























