JAMLIMA.COM, INTERNASIONAL — Otoritas Israel menutup kompleks Masjid Al-Aqsa selama enam hari berturut-turut hingga Kamis (5/3). Kebijakan ini memicu kecaman luas karena membatasi kebebasan beribadah umat Islam di situs suci tersebut.
Gerakan perlawanan Palestina Hamas menilai kebijakan itu sebagai pelanggaran terhadap kebebasan beribadah. Mereka menyebut langkah Israel bukan sekadar kebijakan keamanan, melainkan bagian dari upaya memperkuat kendali atas kompleks Masjid Al-Aqsa.
Penutupan Masjid Al-Aqsa
Otoritas Israel menutup akses jamaah Palestina ke kompleks masjid dengan alasan status darurat dan konflik regional. Kebijakan itu membuat jamaah tidak dapat memasuki area masjid dan melaksanakan ibadah.
Akibatnya, umat Islam tidak bisa menunaikan shalat Magrib, Isya, hingga Tarawih di Masjid Al-Aqsa selama bulan Ramadan.
Para pengamat menilai kebijakan tersebut sebagai tekanan terhadap kesucian Masjid Al-Aqsa dan hak umat Muslim untuk menjalankan ibadah.
Dinamika Politik Kawasan
Sejumlah pengamat mengaitkan penutupan kompleks masjid dengan dinamika politik regional. Ketegangan di Timur Tengah yang melibatkan Israel, Amerika Serikat, dan Iran pemantik yang turut mempengaruhi kebijakan tersebut.
Dalam perspektif tersebut, pembatasan akses ke Al-Aqsa akan menjadi bagian dari strategi jangka panjang. Dimana akan bertujuan membatasi kehadiran Muslim di kompleks masjid.
Kebijakan itu juga dinilai berkaitan dengan penguatan permukiman Israel dan proses Yudaisasi di Yerusalem.
Seruan Dunia Islam
Hamas memperingatkan bahwa kebijakan tersebut berpotensi memperburuk ketegangan di kawasan.
Mereka menegaskan warga Palestina akan terus mempertahankan kehadiran di sekitar Masjid Al-Aqsa serta menolak upaya apa pun yang dapat mengosongkan atau mengubah status tempat suci tersebut.
Respons juga datang dari berbagai lembaga keagamaan dan nasional Palestina di Yerusalem Timur. Mereka menyerukan kepada warga Palestina untuk meningkatkan kehadiran di kota tersebut dan di sekitar Masjid Al-Aqsa.
Seruan itu juga ditujukan kepada masyarakat Arab dan dunia Islam agar tidak tinggal diam.
Bagi umat Islam, Masjid Al-Aqsa memiliki makna mendalam sebagai kiblat pertama dan masjid tersuci ketiga setelah Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.
Peristiwa ini kembali mengingatkan dunia bahwa konflik di kawasan tersebut tidak hanya berkaitan dengan politik dan wilayah, tetapi juga menyentuh dimensi spiritual yang sangat sensitif bagi jutaan orang.

























