Namun, posisi Iran masih hati-hati. Teheran selama ini membantah sedang mengejar senjata nuklir dan menyatakan program nuklirnya digunakan untuk kepentingan sipil.
Kementerian Luar Negeri Iran menyebut perbedaan dengan Amerika Serikat memang mulai berkurang.
Tetapi masih ada isu penting yang perlu dibahas melalui mediator.
Pakistan menjadi salah satu mediator utama dalam proses ini.
Kepala militer Pakistan, Asim Munir, telah bertemu pejabat tinggi Iran dalam rangkaian pembicaraan untuk mendorong penghentian perang.
Baca juga: Konflik Timur Tengah Memanas, Pemerintah RI Evakuasi Bertahap WNI dari Iran
Belum Damai Final
Perkembangan 17–24 Mei menunjukkan perang Iran-AS tidak lagi berada pada fase serangan terbuka besar setiap hari.
Konflik kini bergeser menjadi perang tekanan, negosiasi, dan ancaman serangan ulang.
Trump sebelumnya menunda serangan baru terhadap Iran karena negosiasi disebut masih berjalan serius.
Iran di sisi lain tetap memperingatkan bahwa serangan baru Amerika Serikat akan dibalas lebih keras.
Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf bahkan menyebut respons Iran akan lebih kuat jika perang dimulai kembali.
Dengan kondisi itu, kalimat paling aman adalah: Iran dan Amerika Serikat mendekati kerangka kesepakatan damai, tetapi belum mencapai perjanjian final.
Selat Hormuz, sanksi minyak, blokade pelabuhan, dan program nuklir Iran masih menjadi empat isu utama yang menentukan apakah perang benar-benar berakhir atau kembali meledak.
















