JAMLIMA.COM, KUANTAN SINGINGI — Operasi besar terhadap PETI Kuansing mengguncang wilayah ini. Aparat memusnahkan 1.167 rakit tambang ilegal dalam penindakan sejak awal 2026.
Langkah tegas ini dipimpin Wakapolda Riau, Brigjen Hengki Haryadi. Penindakan menyasar 210 titik tambang ilegal yang selama ini merusak lingkungan secara masif.
Skala operasi ini menunjukkan PETI Kuansing bukan lagi pelanggaran kecil. Aktivitas ini telah menjadi ancaman serius bagi ekosistem dan kehidupan masyarakat.
Sungai Kuantan Tertekan Aktivitas PETI
Brigjen Hengki menegaskan, aktivitas PETI telah merusak aliran Sungai Kuantan yang menjadi sumber hidup warga.
Ia menjelaskan, pendekatan yang digunakan tidak hanya penegakan hukum, tetapi juga strategi green policing.
Pendekatan ini menggabungkan tindakan represif, pencegahan, dan edukasi agar kerusakan lingkungan dapat dihentikan.
“Tidak ada ruang bagi pelaku perusakan lingkungan. Ini soal masa depan daerah,” tegasnya.
Selain menghancurkan alat tambang, polisi juga memutus jalur logistik pelaku.
Sebanyak 4,5 ton solar subsidi disita karena diduga digunakan untuk operasional PETI. Dua pelaku penyelundupan BBM turut diamankan.
Direktur Reskrimsus Polda Riau, Kombes Ade Kuncoro Ridwan, menyebut 29 kasus berhasil diungkap dengan total 54 tersangka.
Data ini menunjukkan jaringan PETI Kuansing berjalan secara terorganisir dan luas.
Libatkan Adat, Dorong Efek Jera
Penanganan PETI kini juga melibatkan lembaga adat dan Dubalang.
Pendekatan ini dinilai efektif karena menyentuh kesadaran masyarakat.
Dalam norma adat, merusak lingkungan termasuk pelanggaran berat.
Bupati Kuantan Singingi, Suhardiman Amby, mendukung langkah tersebut.
Ia menilai penanganan PETI harus menyentuh aspek sosial dan ekonomi.
“Penegakan hukum harus dibarengi solusi agar masyarakat tidak kembali ke aktivitas ilegal,” ujarnya.
Ke depan, fokus tidak hanya pada penindakan. Pemerintah dan aparat juga menyiapkan langkah pemulihan lingkungan.
Restorasi sungai dan lahan rusak menjadi prioritas agar Sungai Kuantan kembali berfungsi bagi generasi mendatang.

























