JAMLIMA.COM, NTT — Kematian seorang murid kelas IV SD di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, menyisakan luka yang sulit dijelaskan dengan angka.
Seorang anak 10 tahun diduga mengakhiri hidupnya karena tak mampu membeli buku tulis dan pena seharga kurang dari Rp10.000.
Kita mungkin terbiasa membaca angka triliunan dalam berita anggaran, tetapi kali ini yang gagal ditebus hanyalah selembar buku dan sebatang pena.
Ironinya menampar. Di tengah rencana belanja negara untuk berbagai program bernilai ratusan triliun, ada anak yang tak sanggup mengakses kebutuhan belajar paling dasar. Perdebatan soal prioritas anggaran memang kompleks.
Namun tragedi ini menyederhanakan semuanya: pendidikan bukan sekadar gedung sekolah atau seragam, tetapi juga akses nyata terhadap alat belajar.
Hak itu tidak berhenti di pintu sekolah. Ia harus hadir sampai pada buku tulis, pena, dan rasa aman seorang anak untuk bermimpi tanpa dihantui rasa malu atau beban ekonomi.
Alarm Dunia Pendidikan
Kemiskinan bukan hanya soal kurang uang. Ia bisa menggerus harga diri, menumbuhkan rasa tersisih, dan membuat seseorang merasa suaranya tak didengar.
Pada anak-anak, dampaknya lebih dalam: tekanan psikologis yang mungkin tak terlihat oleh orang dewasa.
Kasus YBS di Ngada seharusnya menjadi alarm keras. Evaluasi kebijakan pengentasan kemiskinan dan pendidikan gratis bukan lagi soal wacana, melainkan urgensi.
Negara tidak boleh hanya hadir dalam narasi besar program, tetapi absen pada kebutuhan kecil yang menentukan masa depan seorang anak.
Keadilan sosial tak akan pernah benar-benar berdiri tegak jika buku tulis masih terasa mewah bagi keluarga miskin.
Tragedi ini mengingatkan kita: ukuran kemajuan bangsa bukan pada seberapa besar anggaran yang digelontorkan.
Akan tetapi pada seberapa kecil celah yang kita biarkan hingga menelan masa depan anak-anak kita.
















